<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119</id><updated>2012-01-28T00:49:46.911-08:00</updated><title type='text'>Junaxiology</title><subtitle type='html'>Selamat datang di lembar corat-coret saya, manusia yang selalu gelisah dan bosan. Pekerjaan saya sehari-hari menuntut analisis ekonomi-politik internasional. Tapi sejujurnya saya lebih menyukai sastra, psikologi dan sains populer. Saya bukanlah pencermat atau pengamat, tapi saya menulis untuk membebaskan diri saya. Semoga bisa diambil manfaatnya :)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-6858362706611528698</id><published>2011-08-07T07:30:00.000-07:00</published><updated>2011-08-07T09:05:46.088-07:00</updated><title type='text'>Soto-soto Paling Enak di Jakarta</title><content type='html'>Soto adalah salah satu kuliner favorit saya.Kayanya masakan Nusantara membuat soto dikenal di hampir seluruh suku bangsa di Indonesia. Di Jakarta, soto mengalami modifikasi, mulai dari soto yang mengusung citarasa khas asli daerah soto tersebut, sampai soto yang menyesuaikan citarasanya dengan lidah penduduk Jakarta. Interpretasi ini sangat mungkin terjadi, karena, misalnya kalau kita memakan empek-empek Palembang di Jakarta, citarasanya akan berbeda ketika memakan empek-empek di kota Palembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya ada soto yang sangat saya sukai, yakni coto Makassar dan soto Banjar. Namun, saya belum menemukan soto Banjar yang sreg di Jakarta. Begitu pula dengan soto Padang yang saya tidak pernah sukai. Sehingga, daftar soto-soto rekomendasi ini tidak lepas dari subjektivitas lidah saya. Berikut adalah soto-soto yang saya temui enak di Jakarta. Keterbatasan geografis untuk menjelajah daerah Jakarta Utara dan Jakarta Barat tidak memungkinkan soto yang enak di daerah tersebut dimuat di blog ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Soto Garuda Tebet &amp; Kemayoran&lt;br /&gt;Ini soto yang paling saya sukai. Letaknya persis di sebelah Stasiun Tebet. Soto yang dijual adalah Soto Kudus, sebuah kota dari provinsi Jawa Tengah. Soto yang satu ini layak dicoba karena kesegaran sotonya, nasinya yang gurih, serta makanan pendamping yang enak, seperti telur puyuh, otak-otak, atau kerupuk kulit. Soto ini cocok dimakan di pagi hari untuk sarapan atau pun siang dan malam hari. Soto Kudus khas, bercitarasa seperti masakan India, karena memang pengaruh Timur Tengah cukup kental di Kudus di era kesunanan dahulu. Soto Garuda ini pusatnya ada di pengkolan Jalan Angkasa - Garuda, Kemayoran, namun juga membuka cabang di Stasiun Tebet. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://id.openrice.com/UserPhoto/photo/0/W/0006H7713E3684E5B7FBDAn.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 285px; height: 190px;" src="http://id.openrice.com/UserPhoto/photo/0/W/0006H7713E3684E5B7FBDAn.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Soto Gading Kalibata&lt;br /&gt;Soto yang layak dicoba berikutnya adalah Soto Gading yang terletak di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Soto ini terletak di dalam kompleks Stasiun Kalibata. Soto ini enak karena bumbunya yang khas. Soto Gading berasal dari Solo, kampung halaman saya. Gading adalah sebuah daerah yang ada di Kecamatan Serengan. Di sana, terdapat sebuah warung soto yang terkenal enak turun-temurun. Berbeda dengan soto di daerah aslinya di Solo yang bercitarasa masam (aroma lemon), di Jakarta kadar masamnya tidak terlalu ekstrim, disesuaikan dengan lidah orang Jakarta. Soto dari Solo terkenal bening, begitu pula dengan Soto Gading Kalibata yang kuahnya juga bening. Saya mengira soto yang paling disukai orang Jakarta adalah Soto Kudus, yang mampu menjembatani berbagai selera suku bangsa di Jakarta. Buat sebagian orang, soto dari Solo mungkin terlalu minimalis, karena tidak bersantan atau tidak banyak bumbu, hanya bening dan sedikit masam. Tapi buat saya itulah magnetnya. Segar, tidak eneg, dan dagingnya berasa. Makanannya pun khas Solo : tahu tempe, di samping telor puyuh dan empal yang tersaji sebagai makanan pendamping. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://novansyah.blogsome.com/images/SotoGading.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 448px; height: 336px;" src="http://novansyah.blogsome.com/images/SotoGading.