Minggu, 13 September 2009

Jendela

Jendela

Damar menatap jendela rumahnya dalam-dalam. Bulan depan adalah kelulusan sekolahnya. Dari jendela rumahnya itu terlihat bukit-bukit kapur dengan warna merona becampur tanah. Kadang kala angin menghembus semak liar yang membelit kapur itu. Jika anginnya cukup keras bertiup, terkadang beberapa pasir sempalan kapur rapuh dan terbang ke bawah. Menaburi atap rumah-rumah yang ada di bawahnya.

Bukit kapur adalah pemandangan yang mungkin akan Damar rindukan. Bulan depan pula Damar akan hijrah ke Kota Jogja dari desa tercintanya, Rongkop Gunung Kidul. Damar sebenarnya masih ingin melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMU, tapi beberapa bulan lalu Bapak sakit. Bapak tidak bisa bekerja sebagai kondektur bus lagi.

Seorang teman Bapak telah datang ke rumah sebulan lalu. Teman Bapak membawakan buah-buahan yang sangat jarang Damar lihat di kampung. Teman Bapak yang baik itu menawarkan Damar bekerja di rumah sakit. Damar adalah anak tertua, sehingga layak jika Ibu memanggil Damar untuk dapat memenuhi panggilan kerja itu.

“Damar wis gedhe. Pinter bocahe, neng kelas rangking siji. Awake yo rosa, dadi iso kuwi Kang, nek dikon kerjo neng rumah sakit,”[1] ujar Ibu kepada Pak Walidi, teman Bapak yang menawarkan pekerjaan itu.

“Dadi ngene lho, Yu. Anik kuwi rak wis meh lahiran, bojone yo ngongkon leren. Daripada Anik nggolek wong liya, mending lak yo tak kongkon anakmu wae to yo. Jenenge kok yo apik men..Damar,”[2] jawab Pak Walidi sambil terkekeh. Rupanya ia senang akan segera mendapatkan cucu pertamanya dari Anik, anak perempuannya.

“Lha mengko sengeni opo ora? Damar kuwi sik lulusan SMP. Nek syarate lulusan SMA, yo durung. Tapi bocahe pinter lho...”[3] Ibu Damar mewanti-wanti Pak Walidi.

“Tenang wae, Yu. Sing penting jujur. Anik wis ngomong karo perawate, jare ra popo. Wis pokoke tenang wae, “[4] begitu Pak Walidi menenangkan.

Dan bulan depan harapan dan doa Ibu di atas sajadah menjadi kenyataan. Manajemen Rumah Sakit memanggil Damar bersama dengan Perawat yang merekomendasikan Damar, nama yang didapatnya dari Anik, anak Pak Walidi yang menjadi petugas kebersihan sebelumnya.

Angan-angan Damar untuk kembali ke bangku sekolah pupus. Tak ada pilihan lain yang harus ditempuhnya. Semua itu sudah jalan Tuhan, begitu ia menirukan filosofi orang-orang kampungnya, terutama mengenai pulung[5].

Ia tidak ingin ibunya terlalu lama menatap jendela rumahnya dalam-dalam di malam hari. Sebab, jika ibunya melihat ada cahaya jingga yang seolah jatuh di atap rumahnya, maka ‘virus’ pulung gantung mungkin akan menyebar di keluarganya. Damar tak ingin. Tiga orang adiknya yang masih kecil membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Walau pun sekarang sekolah dijanjikan gratis oleh pemerintah, tak mungkin pula tak ada periuk nasi yang mengisi perut mereka.

Sebelum ia meninggalkan Rongkop, ia menatap lagi jendela rumahnya dalam-dalam. Berharap jendela itu bisa mengabarkan berita baik, bukan sebaliknya. Sebulan sekali ia akan bisa berjumpa kembali dengan bukit-bukit kapur ini.

Dan akhirnya bus dari Pantai Kukup membawanya ke Terminal Prambanan hari ini. Dari Rongkop, perjalanan ke Jogjakarta ditempuh selama hampir dua jam.

“Jadi, kamu harus tahu tanggung jawabmu disini, Damar. Pagi hari dan sore hari kamu mengepel Paviliun Melati dan Paviliun Anggrek. Termasuk kamar pasien. Ingat ! Satu per satu. Kamar mandinya juga harus bersih. Siang harinya kamu membawa semua pakaian dan seprai pasien ke ruang laundry. Dari ruang laundry juga harus dibawa cucian yang sudah bersih. Jangan lupa juga menyiram taman di depan Poliklinik. Jangan sampai terlambat. Bu Naya yang akan mengawasi kalian. Kalau terlambat, ada sanksinya.” Kepala Perawat memberi instruksi pada Damar. Damar hanya manggut-manggut.

Tak ada lagi permainan mendaki bukit kapur, atau permainan kelereng. Yang Damar hadapi sekarang hanyalah sapu dan ember. Dan bau pewangi lantai rumah sakit yang khas. Lantai yang Damar injak bukan lantai sekolah yang membawa cita-citanya tinggi ke langit, tapi lantai rumah sakit yang dibasahi oleh darah dan cairan infus.

Delapan bulan berlalu. Damar mulai dapat menyesuaikan diri di Jogjakarta. Delapan kali pula ia pulang ke rumah. Ibunya mengeluhkan keringnya sumber air di Rongkop. Sumur Bribin dan Seropan yang ditemukan di kecamatan tidak bisa menopang kebutuhan air warganya. “Miline saumet-umet,”[6] kata Ibu Damar. Musim panceklik yang panjang memang sangat menyengsarakan Ibunya. Ia harus turun dan mendaki bukit untuk mendapatkan air bersih. Sedangkan, kalau untuk membeli air bersih, ia harus mengeluarkan uang seratus ribu rupiah untuk satu tangki air bersih. Pengusaha air bersih menjual air yang didapat dari Pracimantoro, Wonogiri. Uang kiriman Damar bisa-bisa habis jika Ibu terus menerus membeli air dari pengedar. Pengedar yang bersenang-senang di atas kekeringan. Bisnis besar, kata mereka.

Pundak Ibu Damar sekarang lebih perkasa dari pundak seorang pelajar remaja putra di kota-kota. Pundaknya sudah terampil untuk mengambil air yang didapat dari sumber air berjarak 15 kilometer dari rumahnya. Ibu dibantu Nur, anak keduanya yang hanya selisih satu tahun dari Damar, mengangkut air. Bapak masih terbaring sakit di rumah. Biaya pengobatan setahun lalu masih terasa cukup besar, sehingga Ibu memutuskan memulangkan Bapak.

Empat bulan kemudian, Damar sudah malas pulang. Wesel di Kantor Pos membuatnya lebih nyaman untuk mengantarkan uang ke kampung halamannya. Jogja lebih menarik buatnya sekarang. Kafe, mall, dan pertunjukan musik bertebaran di sudut kota. Kerlip cahaya lampu-lampu pertokoan, keramaian di pusat kota, serta dispenser air yang dirasanya sangat praktis telah membuatnya malas pulang ke Rongkop.

**

Jendela rumah Damar membawa kabar tidak baik hari ini. Bapak terbatuk-batuk, kadang mengeluarkan darah. Digerogoti TBC dan kelumpuhan membuat Bapak tidak leluasa beraktivitas. Kualitas dan kuantitas air di Rongkop yang sangat buruk membuat TBC Bapak semakin parah. Dan batuknya sekarang makin menjadi.

“Nur, tulung tulis surat nggo Masmu, kon ndang bali. Bapak gerahe wis nemen, iso nggak digowo neng rumah sakit nggone Masmu nyambut gawe? Nek wis, kekno Pak Sugi sing kulino bolak-balik Jogja. Nek Pak Sugi kerso, surate tulung dicaoske neng Sardjito, “[7] begitu instruksi Ibu kepada Nur dengan tergesa.

“Ngko nek pareng, nyilih handphone Pak Sugi wae,”[8] ucap Nur sambil mencium tangan Ibunya. Berpamitan menuju rumah Pak Sugi di bawah bukit. Ia membawa buku sekolahnya serta sebuah pensil di tangan. Nur bergegas menuju ke rumah Pak Sugi.

