Senin, 04 Februari 2008

Einstein, Nietzsche, dan Waktu


Time is the One Essential Mystery...
- Jorge Luis Borges

Borges memang tidak familiar bagi saya. Yang saya tahu, ia cuma penulis asal Argentina yang seangkatan dengan Milan Kundera, novelis kondang asal Ceko itu. Namun quote Borges di atas menginspirasikan pada beberapa hal, misalnya menyibak teori relativitas Einstein. Dalil utama Einstein mengenai relativitas waktu, bila ditelisik lebih jauh menyiratkan makna bahwa waktu itu bukan sesuatu yang linier, waktu itu siklikal atau berulang. Ini jadi mengingatkan saya pada konsep waktu a la orang India yang memang benar-benar relatif. Jam tiga sore tidak dimaknai sama bagi setiap orang. Pemaknaan yang sangat humanis? Mungkin. Logika ini mungkin sangat bertabrakan antara sains yang kaku dan pasti serta humaniora yang relatif. Namun, Einstein pun pasti tidak asal-asalan menciptakan teori tentang waktu. Sembilan puluh sembilan kali ia melakukan eksperimen sehingga menghasilkan rumus e=mc2.
Dengan pemaknaan relativitas waktu ini, tak aneh jika pemikiran postmodern Nietzche bisa masuk ke dalamnya. Sekadar mengingatkan, ketidaklinieran waktu hampir sama dengan ketidaklinieran ilmu pengetahuan khas posmo. Ketidaklinieran waktu ini juga membuat adanya sesuatu yang dapat balik, atau reinkarnasi. Tidak ada sesuatu yang abadi, karena sesuatu itu terlahir berulang. Musik misalnya. Tak ada satu bentuk orisinalitas tertentu yang lahir dari periode ke periode. Transformasi dari classic metal, heavy metal-nya Sepultura dan Metallica, kemudian beranjak ke hip metal pada akhir 1990-an, bukan menunjukkan kalau karya-karya Korn atau Slipknot adalah karya yang benar-benar baru dan tak terbantahkan orisinalitasnya. Mengutip Indra Lesmana, musik, menurut dia hanya perpaduan antara satu nada ke nada berikutnya sehingga tidak menutup kemungkinan bakal terjadi pengulangan.
Pemikiran tentang relativitas waktu ini mengusik saya melihat kembali hukum Newton yang diajarkan di bangku SMU dulu: tidak ada energi yang dapat diciptakan atau dimusnahkan, yang ada energi itu hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Hey, bukankah ini hampir mirip dengan pemikiran Einstein tentang relativitas? Segala sesuatu tidak lenyap, namun menghablur dalam ruang dan waktu. Wah, sebuah eternal return? Akan ada kekekalan sebagaimana hukum kekekalan energi? Ini berarti, dalam tahap yang paling ekstrim mungkin, meniscayakan adanya reinkarnasi. Yup, reinkarnasi yang berarti dapat baliknya ruh seseorang ke dunia ini. Lagi-lagi alam pikir saya begitu kecil, pertanyaan-pertanyaan tentang reinkarnasi ini mendekati batas nalar saya.
Namun setidaknya dari hal itu, ternyata waktu tak sekadar dimaknai sebagai jam dinding merk Seiko yang berdentang di ruang tamu. Atau tak hanya diartikan sebagai pembatas antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lainnya. Waktu, dalam semangat Einstein dan Nietzche, bisa berarti banyak hal. Tidak ada justifikasi waktu dari seorang pengamat yang independen, begitu kata Einstein. Secara simpel, dalam dunia nyata, adanya waktu yang tidak bisa dipastikan ini, terlihat misalnya ketika kita hendak berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dua kondisi yang berbeda bisa membuat waktu yang ditempuh berbeda, walaupun secara matematik jarak antara dua tempat itu sama. Berjalan bersama teman dan mengobrol di jalan membuat waktu tempuh menjadi singkat. Lain halnya jika kita menempuh perjalanan itu sendirian. Beda ‘kan?
Lantas, kearifan apa yang bisa kita ambil dari pemikiran Kang Einstein ini? Paul Tillich, seorang filsuf dan teolog, melukiskannya seperti ini: Time is our destiny. Time is our despair, and time is the mirror in which we see eternity. Jika disambungkan ke logika Nietzschenian waktu bukanlah topeng kehidupan. Waktu bukanlah simbol yang meraja di dunia simbol ini. Waktu adalah sebuah esensi. Waktu juga bukanlah jaminan absolut, ia adalah sesuatu yang relatif. Mungkin kita bisa berkaca pada waktu: sebuah keabadian yang tak terjamah.
Francis Fukuyama bisa saja berkata, “Inilah akhir dari sejarah manusia: kemenangan demokrasi liberal dan kapitalisme”. Namun, sejatinya waktu jualah yang menjawab apakah hegemoni AS dapat terus bertahan atau justru menipis seiring dengan resistensi dari kelompok pinggiran. Kita bisa “bohong” pada orang-orang dengan menyiasati fisik yang mulai menua, namun waktu tidak berbohong untuk mengatakan berapa usia kita. Kita bisa tertawa dalam pembangunan berwajah kapitalisme, namun time will tell, kerusakan atau dampak apa yang akan ditimbulkan di kemudian hari.
Menyaksikan waktu sebagai sebuah tujuan akhir memang sangat menarik. Kita ditempatkan seperti Nostradamus atau Jayabaya, futurolog yang bisa meramal masa depan. Yang jelas, akan banyak sekali prediksi-prediksi dari berbagai sudut pandang mengenai dunia ini. Namun, tanpa harus ikut meramal, kita sudah bisa asyik melihat tren dari waktu ke waktu yang terus menggeliat; entah itu tren pemikiran, musik, gaya hidup, yang terus dimodifikasi. Terus berputar dan ber-reinkarnasi. Sampai waktu benar-benar berakhir.


Referensi :
Paul Halpern, Time Journey: A Search for Cosmic Destiny and Meaning, New York: Mc Graw Hill, 1990
Time and Man, Oxford: Pergamon Press, 1978
Paul Davies, About Time: Einstein Unfinished Revolution, New York: Touchstone Book, 1995

4 komentar:

fandy-go-blog mengatakan...

Syukurlah tidak seperti 'Jelaga Tak Bertepi', ha5X. Asik juga lu nyambungin tulisan kaya gini ke perkembangan musik metal, walaupun sebenernya gw ga sepenuhnya ngerti inti tulisan lu, whahahaha. Maaf ya, tingkat intelektualitas gw udh menurun drastis. Tapi bicara tentang filosofi 'waktu', rasanya kurang afdol deh klo lu ga ngutip Jacques Derrida atau Martin Heidigger atau mungkin dari filsuf eksistensialisme lain yg bahas filosofi 'waktu' secara khusus (yg gw ga tau). oke deh, segitu aja komen ga penting dr gw

masih testing mengatakan...

fan. kok blog lo ga bs buat kasih komen ya. thx anyway. aktifin dong blog lo, biar bs ngupi2 sambil ngobrol2 , hehehehe.

Anonim mengatakan...

ih, ini kan tulisannya jelagatakbertepi. kok dimasukin ke blog ini? atau anda orang yang sama? bukan ah...

Anonim mengatakan...

http://connections.blackboard.com/people/1755b9ba7d Buy amoxil online
http://connections.blackboard.com/people/d3f4f89d59 Buy Cheap Bactrim
http://connections.blackboard.com/people/76b8b13755 Buy Celebrex Online