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Soto Ceker Rawasari&lt;br /&gt;Soto ini terletak di seberang Rutan Salemba, di Jalan Percetakan Negara. Soto ini berjenis Soto Surabaya yang kaya kunir dan kaya bumbu. Lauknya? Tidak tanggung-tanggung. Kalau kita memesan ceker satu piring pun akan diberikan. Beraneka ragam lauk, mulai dari ceker,jeroan, atau telor. Soto ini sangat ramai, walau tempatnya kurang representatif (warung tenda).&lt;br /&gt;Bedanya dengan soto Surabaya / Madura lainnya, soto ini bumbunya pas dan cekernya itu lho...yang membuat kita ingin makan lagi, lagi, dan lagi. Tempat ini sangat well-recommended kalau kamu lagi pengen makan banyak dan puas (tak terbatas). Kata orang tua saya, itulah beda orang Solo dengan orang Surabaya. Orang Solo cenderung makannya ala 'ndoro', alias makan soto dengan mangkuk kecil dan porsi yang reasonable. Sementara, di Surabaya, kebudayaan untuk bebas berekspresi lebih terlihat. Sehingga, kalau makan pun jadinya serba puas !&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2swXd_IJRSY/SyD8YM-OYlI/AAAAAAAACGY/cAYnLcuM-HY/s200/Image021.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2swXd_IJRSY/SyD8YM-OYlI/AAAAAAAACGY/cAYnLcuM-HY/s200/Image021.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Soto Gebrak !!&lt;br /&gt;Soto ini terletak di beberapa tempat di Jakarta, yakni di Margonda Depok dan di Jalan Lapangan Roos Tebet. Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan daerah Tebet hingga dipenuhi dengan makanan-makanan enak dan kreasi yang sangat kreatif. Kalau saya lebih suka Soto Gebrakk di Tebet daripada di Margonda. Pertama, karena bumbunya lebih mantap yang di Tebet dan kedua soto ini sangat khas. Ketika memasak, empunya warung harus menggebrak dahulu adukan sotonya ke kwali. Sehingga terdengar bunyi brakk setiap 5 menit sekali/ setiap ada pesanan. Di Tebet, bunyi brakk nya tidak memekakkan telinga, sementara di Margonda bunyi brakk nya sudah dalam kategori mengganggu. &lt;br /&gt;Di cabang Margonda, warung dipenuhi dengan foto-foto jadul empunya warung dengan artis-artis, seperti Titik Puspa, Krisdayanti, atau Nia Daniati. Menandakan soto itu sudah laris manis sejak dahulu kala. &lt;br /&gt;Soto ini merupakan Soto Madura plus plus yang memang benar-benar Madura. Kuahnya hitam, ada berbagai komponen selain daging ayam. Berbeda dengan Soto Surabaya yang bukan murni Soto Madura karena masih adaptif dengan citarasa suku bangsa Jawa yang suka rasa gurih atau manis, soto ini memang Soto Madura yang nendang. Mangkuknya pun mangkuk besar sehingga penikmat soto puas menikmatinya. Menurut saya, soto ini mencerminkan kebudayaan masyarakat Madura yang jenaka. Bagaimana tidak ? Membuatnya saja pakai gebrakan, sehingga menimbulkan perhatian dari pengunjung. Gebrakan bukan berarti marah, tapi hanya sekadar ledekan dan intermezzo yang menimbulkan kekonyolan. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://escoret.net/blog/wp-content/uploads/2007/06/soto-gebrak.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://escoret.net/blog/wp-content/uploads/2007/06/soto-gebrak.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Soto Mie H. Alie Tebet&lt;br /&gt;Ini adalah soto mie khas Betawi. Penjualnya pun orang Betawi asli dengan peci dan kaos putihnya yang khas. Namanya Babeh Ali. Soto Babeh Ali citarasanya tegas dan padat, mirip kebudayaan Betawi. Padat, karena sotonya lengkap dengan citarasa mie dan kentang yang dominan. Tegas, karena rasanya lurus-lurus saja, tidak terlalu masam, tidak terlalu gurih, tidak terlalu asin, semua dipadukan dengan menghasilkan sebuah kombinasi yang seimbang. Kata orang Betawi, lempeng kayak centong sayur. Soto ini direkomendasikan untuk kamu yang ingin menjajal kuliner-kuliner Nusantara. Mengapa? Rasanya enak dan mereprentasikan citarasa Betawi dan kebudayaan Betawi (Di belakang warung ada masjid dan tiap kali masuk waktu sholat, Babeh sholat di masjid). Berbeda dengan Soto Kudus dan Soto Gading yang dapat dimakan sering-sering karena terdapat variasi dengan penambahan lauk, soto mie ini relatif membosankan jika tiap hari menyantapnya. Mengapa? Karena memang citarasanya yang tegas dan lempeng dan minim improvisasi. Babeh Ali tidak menyediakan makanan pendamping, hanya kerupuk dan teh botol saja. Tapi rasanya memang khas dan enak. Soto mie ini terletak di Jalan Tebet Barat VIII dengan warung tenda-nya yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.tebetbarat.com/rumahmakan/miebaso/sotomiebangali.