**

Damar memencet dispenser warna biru. Segera air dingin menyentuh tenggorokannya. Jauh lebih segar daripada air yang dirasakannya di rumah. Badannya sangat pegal. Kemarin, banyak kotoran yang ia bersihkan di kamar mandi. Sesungguhnya ia sangat tidak menyukai pekerjaan ini. Namun, pekerjaan ini yang membuat orang tuanya bertahan di Gunung Kidul. Walaupun gaji yang ia peroleh kecil, namun pekerjaan ini memberinya banyak kesempatan.

Ia masih terbayang jendela di rumahnya yang menawarkan pemandangan perbukitan kapur. Jalur yang ia lalui untuk bersekolah. “Kapan aku bisa sekolah lagi?” ratap Damar dalam hati.

Tiba-tiba pintu pantry terbuka. Nisa, rekan kerjanya, membawa kabar bagi Damar.

“Damar, ada telepon dari adikmu.”

“Hah? Dimana?” Damar terkejut sekaligus heran.

“Di ruangan Bu Naya. Buruan diangkat. Penting banget kayaknya,” jawab Nisa.

Bergegas Damar menuju ruangan supervisornya.

“Assalamu’alaikum Nur. Ono opo?[9]”

“Mas, Bapak gerahe soyo ndadi. Ndang bali, Mas. Bapak iso ora digowo neng rumah sakit nggonmu?”[10]

“Astaghfirullah. Lha trus sing mbayar sopo?”[11]

“Yo maturo karo Bosmu. Pokoke kuwi ngomongo karo rumah sakit , iso ora iso, ndang bali. Sik yo Mas, soale iki aku nyilih handphone Pak Sugi.”[12]

Krek. Telepon ditutup.

Hati Damar tidak menentu. Ia mencari Nisa untuk memperoleh dukungan. Ia meminta Nisa menemaninya menghadap Bu Naya. Dan sekarang ia bersama Nisa telah berada di depan Ibu Naya.

Ibu Naya mengatakan ia tidak bisa memperjuangkan nasib Bapak Damar. Ia menyarankan Damar untuk segera mengurus perpanjangan Askeskin ke Puskesmas di kampungnya. Kemudian, Damar harus membawa Askeskin itu ke UGD atau Poliklinik, dan mungkin menghadap dokter Aziz, kepala UGD.

Damar mengejar bus terakhir hari ini ke Rongkop. Bus yang akan mengantarkannya ke jendela rumahnya.

Damar menjumpai ayahnya terbaring lunglai tidak berdaya di rumah. Beberapa obat-obat alternatif yang dibawakan oleh rekan sekerjanya di kampung cukup menenangkan Bapak malam itu.

Dan malam itu, Damar memasang tirai di jendela rumahnya. Tirai yang berasal dari kain seprai yang tidak terpakai di rumah sakit. Kain itu sengaja ia bawa bersama dengan beberapa barang yang tersisa di rumah sakit, seperti kaleng-kaleng biskuit yang ia temukan di kamar VIP. Orang-orang kaya itu malas membawa makanan yang dibawa tamu-tamu mereka selama di rumah sakit.

Tirai itu ia pasang agar Ibu tidak memandangi langit dari jendela rumahnya. Ia khawatir, halusinasi Ibunya akan membawa alam pikirannya pada sinar jingga yang meluncur di atas rumahnya.

“Damar nggak mau bekerja lagi di Jogja. Biar Damar yang jagain Ibu sama Bapak. Siapa yang akan mengambil air di bawah, siapa yang akan mencari kayu? “ kata Damar sambil menatap Bapaknya.

“Bulan depan Nur sudah selesai SMP. Biar Nur yang menggantikan Mas Damar kerja di rumah sakit,” lanjut Nur pelan.

Ibu Damar tak kuasa menahan tangis.

Damar sekarang mengerti mengapa kehidupan yang ia lihat dari jendela rumahnya di Gunung Kidul selalu sepi, senyap, dan keras seperti batu kapur. Itulah makna kehidupan bagi Damar yang tinggal di Gunung Kidul. Sepi adalah tangis tak berkesudahan karena lingkaran kemiskinan.

Senyap adalah doa tak berujung untuk lepas dari sengsara. Dan keras karena harapan itu telah membatu.

Namun Jogjakarta tetap riuh dengan musik dan kafe.

***

HNK- Jakarta, 13 September 2009



[1] “Damar sudah besar. Anaknya pandai, di kelas rangking satu. Badannya juga kuat, jadi bisa disuruh kerja di rumah sakit.”

[2] “Jadi begini, Kak. Anik itu sudah mau melahirkan, suaminya juga menyuruhnya istirahat. Daripada Anik mencari orang lain, lebih baik meminta anakmu saja (untuk menggantikannya). Namanya bagus juga, Damar.”

[3] “Nanti dimarahi apa nggak? Damar itu lulusan SMP. Kalau syaratnya lulusan SMU, Damar belum bisa. Tapi anaknya pandai, lho.”

[4] “Sudah tenang saja, Kak. Anik sudah bilang ke perawat di rumah sakit itu. Dan kata dia tidak apa-apa. Sudah pokoknya tenang saja.”

[5] Pulung artinya wahyu. Sebagian masyarakat Gunung Kidul percaya akan sebuah wahyu gaib berbentuk bola api berkobar-kobar dan berekor. Jika bola api itu berwarna biru, maka dipercaya itu adalah pertanda baik. Jika bola api berwarna jingga, dipercaya bagi mereka yang rumahnya kejatuhan bola api jingga, maka itu adalah takdir Tuhan untuk mengakhiri hidupnya. Keyakinan semacam ini muncul di Gunung Kidul karena banyaknya fenomena gantung diri di Gunung Kidul. Data dari Kompas menyebutkan 9 dari 1000 orang di Gunung Kidul mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Angka ini cukup besar jika dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, yang terdapat 2 dari 1000 orang yang melakukan bunuh diri dengan jalan gantung diri. Buku yang ditulis Durkheim, sosiolog Prancis, yakni Suicide menyebutkan bahwa tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Jika sebagian masyarakat Gunung Kidul, menganggap bunuh diri sebagai wahyu, maka beberapa penelitian, seperti Darmaningtyas (2001) menyebutkan bahwa faktor ekonomi yang membuat mereka mengakhiri hidupnya.

[6] “Mengalir sedikit sekali.”

[7] “Nur, tolong tulis surat untuk kakakmu. Minta dia segera pulang. Bapak sakit keras. Bisa nggak Bapak dirawat di rumah sakit tempat kakakmu kerja? Tolong titipkan surat itu kepada Pak Sugi yang sering bolak-balik ke Jogja. Kalau Pak Sugi berkenan, suratnya tolong disampaikan ke RS Sardjito.”

[8] “Nanti kalau boleh, ditelepon saja meminjam handphone Pak Sugi.”

[9] “Ada apa?”

[10] “Mas, Bapak sakit keras. Lekas pulang ke rumah. Bisa tidak Bapak dirawat di tempat kerja Mas?”

[11] “Yang bayar siapa?”

[12] “Kamu bilang sama Bos kamu. Pokoknya kamu bilang ke pihak rumah sakit. Bisa atau tidak, lekas pulang ke rumah. Sudah ya Mas, soalnya saya memakai handphone Pak Sugi.”

Rabu, 10 Desember 2008

Sukoharjo, Spiritualitas, dan Wayang


Saya dibesarkan di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Sukoharjo yang lekat dengan kebudayaan luhur Jawa. Kabupaten yang terletak di selatan Kota Surakarta atau Solo ini mempunyai potensi alam yang cukup bagus, khususnya dalam sektor pertanian. Sukoharjo dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Indonesia ketika masa Orde Baru. Di masa kini, Sukoharjo dikenal sebagai salah satu daerah penyokong Kota Surakarta yang mulai dipengaruhi oleh budaya industri dan urban. Akan tetapi, di beberapa tempat yang masih jauh dari perkotaan, budaya setempat masih cukup terjaga dengan baik.

