Jumat, 18 Februari 2011

Seri Mengenal Depok : Hutan Kota UI, seperti Oase di tengah Deru Mesin





Hari Jum'at ini (18/02), saya berkesempatan untuk bersepeda ke Hutan UI yang terletak di utara kampus UI. Setelah hujan dan angin kencang yang menyapu Depok sore itu, saya mengayuh engkel sepeda saya ke Jalan Margonda, menyusur Flyover UI dan masuk ke Gerbatama. Tak lama lagi, voila ! saya sudah sampai di Hutan Kota UI. Sungguh sangat menyegarkan bersepeda setelah hujan turun. Bau tanah dan angin yang bertiup semilir membuat keringat yang jatuh tak terasa beratnya.

Dengan Si Putih, sepeda lipat andalan saya, saya menyusuri Danau Salam UI yang seperti berkabut karena hujan mengguyur dengan amat deras. Setelah puas berkeliling di Danau Salam, saya menjajal masuk ke dam yang terletak tak jauh dari Danau Salam.

Hutan Kota UI adalah paru-paru kota yang layak dikonservasi. Saya hafal betul dengan tiap jangkah wilayah UI karena kebetulan saya sewaktu kuliah S1 di UI tinggal di lingkar hijau UI, yakni di Asrama UI dan Kelurahan Kukusan, hampir selama empat tahun. Sewaktu tinggal di Jatipadang dan Salemba pun saya tidak bisa berlama-lama, karena dasarnya orang ndeso, jadi selalu nyari tempat yang segar untuk pernapasan saya. Kembali ke selera asal.

Kalau kita telusuri, sebenarnya jalur hijau di UI ini kehijauannya berlanjut di bagian barat Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Wilayah yang saya maksud adalah Ciganjur, Setu Babakan (M Kahfi), Ragunan, dan Cilandak. Cobalah agan bersepeda atau mengendarai motor dari UI menuju ke Ciganjur, ke Setu Babakan, Ragunan, Pondok Labu, dan berakhir di Cilandak. Sepanjang jalan pasti agan masih menemui pohon-pohon besar, rimbun pepohonan, kebun-kebun kosong, dan juga jalan-jalan yang kecil dan berkelok. Saya sering menamai daerah ini dengan sebutan 'Jalan Setapak di Selatan'. Mengapa ? Karena jalan di sini seperti oase di tengah Jakarta yang panas, macet, dan kumuh. Jalannya kecil, tidak begitu ramai, hampir tidak ada Kopaja atau Metromini (kebanyakan angkutan umum adalah mikrolet), tapi jalannya berkelok-kelok tidak straight to the point. Kita patut berterima kasih dengan etnis Betawi yang banyak mendiami wilayah ini. Justru karena melambangkan sebagai wilayah yang tergusur inilah, wilayah ini menjadi hijau dan jauh dari ekspansi kota yang serakah. Lihat di sepanjang jalur itu ! Tidak ada mall besar, tidak ada pengemis yang keleleran di tengah jalan, dan juga paru-paru tidak sakit ketika menghirup udaranya. Angka Indeks Pembangunan Manusia di Kecamatan Jagakarsa juga termasuk yang paling tinggi jika dibandingkan kecamatan lain di Jakarta. Artinya, daerah inilah yang bisa katakan sebagai 'another Jakarta is possible'.

Sayang, Rektor UI kurang menangkap sinyalemen itu, padahal beliau banyak mengenyam Ilmu Sosiologi ; ilmu yang bertutur soal masyarakat. Kebijakan penutupan pintu Kukusan di malam hari membuat jalur tersebut tidak terlalu populer. Sebenarnya, strategi green lifestyle bagi komuter Depok bisa dimulai di sini. Bersepeda ke UI, Ciganjur, lantas Ragunan untuk menitipkan sepeda mereka di sana. Komuter kemudian bisa menggunakan busway ke arah Kuningan atau ke arah lainnya.

Kembali ke Hutan UI. Hutan UI sendiri luasnya 192 hektar, dan terdiri dari tiga vegetasi : Hutan Wales Barat ditanami vegetasi yang banyak tumbuh di wilayah Barat Indonesia, Hutan Wales Timur ditanami vegetasi yang tumbuh di wilayah Indonesia timur, dan hutan meranti yang banyak ditumbuhi pohon meranti. Hutan itu dikelilingi 6 danau, yakni : Danau Salam, Danau Ulin, Dana Puspa, Danau Mahoni, Danau Aghatis, dan Danau Kenanga.

Suasananya damai sekali. Agan-agan bisa bayangkan saja, kalau bersepeda dari Stasiun UI menuju Hollywood UI, jika menyusuri jalur sepeda di sebelah kiri jalan, maka agan akan disuguhi pemandangan hutan tropis dengan pohon-pohon sebesar pepohonan di Kebun Raya Bogor dengan gemericik air yang mengalir deras dari atas ke arah Danau Puspa (Hollywood UI). Agan seperti berada di tengah hutan yang kalinya mengalir deras.

Jika bersepeda di Danau Salam (sebelah Resto Mak Engking), agan akan mendengar suara gerojokan air yang turun ke parit-parit. Sepertinya air tidak berhenti mengalir. Inilah yang saya sebut sebagai oase di tengah deru mesin.

Kapan-kapan agan-agan harus mencoba bermain-main ke Hutan Kota UI, sambil mencicipi hidangan Sunda a la Mak Engking. Udang galahnya yummy !

2 komentar:

geo mengatakan...

Jangan sampai ada illegal logging di hutan UI... Ntar gw kepanasan di kost hahaha

juno mengatakan...

sepakat !

bukan cuma kosan lo aja yo

supaya jakarta juga tidak banjir.

ada baiknya kalau kali ciliwung itu dibikin salurannya ke danau2 di UI itu ya. serapan airnya lbh tinggi.