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 336px; height: 438px;" src="http://www.tebetbarat.com/rumahmakan/miebaso/sotomiebangali.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-6858362706611528698?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/6858362706611528698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=6858362706611528698' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/6858362706611528698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/6858362706611528698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/08/soto-soto-paling-enak-di-jakarta.html' title='Soto-soto Paling Enak di Jakarta'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2swXd_IJRSY/SyD8YM-OYlI/AAAAAAAACGY/cAYnLcuM-HY/s72-c/Image021.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-8297601681380010079</id><published>2011-08-05T14:09:00.000-07:00</published><updated>2011-08-05T14:10:07.455-07:00</updated><title type='text'>Penyiar Radio</title><content type='html'>Kadang saya tertawa geli ketika menjumpai masa kecil saya dalam ingatan. Sewaktu SMP saya pernah mempunyai cita-cita sebagai penyiar radio. Alasannya ? Bukan karena saya suka berkirim-kirim salam di radio seperti kebanyakan remaja di kota saya di akhir dekade 1990-an lampau. Tapi karena saya menyukai musik. Saya sangat terkesima dengan intensifnya musik yang diputar oleh si penyiar. Di samping musik, radio adalah hiburan alternatif bagi saya selain televisi yang didominasi oleh program-program mainstream macam sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai-sampai, pada suatu hari saya ngotot untuk mendaftarkan diri sebagai calon penyiar radio di sebuah rado lokal. Saya mengirimkan contoh suara yang disertai dengan teks tertentu. Kalau mengingat masa-masa itu, saya tertawa. Norak banget, ya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman berganti dan ketika hijrah ke Bogor dan Jakarta, saya menjumpai bahwa radio di kota kecil lebih bernilai bagi pendengarnya dibanding Jakarta yang populasinya sangat besar. Radio di Jakarta segementasinya sangat tajam, dan arahnya bukan radio sebagai komunitas alternatif, tapi radio sebagai komunitas eksistensi diri. Radio membawa identitas tertentu. Misalnya, Radio Prambors di Jakarta identik dengan anak muda tanggung (di bawah 25 tahun) yang hip dan selalu up to date. Musik yang dibawakan pun colorful. Pengikut setia Prambors eksis dari generasi ke generasi sesuai musiknya. Radio Mustang di Jakarta identik dengan penggemar musik-musik yang tidak cengeng dan pendengarnya biasanya bukan usia remaja ( di atas 20 tahun). Berbeda dengan radio di kota kecil, misalnya, PTPN Rasisonia dan SAS FM di Solo. Radio PTPN dan SAS memiliki segmentasi yang hampir mirip, sehingga komunitas yang terbentuk di dalam dua radio itu adalah komunitas yang sering berinteraksi dengan penyiarnya. Semakin sering seseorang pendengar berkesempatan berinteraksi dengan radio dan penyiarnya (misalnya : menang kuis, request lagu, masuk dalam kisah curhat, dll), maka semakin tinggi ikatan pendengar tersebut pada radio itu. Di Bogor juga hampir mirip, bedanya komunitas radio itu tidak sehangat di Solo yang lebih homogen. Di Bogor, seperti radio Lesmana atau KISI FM, memiliki komunitas yang cukup intens, akan tetapi sisi personal dalam menyapa pendengar kurang dan jenis lagu yang diputarkan pun beragam. Sehingga pendengarnya pun beragam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya memang bukan penyiar radio atau bukan pula calon penyiar radio. Namun, saya yakin, semangat untuk menjadi "radio" itu yang mendasari saya menginginkan menjadi seorang penyiar. Dan sampa sekarang semangat itu masih ada. Semangat radio : bercerita, bertutur, dan bergerak bersama musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat radio juga bisa positif di hal lain, kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-8297601681380010079?