Salah satu nilai yang hidup di masyarakat Sukoharjo adalah nilai-nilai spiritualitas. Spiritualitas ini tidak semata berarti religius, yang tereduksi dalam simbol-simbol keagamaan, namun spiritualitas dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia, hubungan antar alam, sekaligus hubungan dengan Sang Pencipta Kehidupan. Spiritualitas ini dapat terjaga baik, karena sejarah maupun kondisi masa kini masyarakat setempat yang senantiasi menjaga alam. Di tempat saya tinggal, banyak petani yang tergantung hidupnya dari alam. Ilmu pengetahuan lokal mengenai alam, seperti kapan masa tanam, masa panen, atau kapan hama tikus menyerang, sudah menjadi bagian yang integral dari kehidupan petani padi maupun petani sektor lainnya. Bahkan, sebelum Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih berdiri di Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, pada awal tahun 1990-an, petani setempat sudah mempunyai pengetahuan lokal mengenai membuat/mengawinsilangkan benih sehingga menjadi benih unggul. Nilai-nilai spiritualitas ini dianggap berharga oleh masyarakat baik secara kognitif maupun afektif. Secara kognitif, dengan karakteristik masyarakat yang agraris dan mengandalkan alam dalam kehidupan sehari-harinya, pengetahuan mengenai alam sangat diperlukan untuk mengantisipasi kegagalan panen. Pengetahuan mengenai alam ini yang kemudian mengantarkan mereka menjadi spiritualis, karena memanfaatkan alam, dalam filosofi masyarakat Jawa, adalah salah satu bentuk sangkan paraning dumadi. Sangkan paraning dumadi secara sederhana dapat diartikan sebagai "dari asal, akan kemana tujuan, dan akhir perjalanan hidup”. Pandangan akan sangkan paraning dumadi ini menggambarkan bahwa filosofi hidup masyarakat Jawa berbeda dengan filsafat Barat (yang banyak dipelajari di universitas atau perguruan tinggi). Jika filsafat Barat bertujuan mencari kearifan atau wisdom, maka filsafat Jawa berusaha mencari kesempurnaan atau perfection atau "kasampurnan". Filosofi ini yang kemudian menghantarkan pada nilai-nilai spiritual yang mengakar pada masyarakat Jawa pada umumnya, dan Sukoharjo pada khususnya. Namun, dalam konteks relevansi “yang global” dan “yang lokal”, kedua tujuan itu pada akhirnya sama, yakni bermuara pada akar truth atau kebenaran.

Dalam filosofi “kesempurnaan” masyarakat Jawa, hidup bukan lagi semata masalah materi, karena ada tujuan immaterial di atas materi yang lebih luhur nilainya. Menurut pendapat saya, ada tiga nilai dasar yang dihidupi masyakat namun tetap dihadapi hingga saat ini yang berakar dari pandangan kesempurnaan hidup ini. Yang pertama, nilai mengenai “budi pekerti”, yaitu kesopanan yang berlaku antara yang tua dan yang muda, antara orang yang baru dikenal (tamu) dengan orang yang sudah lama dikenal, atau antara anggota keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga yang luas dalam masyarakat Jawa. Yang kedua adalah nilai mengenai “kepemimpinan”. Kepemimpinan ini mengacu pada gagasan-gagasan mengenai negara yang ideal, pemimpin yang bijaksana, kehidupan masyarakat yang sejahtera dan lain sebagainya. Yang ketiga adalah nilai mengenai “keadilan”. Keadilan ini mengacu pada hubungan antara manusia, bagaimana manusia tidak rakus untuk mencaplok hak-hak orang lain, bagaimana yang kuat tidak menindas yang lemah, dan lain sebagainya. Nilai-nilai inilah yang menurut saya, secara de facto dihadapi oleh masyarakat Jawa dari masa ke masa. Kegelisahan akan nilai-nilai yang terus berubah dilukiskan, misalnya, dalam sejarah mengenai syiar Islam yang dilakukan Walisongo di tanah Jawa. Salah satu ajaran Walisongo adalah “Molimo” yang kemudian menjadi tuntunan budi pekerti masyarakat Jawa, lebih khusus lagi dalam konteks penyebaran agama Islam di Jawa. Dalam masa kerajaan, masyarakat Jawa juga dihadapkan pada teka-teki masalah kepemimpinan dan keadilan, kegelisahan akan kepemimpinan dan keadilan dilukiskan dalam sejarah Joko Tingkir (yang kemudian membentuk Kesultanan Pajang), atau Patih Gajah Mada yang bersumpah Palapa untuk mempersatukan Nusantara. Dalam konteks yang paling aktual, masyarakat Jawa pun dihadapkan pada nilai-nilai mengenai “budi pekerti”, “kepemimpinan”, atau “keadilan”. Dalam masa krisis 1997-1998, masyarakat Sukoharjo juga turut resah dengan kabar-kabar dari Jakarta mengenai korupsi (cerminan dari nilai budi pekerti), pemerintahan yang goyah karena krisis moneter (cerminan dari nilai-nilai kepemimpinan), serta harga barang-barang pokok yang mahal, salah satunya beras (cerminan dari nilai-niali keadilan). Keresahan itu yang kemudian memunculkan kerusuhan di sekitar Kota Surakarta (termasuk Kabupaten Sukoharjo) pada bulan Mei 1998, walaupun banyak analis politik menyebutkan kerusuhan itu karena ulah provokator. Akan tetapi, secara umum, tiga nilai itu yang diyakini menjadi “kotak pandora” masyarakat Jawa yang harus ditahan dan dirawat agar tidak muncul sebagai penderitaan dan kesengsaraan.

Menurut Ward H. Goodenough (1981), kebudayaan adalah pengetahuan bersama yang dipelajari dari orang lain bukan karena keturunan. Dalam pengertian ini, Goodenough tidak melihat kebudayaan secara formal saja, namun juga meliputi pengetahuan bersama yang bersumber dari kognisi. Menurut Goodenough, kebudayaan diletakkan sebagai gagasan yang secara sistematis menghubungkan dunia kognitif individu dan perilaku kolektif komunitas/penduduk/masyarakat. Ini artinya, sistem pengetahuan individu dapat merubah perilaku kolektif komunitas, dan pada gilirannya perilaku kolektif dapat menjadi pengetahuan bersama masyarakat setempat mengenai penilaian baik/buruk atau sikap etis terhadap suatu hal.

Dalam kerangka teori Goodenough ini, nilai-nilai spritual masyarakat Sukoharjo dapat terus dipelihara dengan mengedepankan nilai-nilai ”budi pekerti”, ”keadilan”, serta tata negara atau ”kepemimpinan”. Sikap ini menjadi etos masyarakat Jawa (khususnya masyarakat pedesaan) yang masih dapat dijumpai, misalnya saling menyapa ketika berpapasan/bertemu di jalan, di sawah, atau di pasar. Etos lain yang muncul dari nilai ”keadilan” adalah etos solidaritas, misalnya ketika ada saudara yang sakit atau terkena musibah, saudara yang lain ikut membantu untuk meringankan beban saudaranya tersebut. Etos masyarakat Jawa lainnya muncul di pasar. Di pasar ini, ada nilai-nilai lokal yang tumbuh bahwa perempuan dapat pula berdaya dan mandiri secara ekonomi dengan berdagang di pasar. Etos seperti ini sebenarnya adalah proses yang kognitif serta afektif yang berharga dalam menyikapi semangat feminisme global. Dari pasar ini, kita dapat mendekonstruksikan wacana mengenai budaya Jawa yang patriarki, menjadi sebuah wacana kebudayaan yang mengedepankan etos perempuan dan kepemimpinan tidak harus dari laki-laki. Perempuan yang berjualan di pasar biasanya bangun lebih pagi dari suaminya, berangkat ke pasar sebelum ufuk menjelang, dan menggunakan uang hasil penjualannya untuk biaya sekolah atau kesehatan anak-anak mereka. Etos ini melahirkan sebuah pengetahuan bersama yang didasari oleh nilai-nilai kebudayaan Jawa. Etos ini mempunyai makna yang positif dalam konteks pembangunan. Jika pemimpin dapat memanfaatkan etos ini untuk kebaikan bersama, dan pengetahuan bersama mengenai etos tersebut terjaga dengan baik, maka masyarakat pun dapat berkembang sesuai dengan nilai-nilai lokal yang ada di masyarakat. Pemerintah daerah dapat memberikan intervensi sosial dengan memberikan arahan-arahan dengan program dan kebijakan yang memungkinkan etos tersebut terpelihara.


