Senin, 04 Februari 2008

Sesaat Ketika Kota Telah Mati


Sesaat ketika kota telah mati. Hanya lampu jalanan yang bersinar redup menemani penjual nasi goreng di pinggir jalan. Sesekali lampu-lampu penerang toko yang dibiarkan menyala membuat warna kota menjadi beragam; merah, biru, kuning, bahkan hijau. Namun, di seberang jalan, masih kudengar sayup-sayup deru mesin pembangun gedung berputar mengaduk semen dan material lainnya. Terus mengaduk di gulita hari karena dipacu waktu yang tak telah disepakati dalam selembar kertas perjanjian; seolah tak mau berkompromi.
Sesaat ketika kota telah mati. Tak kudengar bunyi berisik penanda kehidupan. Tak pula terdengar bunyi jangkrik seperti tertulis dalam dongeng tentang indahnya kehidupan desa. Saat itu semua hilang; berbaur dengan keremangan pikir yang liar. Mata masih belum mau terpejam; meski hati sudah telelap, terlena oleh kematian kota. Dan sesaat ketika kotaku telah mati tak lagi kucium wangi perempuan, yang kucium hanyalah wangi shampo dari ujung rambutku sendiri. Tak kulihat rangkaian kata-kata sahabatku, yang meluncur, melesat, menukik, atau kadang berhenti di tengah terpaan zaman. Tak kuendus kampusku yang selalu ramai dan membawa cerita tersendiri.
Waktu seolah berjalan lambat di malam hari. Saat itu, waktu tak banyak berarti. Ia hanyalah sekumpulan detik, menit, dan jam, yang bercampur dengan aroma kelelahan manusia ibukota. Tak banyak yang bisa dilakukan. Oleh karenanya, itulah yang selalu dijelaskan ibu mengapa ketika kecil aku dibiasakan tidur di malam hari, dan bangun di kala subuh. Tuhan juga tak memperdengarkan seruan-Nya di malam gulita, baru esok subuhnya kudengar lagi lewat pancang pengeras suara di masjid. Malam melahirkan kesepian bagi manusia-manusia yang mencoba terbangun.
Lalu apa yang bisa dipetik dari sebuah malam? Kesepian, ketakbergunaan, atau kesuraman? Sesaat aku mengamati alur rel kereta api yang ada di stasiun, tak jauh dari tempat tinggalku. Biasanya, di pagi, siang dan sore hari, rel ini tak pernah berhenti digilas ribuan manusia yang berkumpul dalam gerbong panas tujuan Jakarta-Bogor. Lalu di malam ini, rel itu hanya terbujur dingin, tak terjamah roda-roda kereta api. Waktu telah melingkar dalam diri manusia; mencengkeram kokoh, hingga manusia berlari seperti dikejar waktu. Tak heran jika di tiap pagi, siang, dan sore mereka berpacu mengejar kereta api. Namun, di malam hari seolah kesibukan itu lenyap.
Waktu terus bergerak, mengikat manusia, menjadikan manusia budak waktu. Namun, ternyata di malam hari ini kutemukan kesan lain. Justru waktu di malam hari yang akan mebebaskan manusia. Malam hari membebaskan manusia dari ketakutan tidak bisa mengejar kereta untuk pergi ke kampus seperti waktu perkuliahan yang telah ditetapkan. Malam hari membebaskan manusia dari kecemasan untuk ingin segera pulang memeluk anggota keluarga. Malam hari membebaskan manusia dari kejaran deadline tugas yang menjemukan.
Ya, di malam hari kita bisa mengungkapkan dan berekspresi tanpa terjamah waktu. Seolah takkan berakhir.
Sesaat ketika kota telah mati. Aku menemukan kedamaian dalam kesepian. Aku menemukan waktu-waktu yang perawan, bergerak leluasa tanpa dicampuri kegelisahan peradaban. Mungkin itu pula yang melanda orang-orang di sekelilingku yang telah terpekur dalam pelukan guling. Mereka damai setelah seharian diintervensi waktu. Sesaat ketika kota telah mati. Hawa malam kini bisa membebaskan dirinya, dari partikel-partikel pekat yang mengandung karbon. Hawa malam berhembus tenang, seperti ia menghempaskan daun-daun dengan sangat perlahan. Tak ada lagi intervensi waktu yang rumit arahan modernitas.
Night will set you free. Ya ‘kan?

margonda, dua puluh satu april dini hari

1 komentar:

fandy-go-blog mengatakan...

Waaaaaaah, Junoo menuliss cerpen. ternyata bisa juga ya, kereen. 70% curhat sih, ha3x. Terbayang sang Juno yang kecapean pulang kerja, jenuh, tak ada tempat mengadu, aduh aduh aduh, ga bs tidur trus nulis tulisan ini deh,hi5X. Ya bukan cerpen juga keliatannya, waaaaaah maaf klo salah, soalnya udh lebih dr 2 thn gw ga nulis2 kaya ginian, jd udah pada lupa aspek2nya. Tp klo mau jd cerpen sih rasanya harus diperkuat faktor alur dan konfliknya,ehm. Tp what the hell, tulisan model kaya gini sih bebaaaaaaas mau diapain jg. sippp deh bang Juno.