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/8297601681380010079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=8297601681380010079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/8297601681380010079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/8297601681380010079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/08/penyiar-radio.html' title='Penyiar Radio'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-7082309015459206677</id><published>2011-06-15T11:07:00.000-07:00</published><updated>2011-06-15T11:10:30.370-07:00</updated><title type='text'>Do You Know Your Strength? Think (and Feel) Again Please</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bkk-cCIyZeo/TBR7vP7tjbI/AAAAAAAAAD0/ifWNn7Qh6_s/s1600/head.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 354px; height: 490px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bkk-cCIyZeo/TBR7vP7tjbI/AAAAAAAAAD0/ifWNn7Qh6_s/s1600/head.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;FYI...dituliskan kembali dari artikel di Harian Kompas, Sabtu 4 Juni 2011 yang ditulis oleh Rene Suhardono, disebarkan untuk keperluan sharing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya,saya bekerja sebagai karyawan di sebuah bank swasta. Saat itu saya belum punya pemahaman soal passion ataupun purpose of life. Pilihan bekerja di bank terasa wajar karena relevansi dengan latar belakang pendidikan dan kesempatan memang terbuka. Hasil tes masuk kepegawaian mengindikasikan saya punya kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Kala itu saya pikir inilah validasi yang diperlukan. Motivasi kerja sekadar supaya bisa bahagia  "3 harian" (baca:gaji). Kepedulian cuma pada 1 kata:"Me!" Semua pertimbangan tidak jauh dari kebutuhan untuk tampak keren di hadapan saudara dan teman-teman karena punya kartu nama. Saya bukan termasuk karyawan luar biasa, tetapi karena mudah bergaul saya memperoleh banyak kesempatan memperdalam ilmu perbankan. Saya pikir stength saya adalah perbankan. Selain itu, saya sudah bekerja sesuai dengan strength tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your job is NOT and shall NEVER be your career. Beberapa tahun pun berlalu. Semakin mendalami dunia perbankan, semakin saya merasa asing dan tidak menikmati sebagian besar aktivis yang dijalankan. Banyak cara sudah dicoba, tetapi kebosanan, keresahan, dan ketidakpedulian semakin mendominasi. Belakangan saya menyadari ini problem karier dan tidak akan bisa dipecahkan dengan pendekatan pekerjaan semata. Tidak ada yang salah dengan profesi bankir dan beragam jenis pekerjaan lainnyanadalah sekadar alat-tidak lebih dan tidak kurang. Namun, berhubungan saya hanya paham dunia perbankan, pilihan apa yang bisa saya ambil? Apa jadinya kalau harus berkiprah di luar strength saya? Apakah anda pernah merasakan hal yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You can only start with what you have, NOT what you wish you have. Ada aspek tertentu dalam aktivitas sebagai bankir yang sangat saya nikmati yaitu berinteraksi dengan orang banyak dan merajut kolaborasi yang bermanfaat. Namun, peluang melakukan hal-hal ini tidak lebih dari 5 persen dari waktu dan porsi kerja ketika itu. Angan-angan beralih menjadi rencana untuk membalikkan keadaan dengan berupaya fokus terhadap hal-hal yang saya tahu saya sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your passion may not be something you are good at right now. Saya beruntung masih punya keberanian (baca:kegilaan) untuk melakukan sesuatu. Selain itu, sesuatu itu adalah pilihan untuk hanya menjalankan hal-hal yang saya nikmati dalam satu paket dengan konsekuensinya. Sama sekali tidak mudah, tetapi segalanya seolah dimudahkan saat sudah bisa jujur dengan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whether you think you can or you can't, either way you are you right. Sahabat saya Steven Kosasih mengatakan bahwa banyak orang merasa terpenjara dengan pilihan-pilihan yang mereka buat sendiri. Penjara ini hanya bisa dibongkar dengan kejujuran, keberanian,dan kepedulian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan dahsyat untuk bekerja, berkarya, dan berkontribusi berasal dari dalam diri sendiri saat pikiran dan hati selaras. Your real strength comes from the combination of your passion and clarity of your purpose. Pada kondisi ini, tidak ada yang tidak mungkin dengan izin-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rene Suhardono - CareerCoach&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas, 4 Juni 2011 halaman 35&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-7082309015459206677?