Pertunjukan Wayang sebagai Sarana untuk Memelihara Nilai-nilai

Saat ini etos tersebut masih cukup terpelihara walau ditantang dengan munculnya arus globalisasi dan kapitalisme yang deras dewasa ini. Serbuan hypermarket atau ritel multinasional telah menghancurkan relasi-relasi sosial masyarakat Jawa yang berakar di pasar tradisional. Media-media tekonologi informasi, seperti internet, telah menimbulkan dua mata sisi yang berlawanan. Di satu sisi, internet menawarkan akses informasi tanpa batas ke semua negara, namun di sisi lain, internet juga mengikis relasi-relasi sosial masyarakat dewasa ini, ataupun mengikis nilai-nilai budi pekerti lewat beberapa situs-situs internet yang mengumbar libido .

Lewat media-media lokal, nilai-nilai tersebut dapat terpelihara, salah satunya melalui pertunjukan wayang (sayangnya sekarang makin jarang), baik wayang kulit maupun wayang orang. Wayang adalah salah satu produk kebudayaan yang dihasilkan dari cipta, rasa, dan karsa yang tinggi. Falsafah wayang diharapkan dapat memberi jawaban atas pandangan-pandangan mendasar tentang kebenaran dan realita yang mengarah pada pencapaian kesempurnaan hidup. Falsafah wayang yang bertujuan "ngudi kasampurnan" menampilkan pandangan antara lain terhadap hal-hal secara metafisika, epistimologi, serta aksiologi. Filsafat wayang itu sangat religius. Pemikiran-pemikiran religius sangat dominan, bahkan seluruh ruang lingkup filsafat ini merupakan simbol manifestasi kekuasaan Tuhan ; manusia dan alam digambarkan dengan indah dalam setiap pergelaran wayang, utamanya pada lakon Dewa Ruci, Bima Suci, Kresno Gugah, Sastra Jendra dan Begawan Ciptoning.

Pandangan epistemologi wayang terhadap kehidupan juga terlihat. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan apa dan bagaimana pengetahuan itu. Dalam pergelaran wayang banyak mengandung simbol-simbol yang perlu ditafsirkan. Bagaimana kita memahami simbol-simbol dalam pergelaran wayang? Hal ini menuntut kognisi atau pemahaman dari sisi pengamat atau penonton. Pemahaman yang dangkal dari penonton juga akan mengakibatkan pengertian yang dangkal juga mengenai nilai-nilai kehidupan. Dari sisi pergelaran wayang sendiri mengandung contoh-contoh mengenai pemahaman, baik terhadap alam, manusia dan Tuhan. Utamanya, di dalam cerita sangat kaya sekali menggambarkan adanya contoh-contoh tentang pemahaman.

Aksiologi adalah filsafat nilai. Dalam wayang nilai-nilai ini sangat dominan, karena memang misinya adalah menyampaikan pesan moral. Di dalam wayang ada banyak nilai dasar yang kesemuanya itu merupakan atribut untuk mencapai kesempurnaan hidup, mendekatkan diri kepada Tuhan dan beramal saleh kepada sesamanya. Aksiologi wayang dikembangkan dalam dua unsur pokoknya yaitu etika dan estetika.

Selain wayang, ada beberapa media yang digunakan untuk memelihara nilai-nilai etis di Jawa, misalnya dengan penggunaan bahasa Jawa di antara masyarakat yang bertingkat-tingkat. Nilai-nilai budi pekerti, terutama yang muda menghormati yang tua terlihat dengan perbedaan penggunaan bahasa dengan kromo inggil, kromo madya, dan ngoko. Cerita-cerita rakyat juga sering digunakan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan di dalam diri anak, misalnya cerita mengenai Kancil Nyolong Timun, atau Timun Mas, yang berusaha menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan keadilan. Tradisi itu tetap hidup walaupun berada di bawah bayang-bayang arus modernitas dan globalisasi.


Yang Emik Menjadi Yang Etik ?

Kajian kebudayaan selanjutnya menempatkan fonemik dan fonetik sebagai salah satu fokus kajian. Fonemik adalah tuturan khas yang dijumpai di sebuah bahasa yang tersendiri, sedang fonetik adalah tuturan secara umum yang dapat diucapkan manusia sesuai dengan organ-organ tubuhnya, misalnya lidah, tenggorokan, paru-paru dan lainnnya. Kajian emik adalah kajian yang melihat sesuatu yang khas di masyarakat lokal yang signifikan untuk dilihat, sedangkan kajian etik berusaha melihat sesuatu yang secara objektif ada di dalam setiap individu.

Dalam konteks pembangunan, kajian emik melihat kearifan lokal mana yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan masyarakat. Kearifan lokal itu dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun kearifan lokal tersebut signifikan untuk dilihat dalam proses pembangunan. Di dalam tulisan ini telah dipaparkan bahwa nilai-nilai spiritualitas masyarakat Sukoharjo menjadi objek emik dalam pembangunan. Nilai-nilai tersebut berharga untuk menjaga norma yang ada di masyarakat. Dalam tulisan ini juga ditunjukkan bagaimana masyarakat merawat nilai-nilai itu, salah satunya melalui pertunjukan wayang.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah yang emik tersebut dapat menjadi sesuatu yang etik ? Menurut pendapat saya, yang emik dapat menjadi pengetahuan bersama masyarakat, namun untuk menjadi etik, tentunya harus dilihat kesesuaianya dengan etika global lainnya. Pada kenyataannya, di dalam masyarakat Sukoharjo sesuatu yang dipahami secara emik juga dipahami oleh masyarakat di tempat lain, misalnya nilai-nilai mengenai keadilan. Yang bermanfaat, sesuatu yang emik ini dapat difungsikan sebagai cara-cara yang lebih partisipatoris dalam menggerakkan etika global. Misalnya, penanaman nilai anti-korupsi tidak harus didekati dengan pendekatan berbasis hak seperti yang ada di dalam masyarakat Barat, tapi dapat didekati dengan pendekatan budi pekerti dan takut pada Tuhan. Sama halnya, untuk mentransfer ide-ide John Rawls mengenai keadilan (libertarian justice), dapat digunakan metode dan ide-ide yang telah berkembang di masyarakat Sukoharjo mengenai bagaimana mereka mempersepsikan keadilan.


* sebelum menulis tulisan ini, penulis sama sekali tidak attach dengan kebudayaan asalnya. tiba-tiba ketika membaca sebuah tulisan, pandangan itu berubah 180 derajat.



Referensi :

Timothy Begaye, Native Teacher Understanding of Culture as a Concept for Curricular Inclusion, Jurnal Wicazo Sa Review - Volume 22, Number 1, Spring 2007

Ward H. Goodenough, Culture, Language, and Society 2d edition, California : Benjamin/Cummings, 1981

Sides Sudyato DS, Wayang, Kebudayaan dan Nasionalisme Poskolonial , diunduh dari: http://www.rayakultura.net/wmview.php?ArtID=75&page=1

Sabtu, 29 November 2008

People-Centered Regionalism ?

What is the meaning of Southeast Asia regionalism? Southeast Asian is slowly bounded ASEAN agreements, i.e. ASEAN Charter, Free trade agreements, or AFTA. NGOs and some mass media criticized ASEAN as an elite group; they only draw government-to-government relations, but don’t put people as the subject of regionalism.
By 2003, ASEAN has shifted its regionalism into ‘community’ model of regionalism. Community means that there are members of the community owning shared identity and shared responsibility (Ife&Tesoriero, 2002). Also, it means that ASEAN should develop its regionalism into ‘bottom-up’ process. Top-down process, to some extent, is still needed, but ‘bottom-up’ process is also important to build genuine regionalism. The idea of regionalism is not only unite the states, but also the society. If not, the benefit of regionalism would be difficult to be reached by precisely the society.
In my opinion, there are two different principles between state regionalism (old regionalism) and people-centered regionalism (new regionalism).
First, the old focuses on financial capital, which concentrates on the accumulation of financial capital that might be owned by big companies or the have. Whilst the poor lack of resources, social capital is the solution came from new regionalism. According to Robert Putnam 2006, social capital refers to the collective value of all social network and the inclinations that arise from these networks to do things for each other.
Second is the paradox between power and empowering. The old regionalism was perceived as drawing its power from units of government above and below it. The new regionalism gains power by empowering. In many places, part of this empowerment is directed toward neighborhoods and communities, with the objective of getting them constructively engaged in regional decision making. Empowerment also consists of engaging nonprofits and for-profits in governance decisions that were once treated as the domain of the public sector alone. Using the approach of empowerment is based on the assumption that new interests bring new energy, authority, and credibility; in short, it grows power or capacity in order to move a regional agenda. Obama also employed this approach when campaigning and speaking out on the election.
The solution would not be black or white, old or new. It could be mixed. The bottom-up approach might be called as idealist, whilst the top-down is more political realist. The bottom-up might be so naïve, but it depends on who would call the confusion of regionalism: you, as an agent itself, or you, as follower?

Selasa, 25 November 2008

Ahhh There I Am !

"There are three things extremely hard: steel, a diamond, and to know one's self." - Benjamin Franklin



Beberapa hari lalu, saya mengaduk-aduk kembali beberapa koleksi buku. Menelusuri satu per satu buku, tapi tampaknya tidak semua topik benar-benar saya sukai. Ini berawal dari tugas di salah mata kuliah yang cukup decisive, sehingga saya harus berpikir mengenai tesis apa yang akan saya ambil. Sekarang ini, di Pascasarjana, bacaan yang saya hadapi berbeda dari topik Hubungan Internasional yang saya pelajari di S1, walaupun masih ada kaitannya. Mulanya saya senang-senang saja mendengarkan kuliah Profesor Tangdilintin, tapi ketika saya mencari rujukan buku kuliahnya, seperti “Poverty and Social Exclusion”, “Social Development”, dan lain-lain, saya ngantuk banget baca bukunya. Sama ngantuknya dengan membaca buku Anthony Giddens mengenai Teori Kapitalisme dan Perubahan Sosial dari Durkheim, Marx, dan Weber.


Kemudian ingatan saya mundur beberapa tahun ke belakang, dan mulai mempertanyakan kembali, “Jadi sebenernya bidang ilmu yang cocok dengan saya apa, ya?” Pertanyaan itu mungkin kelewat terlambat, karena saya sendiri sudah lulus dari S1 sejak dua tahun lalu. Bahkan, sempat berkuliah S1 di dua tempat dan jurusan yang berbeda. Tapi, sampai saat ini masih ada sisa-sisa yang mengganjal. Jika memutar waktu, di ujung masa SMU dulu, saya sempat bingung juga : mau ngambil jurusan apa, ya? Maksudnya, jurusan yang cocok dengan saya. Yang pertama, Teknik, yang jadi mainstream anak-anak IPA waktu itu (selain kedokteran), saya merasa tidak cocok sama sekali. Nilai Fisika saya standar, dan melihat apa yang dipelajari di masa matrikulasi seorang mahasiswa Teknik sungguh pusing : Fisika I, Fisika II, dan Fisika III. Can’t help! Kedua, Kedokteran, sebenarnya belum pernah didalami dan dilihat secara langsung, tapi melihat kakak saya belajar Biokimia dan Faal, saya jadi minder sendiri. Apakah saya sanggup? Sepertinya otak saya nggak mampu ke situ. Sebenarnya di antara mata kuliah IPA yang lain, yang paling saya suka adalah Matematika. Berniat mau masuk Statistika, tapi dilarang oleh orang tua, katanya : Mau jadi apa ? Pilihan berikutnya, Ekonomi. Tadinya saya ingin masuk juga jurusan Ekonomi Pembangunan, tapi tidak jadi. Belakangan, merasa beruntung juga tidak masuk Ilmu Ekonomi karena pusing juga dengan ekonometri yang saya lihat di beberapa buku. Akuntansi ? Big No. Saya bermasalah dengan coding. Pilihan terakhir, Hukum. Dalam hati saya, “Kok kayaknya hapalan semua. Bisa mati kutu aku.” Apalagi saya bukan orang yang taat hukum (alias suka curi-curi kesempatan untuk melanggar) dan pusing membaca UU yang berpasal-pasal itu, jadi pilihan untuk kuliah di Fakultas Hukum jauh-jauh ditinggalkan. Sepertinya cuma ada yang di benak saya sebagai siswa SMU dari jurusan IPA memandang.


Lepas dari SMU, bertemulah saya dengan Ilmu Sosial Ekonomi Perikanan (campur aduk banget). Pokoknya mata kuliahnya masih sama dengan SMU banget deh. Yang membuat berbeda dari SMU adalah kesempatan mempelajari buku-buku tebal yang belum pernah saya sentuh sebelumnya di SMU. Beberapa waktu kemudian, saya terpaku di sebuah perpustakaan yang sunyi di atas Danau Dramaga IPB. Rupanya sedang asik membaca buku terbitan CSIS mengenai Indonesia tahun 1990-an. Entah mengapa, dua hari membaca buku itu di perpustakaan hati saya tergerak untuk mempelajari ilmu sosial lebih lanjut. Dan kemudian, setelah lepas dari Kampus Dramaga, terjunlah saya di lautan lepas ilmu sosial yang menurut saya lebih menarik daripada ilmu alam.


Perkenalan pertama, bertemu dengan mata kuliah-mata kuliah Hubungan Internasional, seperti : Sejarah Dunia Modern, Teori Hubungan Internasional, Politik Internasional, Organisasi Internasional, Kajian Strategi, Ekonomi Politik Internasional, dan Diplomasi Modern. Kecanduannya masih pada level 2, alias masih waras. Yang paling jadi discouragement saya adalah mata kuliah Sejarah Dunia Modern dan Kajian Strategi yang sebagian besar bicara mengenai pertahanan keamanan. Dalam hati saya, “Kok kayaknya saya ngantuk banget yah, bicara soal postur pertahanan beserta paramiliternya atau Sejarah Perang Vietnam.” Poin lebih saya berikan pada mata kuliah Teori Hubungan Internasional. Perkenalan kedua di Hubungan Internasional adalah belajar terapan dari teori itu, seperti : Hubungan Internasional di Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Asia Selatan, Politik Global Amerika, Hubungan Internasional di Timor Tengah dan Afrika, Hubungan Internasional di Eropa, Jepang dan Negara Industri Baru, atau Hubungan Internasional di Amerika. Kecanduan saya sudah berada pada level 4, alias sudah hampir ekstase. Menurut saya, ternyata lebih menarik mempelajari HI dengan melihat pada dinamika masalah di tingkat kawasan. Dinamikanya pun beraneka ragam, mulai dar dinamika politik, ekonomi, dan sosial (misalnya masalah migrasi, pengungsi, atau ancaman-ancaman baru). Analisis saya, ini karena saya lebih cenderung berpikir empirik ketimbang berpikir di alam ide. Empirisme dalam belajar HI ini juga membuat saya sering bertanya-tanya pada hal-hal yang ada di masyarakat, seperti misalnya pertanyaan Mengapa masyarakat negara A miskin? Mengapa ide besar mengenai nasionalisme tidak bisa menyentuh masyarakat perbatasan? Mengapa permasalahan perebutan sumberdaya alam selalu terjadi di kawasan A meskipun militer sudah turun tangan di sana untuk mengatasinya? Dengan pola pikir yang empiris juga, saya kemudian menyelesaikan skripsi dengan dasar keingintahuan mengenai, “Mengapa bantuan internasional ke negara X tidak menyelesaikan masalah kemiskinan di negara itu ? Apa yang salah ?”


Setelah lulus, ketika berselancar ilmu pengetahuan pada institusi yang mengagung-agungkan pendekatan materialisme Marx pun saya tetap saja gundah pada pertanyaan, “Apakah ketergantungan dan ketimpangan hubungan menjadi sebab utama tertinggalnya di sebuah masyarakat atau negara?” Kalau melihat beberapa data yang tersuguh, saya sepertinya yakin. Ternyata keyakinan itu runtuh karena setiap berkunjung ke lapangan, saya selalu menjumpai jawaban, “Kalau buat kami (petani), sederhana saja, bagaimana produk saya bisa laku dan mempunyai nilai jual yang tinggi.” Bukan masalah agribisnis yang ingin dikritisi, tapi ada sistem perilaku tertentu yang telah hidup di masyarakat.



Kemudian pengembaraan itu sampai pada kubu ilmu baru yakni Pembangunan Sosial (yang dikelola oleh Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial). Dalam ilmu ini, saya belajar tiga level intervensi sosial yang bisa merubah “nasib” sekelompok masyarakat : level mikro yakni di tingkat individu dan keluarga, level mezzo di tingkat komunitas, dan level makro di tingkat komunitas serta kebijakan. Ketika duduk di kelas Dinamika Perilaku Manusia yang membahas secara mikro, saya seperti mendapat suntikan amunisi baru. Psikoanalisis, Behavioralisme, dan Humanistik menjadi alat bedah baru dalam memahami mengapa masyarakat begini dan mengapa pembangunan tidak berjalan. Baru beberapa hari membaca sebuah buku berjudul Essentials of Psychology karangan Benjamin Lahey, sepertinya saya tingkat kecanduan saya sudah mencapai level 4,8 !!! Freud, Carl Jung, Karen Horney, Erikson, Maslow, Skinner, Kohlberg, Watson, you’re all rocks !!!


Kata orang perasaan suka itu bisa datang tiba-tiba dan bisa pula tiba-tiba menghilang. Mungkin saat ini ekstase saya yang mendalam karena empirisme ini tiba-tiba bisa mendarat dengan tepat. Ruang bifurkasi antara rasionalisme – empirisme menemukan keseimbangan atau equilibrium yang baru. Seperti secangkir kopi yang menemukan takaran yang pas antara kopi dan gulanya. Kalau di awal saya menyebutkan kalau saya empiris, bukan berarti saya tidak meletakkan ide (rasio) sama sekali. Justru karena saya empiris, maka untuk menjawab kegelisahan empiris, saya berpikir mengenai ide-ide secara logis kan ?


Narsisme yang muncul berikutnya adalah perasaan lega yang mengatakan, “Ahh, there I am !!” Oleh karena itu, mungkin ini yang menjadikan jawaban atas olok-olok ketika zaman mahasiswa dulu. Ketika ditanya, “Jadi Juno ini hijau, merah, atau biru sih? Kok nggak jelas gitu. ” Maka ada yang menjawabnya dengan, “Nggak tau. Tengah kali, ya.” Mungkin kecuekan saya terhadap ideologi adalah karena saya melihat ideologi tidak relevan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada. Ideologi adalah sesuatu yang secara nilai bisa benar, tapi belum tentu benar secara kognitif. Terkait dengan ideologisasi, menurut saya, dari sudut pandang pemikiran Piaget bisa dinyatakan, “Jangan-jangan mekanisme pergaulan dalam lingkaran ideologi itu yang menjadi pembelajaran sosial (social learning) untuk bersikap dan bertindak seperti ideolog?” Yang paling tepat, menurut saya, adalah sikap empiris yang diturunkan menjadi sikap yang reflektif.

Minggu, 09 November 2008

Otonomi Daerah dan Perut yang Kosong


Di suatu siang yang menjemukan, kami terlibat diskusi yang dengan seorang dosen yang pemikirannya tidak pernah menjemukan. Penyandang gelar profesor itu bertanya kepada seisi kelas kami, “Apakah menurut kalian pembangunan sosial sudah berjalan di Indonesia?” Ada seribu jawaban di sana. Ada seribu bantahan mengiringinya. Sampai pada satu titik, kami mendiskusikan mengenai otonomi daerah, yang saat ini menjadi arah pembangunan di negeri ini. Otonomi daerah bukan saja dibicarakan secara hangat oleh pembuat kebijakan, tapi juga dicatat oleh kamera wartawan yang meliput kerusuhan di daerah-daerah karena ketidakpuasan hasil Pilkada.

Dari salah seorang staf pemerintahan, saya mendengar bahwa biaya untuk menyelenggarakan Pilkada Jawa Timur adalah sebesar 900 milyar rupiah. Jumlah yang cukup fantastis. Biaya yang dikeluarkan ini hanya salah satu gambaran biaya yang ada di satu provinsi. Biaya yang ada di depan mata lainnya adalah biaya pemekaran provinsi atau kabupaten/kotamadya. Pemekaran sebuah provinsi atau kotamadya memakan biaya yang tidak sedikit. Kalau dihitung secara sederhana saja : Berapa uang yang harus keluar untuk membentuk kantor pemerintahan daerah beserta dinas-dinasnya sekaligus untuk menggaji semua stafnya. Tidak sedikit.

Tapi, kebanyakan dari berita otonomi daerah yang nampak di televisi tidak menggembirakan. Kerusuhan, ketidakpuasan, bahkan kemiskinan masih menjerat warga yang daerahnya sudah diotonomikan. Kalau dilihat lebih jauh pun, pendapatan asli daerah (PAD) tidak bisa sepenuhnya menopang pengeluaran di daerah tersebut. Di daerah-daerah yang PAD-nya masih minim, pemerintah pusat mensuplai banyak. Artinya, otonomi hanya terletak pada kekuasaan eksekutif saja. Beberapa daerah masih tergantung dari pusat untuk pendanaan.

Yang meruak dari otonomi daerah pasca keluarnya UU No.32 tahun 2004 adalah motivasi untuk menjadi pemegang kekuasaan di daerah. Fenomena munculnya raja-raja kecil di daerah sudah banyak dianalisis oleh sosiolog atau ilmuwan politik. Kue kekuasaan yang sudah terbagi ini kemudian menjadi ‘bancakan’ bagi mereka yang duduk di pemerintahan daerah. Beberapa daerah kemudian gagap dalam menyusun alokasi belanja pemerintah daerah. Pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya menjadi alasan bagi terbentuknya pemerintah daerah yang lebih otonom kadangala tidak tercakup, karena orientasi pemerintahan daerah adalah pembangunan fisik : membangun jalan, membangun stadion olahraga, atau membangun gapura selamat datang.

Kembali dalam pertanyaan di atas, apakah pembangunan sosial sudah berjalan di negeri ini, ternyata pembangunan yang mengarah pada otonomi daerah tidak lantas melahirkan pembangunan sosial yang bericirikan “bottom-up”. Pendek kata, pembangunan sosial hanya dimaknai pembangunan yang berasal dari atas, tanpa ada timbal balik dari masyarakat, meskipun sudah secara politik sudah menjalankan otonomi daerah. Karena dalam pendekatan pembangunan dari bawah yang dilakukan dalam otonomi daerah, kebanyakan tidak optimal. Wacana “pembangunan dari bawah” – yang masih asing di masyarakat- tidak seharusnya disikapi dengan institusionalisme pembangunan di tingkat lokal. Ibarat cermin, wacana seharusnya dipantulkan kembali dengan wacana. Membangkitkan alam wacana adalah dengan menggerakkan nilai-nilai. Itu artinya sebelum mendemokratisasikan pemerintahan, nilai-nilai demokrasi yang seharusnya ditanamkan di masyarakat. Sebelum memberdayakan institusi pemerintahan lokal, seharusnya nilai-nilai “berdaya” yang harus ditanamkan di masyarakat. Thee Kian Wie, salah satu ekonom Indonesia pernah berkomentar di bukunya, “ Beginilah akibatnya kalau demokrasi di Indonesia dilakukan dengan kondisi perut yang lapar.” Dalam konteks ini, bisa dimaknai bahwa karena masyarakat tidak “berdaya”, dan yang tersedia untuk disantap adalah kue kekuasaan yang makin banyak (karena demokrasi), maka yang terjadi adalah berebut kue itu agar mereka kenyang dan berdaya. [J]

Badut (Sebuah Fiksi)

Alika malu punya bapak seorang badut sirkus. Tiap kali Alika masuk ke ruang kelas, semua mata seolah tertuju padanya. Hanya ingin mengatakan satu hal : Alika anak pemain badut ! Begitu yang ia rasakan.

Kegelisahan Alika makin menjadi-jadi tatkala Deon dan gank-nya mengolok-olok Alika ketika istirahat tiba. ”Alika, adik gue mau ulang tahun nih. Bokap lo bisa datang nggak?” Atau, ”Pantesan lo suka makan donat, Lik. Orang bokap lo aja mukanya kayak donat!” Biasanya, olokan itu diiringi gelak tawa teman-teman Deon lainnya.

Deon memang keterlaluan. Tapi beberapa guru dan siswa-siswi lain menganggap hal itu sebagai sebuah hal yang lumrah. Keluarganya adalah keluarga terpandang. Bapaknya saja pengusaha yang punya jabatan di pemerintahan. Semua guru tahu berapa sumbangan yang diberikan oleh orang tua Deon ketika ia memasuki sekolah ini.

Alika bersekolah di sebuah es-em-pe negeri yang terbilang favorit di kotanya. Beruntung Alika bisa masuk ke sekolah itu. Berkat keenceran otaknya, Alika masuk ke sekolah itu tanpa hambatan. Beberapa teman Alika tergolong biasa-biasa saja, bahkan ada yang cenderung berkekurangan, namun ada juga yang bergaya elit. Tidak semua mereka yang anak jenderal, walikota, pengusaha, dan lainlainnya bisa lolos seleksi Nilai Ebtanas Murni (NEM). Ada juga yang beli bangku.

Teman Alika berasal dari latar belakang yang beragam. Danti, teman sebangkunya, anak seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Aldo, si ketua kelas, adalah anak kolong. Tampilannya pun disesuaikan dengan anak kolong : rambut cepak dengan tubuh yang tegap. Reisya, teman yang sering pulang bersama Alika, adalah anak seorang manajer hotel kenamaan. Sepulang sekolah, biasanya Reisya dan Alika naik mikrolet bersama. Bagi mereka perbedaan status sosial tidak menjadi masalah. Sedang Ahmad, yang sering meminjam catatan-catatan Alika, adalah orang yang paling sebal dengan perlakuan Deon terhadap Alika.

Kenapa sih, bapakku seorang pemain badut ? Apa Bapak nggak bisa ganti pekerjaan saja ? Begitu yang selalu dipikirkan Alika setiap hari.

”Kenapa Bapak tidak berhenti saja menjadi seorang badut sirkus ? ” tanya Alika suatu hari kepada bapaknya.

”Alika, nggak boleh begitu. Bapak yang membayar uang sekolah kamu.Bapak juga yang memberikan makanan bergizi yang kita makan setiap hari, ” pungkas Ibu Alika.

”Tapi kan, Alika malu, diledekin terus sama teman-teman di sekolah, ” kilah Alika cepat.

Braak. Pintu kamar Bapak dan Ibu Alika ditutup dengan kasar. Kedua orang tua Alika hanya bisa menghela nafas pelan.

Lama-lama, teman-teman Alika sudah lupa dengan ejekan itu. Tapi Alika masih gelisah tiap hari. Ketika ia berjalan di lorong kelas, Alika merasa ada yang menertawakan Alika di belakangnya. Ketika ia maju di depan kelas, Alika merasa seolah-olah semua mata memandang kepadanya seraya membatin, ”Badut.” Hingga Alika merasa tempat paling nyaman untuknya adalah toilet belakang laboratorium IPA. Di situ ia bisa menertawakan dirinya sendiri. Sembunyi dari kenyataan yang begitu pahit buatnya. Sekaligus sambil membaca buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Begitu bel istirahat berbunyi dua kali – tanda istirahat telah selesai- ia bergegas bangkit dari panggung yang ia ciptakan sendiri.

Panggung yang ada di luar toilet terlalu masam untuknya. Meskipun sebenarnya badut sirkus dari negeri nyata itu tak pernah menghampiri Alika di panggung di luar toilet, namun Alika merasa ia telah bertransformasi menjadi seorang badut. Sangat lucu untuk ditertawakan penonton panggung.

Sementara itu, badut sirkus yang sebenarnya sedang mengurai keringatnya. Berjalan dari satu

panggung ke panggung lainnya. Memainkan permainan yang tidak semua orang bisa : trampolin, permainan tongkat, atau sulap. Menuai tepuk tangan dari penonton. Diajak berfoto bersama dengan anak-anak seusia es-de dan te-ka.

Sepertinya lain. Badut sirkus sangat menikmati perannya di sebuah panggung. Sedang badut kecil itu sangat tersiksa dengan bayangan badutnya. Badut sirkus juga perlahan mulai menambah tebal kantongnya. Beberapa kali pertunjukan ia suguhkan kepada warga negara asing di kota itu yang mengadakan pesta ulang tahun untuk anak-anak mereka. Sungguh itu sangat berarti, tak hanya untuk sekadar menyeka keringatnya, tapi juga untuk menghidupi si badut kecil.

”Kamu tahu kenapa topeng badut itu selalu tertawa Lik? ” tanya Bapak Alika suatu hari, ketika Alika sudah beranjak dewasa. Alika hanya menggeleng lemah, seraya meneruskan jahitan roknya yang berwarna abu-abu yang akan dikenakannya besok dalam upacara bendera di sekolah. Alika kini sudah memasuki bangku SMU. ”Karena badut selalu berjiwa besar. Ia tidak akan sakit hati dan putus asa jika mendapat banyak cemooh.”

Lalu Bapak Alika kembali mengelap kostum badut-badutnya. Topeng-topeng itu seolah kembali menertawakan Alika. Alika luruh dalam sedih dan kecewa. Topeng yang dihiasi bagian tubuh yang hiperbolis itu menatap Alika. Seolah ingin mengatakan, ”Jangan bersedih. Semua yang ada dalam kostum yang hiperbolis ini hanyalah tanda semata. Topeng ini bukan realitas dari hidup Alika.”

Realitasnya, Alika bisa bersekolah dengan lancar dan memperoleh nilai-nilai gemilang. Realitasnya, Ibu Alika sekarang bisa membuka usaha kecil-kecilan dari topeng ini. Topeng ini hanya tanda.

****

Washington, di sebuah musim semi yang indah

Toilet dingin di sudut kantor itu mengingatkan gadis manis itu pada masa remajanya.Gadis itu masih senang berlama-lama dalam toilet. Entah apa yang ia pikirkan, tapi gadis itu selalu merasa dalam keadaan chaos dan order ketika merenung dalam toilet. Titik itulah yang membuatnya nyaman. ”Seperti mendamaikan oposisi biner,” katanya.

”Alika, is that you?”

“Yeah...Cussie?”

”Come on, Alika. What have you done that long there? You need yoga class, ha ?”

“I’ve just...remembered my childhood, Cussie. Are there any business?”

“Come on, dear. You have to follow yoga class. Please come with me every Wednesday, a fter office hours. O , ya, Matthew is looking for you. He needs your assistance.”

“Allright. I’m coming soon.”

Gadis itu segera membuka selot toilet. Ia merapikan blazer-nya yang sedikit kusut di bagian belakang. Lantas, bergegas menuju ke meja kerjanya.

Alika Suhandono.Anak badut sirkus itu baru saja merampungkan studi master Public Policy di George Washington University. Ia mendapatkan beasiswa Fullbright dan beberapa sponsor lain. Saat ini ia bekerja di sebuah kantor Perserikatan Bangsa-bangsa di Washington untuk program hak asasi manusia. Ia hanya berharap visanya bisa terus diperpanjang. Agar ia bisa terus berada dalam toilet barunya : Amerika Serikat.

Di negeri ini, Alika tak akan lagi teringat pada badut-badut lucu yang menertawakannya. Juga tak ada lagi yang mengolok dia sebagai anak tukang sirkus. Yang orang-orang tahu adalah Alika yang cerdas. Alika yang lulus dari Washington University dengan predikat cumlaude. Alika yang ditawari beberapa pekerjaan di tempat-tempat prestisius.

Setelah merampungkan pekerjaannya, Alika memberesi semua barang-barangnya.Ia tidak langsung pulang ke flat-nya. Sore ini ada pesta ramah tamah duta besar baru di KBRI. Semua mahasiswa Indonesia yang ada di Washington diundang, termasuk Alika yang pernah menjadi sekretaris untuk Ikatan Mahasiswa Indonesia di sana. SMS dari Aryo, teman dekatnya, membuat ia semakin tergesa.

”Buruan lik. dah mo mulai ni. ada mhs baru juga.”

Alika menyetop bis yang menuju ke arah kedutaan Indonesia. Di dalam bis, ia menyaksikan

pertunjukan badut-badut di taman kota. Beberapa anak kecil nampak tertawa kegirangan. Badut dengan lincah memainkan beberapa atraksi. Atraksi sepeda yang dipilih oleh badut-badut itu untuk menghibur anak-anak. Alika sendiri sekarang sudah sedikit merasa nyaman dengan badut –badut itu. Ia sudah menemukan keseimbangan antara chaos dan order-nya.

Pesta dimulai tepat pukul enam dengan diawali basa-basi pidato duta besar baru.Alika tidak terlalu tertarik mendengarkan pidato itu. Ia banyak berbincang-bincang dengan Aryo dan Nimas, temanteman baiknya. Tiba-tiba ada yang mengagetkan Alika. Punggungnya ditepuk dari belakang oleh seseorang ketika ia masih ngobrol dengan Aryo. Alika berbalik untuk melihat siapa gerangan yang telah menepuknya.

”Deon !”

Laki-laki itu tampak malu-malu sambil menjulurkan tangannya, mengajak Alika bersalaman.

”Kamu disini juga sekarang?” Sosok Alika terlihat lebih percaya diri. Tidak terlihat raut kesal karena lelaki ini yang telah memperoloknya sewaktu dia duduk di bangku es-em-pe.

”Iya, gue mahasiswa baru. Tapi gue sih nggak dapet beasiswa kayak lo. Gue ngambil studi tata kota di Arizona State University. Ini gue lagi mampir aja ke Washington. Kebetulan dubesnya temen bokap gue,” jawab Deon dengan ramah. Jauh lebih ramah ketika mereka masih duduk di bangku putih biru.

”It’s like junior high reunion! Ha-ha-ha,” Alika tertawa.

”Lik, jaman kita es-em-pe dulu, gue nggak sopan banget ya.”

”Udahlah.Forget it”

”Iya, sih, dengan kondisi lo saat ini, lo bisa bilang sudahlah.”

Lika tertawa. Begitu pun dengan Deon. Suasana sudah cair.

”Oya, apa kabar bokap lo? Katanya ....”

Deon segera menimpali, ”Ya, pasti lo semua tahu lah cerita tentang bokap gue. ”

Bapak Deon menduduki jabatan sebagai ketua salah satu partai di Indonesia. Ia diangkat menjadi seorang menteri di pemerintahan saat ini. Namun, belakangan Bapak Deon dicokok polisi lantaran korupsi yang dilakukannya senilai miliaran rupiah. Berita mengenai korupsi yang dilakukan Bapak Deon ini cukup membuat heboh media-media nasional, hingga tercium sampai ke Washington.

”Seharusnya lo bangga sama bokap lo,” Deon memandangi Alika lekat.

”Tapi lo yang menghancurkan kebanggaan gue terhadap Bapak?” Alika setengah protes.

”Meskipun bokap lo seorang badut sirkus, ia bukan badut politik yang terlihat manis di luar namun sesungguhnya tikus korup di dalam. Badut politik hanyalah sampah masyarakat.”

Alika hanya tersenyum dalam hati.Senyum kemenangan yang selama ini tertahan karena ia selalu minder dengan apa yang ia punyai.Mungkin setelah ini Alika akan merenung dalam toilet flat-nya. Ia ingin berada dalam imajinasi bersama topeng-topeng badut Bapaknya. Sambil bergumam kecil, ” Ketika topeng dibuka, badut bukanlah seorang badut gembul lagi. Ia adalah segurat wajah keriput dengan keringat bercucuran di sekujur kepala untuk kehidupan yang lebih baik.” [J]

Kamis, 30 Oktober 2008

Kehidupan adalah Ibu

Kebetulan kamarku berada di lantai dua. Dari beranda kamar, aku bisa mengamati deretan pepohonan yang tingginya hampir sama dengan lantai di mana saya berpijak. Tak begitu rimbun memang, namun cukup untuk melakukan observasi kecil-kecilan tentang apa yang ada di terjadi di atas pohon-pohon tersebut. Suatu pagi, aku menjumpai suara-suara yang sayup, tapi cukup khas. Ternyata suara itu adalah suara burung yang sedang sibuk membawa alang-alang ke atas pohon sebuah pohon yang agak rindang. Aku menduga itu adalah pohon mangga, karena memang tidak terlalu jelas dari kejauhan.

Aktivitas si burung itu semula biasa, tapi esok harinya aku melihat alang-alang yang dibawa burung itu makin meninggi dan dari jauh terlihat seperti sarang. Ya, sarang burung yang biasa digunakan untuk mengerami anaknya yang lahir ke muka bumi. Kemudian, ketika aku browsing di internet, ternyata cara seorang burung betina membuat sarang sangat luar biasa (untuk ukuran seekor burung). Burung merajut jerami atau alang-alang itu yang dibuat menjadi sebuah bentuk mirip mangkok yang kemudian akan menjadi sarang bagi anaknya. Burung memilih bahan-bahan yang berbeda untuk masing-masing lapisan sarang. Untuk membuat dasar sarang, di lapisan terluar dibentuk dengan jerami atau alang-alang yang bertekstur keras. Makin ke dalam, dasar sarang dirajut dengan bahan yang bertekstur lembut. Dan di dasar sarang lapisan terdalam, di mana burung akan meletakkan telur dan anaknya di lapisan itu, burung merajut dengan alang-alang yang teksturnya paling halus. Kemudian, ketika anak burung itu beranjak dewasa, ibu akan mengajarkan bagaimana cara mencari makan, bagaimana mengerat cara biji-biji makanan, atau bagaimana harus menyesuaikan diri dengan cuaca dengan cara bermigrasi ke daerah yang lebih hangat.

Sebenarnya insting hewani ini sama sekali tidak mengejutkan, karena memang hewan mempunyai naluri untuk melindungi anaknya – apa yang menjadi miliknya yang ia anggap berharga. Seperti halnya kanguru yang meletakkan anaknya di kantung atau kucing yang selalu membawa anaknya kemanapun dengan cara menggigit anaknya, mungkin begitulah naluri hewan ini. Tapi, inspirasi yang aku tangkap dari kisah sarang burung ini cukup berharga : kehidupan itu adalah ibu. Seorang anak burung yang akan terlahir ke dunia telah dipersiapkan dengan baik oleh seorang ibu. Kekuatan ibu adalah kekuatan untuk merawat dan memelihara kehidupan ini.

Bahasa adalah salah satu hal yang diajarkan orang tua kepada anaknya. Sebenarnya yang diajarkan oleh orang tua, ayah dan ibu, tidak hanya bahasa yang mencakup huruf vokal dan konsonan, yang kemudian dirangkai menjadi kata dan akhirnya menjadi kalimat. Namun, bahasa yang diajarkan lebih luas dari itu. Bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, dan seterusnya, hanyalah simbol dari sebuah konsensus tertentu sebuah komunitas, suku bangsa, atau negara mengenai sebuah makna. Sedang pengajaran bahasa yang lebih substansif adalah pengajaran bahasa optimisme, harapan, atau kasih sayang. Kualifikasi ibu adalah pengajar untuk bahasa-bahasa tersebut. Dikaitkan dengan teori life-span development dari Erikson, di masa awal kehidupan seorang individu membutuhkan arahan untuk mempelajari kepercayaan dasar dalam hidupnya. Jika individu tidak melalui tahap pertama perkembangan masa hidup tersebut dengan sukses, maka ia tumbuh dengan rasa ketidakpercayaan akan apapun hal di dunia ini. Tidak berlebihan rasanya jika aku menyebutkan di awal tulisan ini bahwa kehidupan adalah ibu. [J]