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/7082309015459206677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=7082309015459206677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7082309015459206677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7082309015459206677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/06/do-you-know-your-strength-think-and.html' title='Do You Know Your Strength? Think (and Feel) Again Please'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bkk-cCIyZeo/TBR7vP7tjbI/AAAAAAAAAD0/ifWNn7Qh6_s/s72-c/head.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-6012845543498863388</id><published>2011-05-28T12:04:00.000-07:00</published><updated>2011-05-28T12:28:56.856-07:00</updated><title type='text'>Ikuti Kata Hati</title><content type='html'>Sudah seminggu ini saya sibuk dengan urusan membuat CV yang baik. Saya ingin resign dari kantor, karena momennya juga sesuai bebarengan dengan berakhirnya sekolah S2 saya, amiin. Saya berencana melamar kesana kemari dengan bidang ilmu dan pengalaman kerja saya. Tapi, setelah saya baca-baca lagi dan renungkan, apa memang ini yang saya inginkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa benar saya mau bekerja di kantor-kantor tersebut dengan urusan yang tak saya pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menikah, itu pasti. Dan untuk menuju ke arah sana dibutuhkan persiapan materi yang kuat agar tidak banyak masalah nantinya. Saya akhirnya merasa materi menjadi penting, tadinya mungkin tidak terlalu merisaukan masalah itu. Tapi malam ini, setelah saya renungkan lagi, materi dan kerja keras itu penting. Tapi apa dengan cara ini ? Apa kerja keras saya harus saya lakukan di lahan itu ? Bukankah saya sendiri mempunyai sedikit ilmu yang mungkin orang jarang mempunyainya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana saya harus memulai ? Apa saya harus pulang ke kampung dan mau dicap sebagai 'pengangguran'? Itu adalah hal yang paling menyiksa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tadi bapak telepon. Hari Jumat bapak mau ke tempat saya. Saya kemudian berpikir lebih lanjut, kalau saya bisa dipercaya oleh orang tua untuk dapat mengelola keuangan dengan target yang sangat cepat, saya mungkin akan terbantu untuk menyusun business plan itu. Apakah orang tua mau percaya ? Apa saya berhasil ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya orangnya moody, cepat sekali berubah pikiran dan berganti suasana hati. Tentu menjadi tidak mudah untuk mengembangkan diri sendiri karena bisa-bisa saya nggak berkembang karena malas. Tapi, saya juga mempunyai kelemahan cepat jenuh, dan sekalinya jenuh akan mengalami kejenuhan mendalam dan menjadi prokastinator. Selain itu, saya tidak bisa menolak permintaan orang lain walaupun permintaan itu agak mustahil. Di dunia kerja, ini menjadi sulit untuk dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan saya adalah : imajinasi konseptual serta kemampuan investigasi. Saya adalah orang yang sangat menyukai permainan konsep, debat, counter argument, dan juga menyukai "tuduhan". Maksudnya ? Saya suka menuduh, kemudian dari tuduhan ini saya akan berusaha mencari bukti-bukti yang menguatkan saya untuk mendapatkan justifikasi kalau tuduhan saya benar atau salah. Saya lebih suka merumuskannya dengan istilah 'investigasi', daripada riset. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tik tok tik tok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya tahu apa yang ingin saya lakukan sekarang. Mungkin saya tidak perlu menyebar CV, tapi saya akan membuat proposal bisnis yang akan saya kembangkan. #randomthoughts&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-6012845543498863388?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/6012845543498863388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=6012845543498863388' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/6012845543498863388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/6012845543498863388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/05/ikuti-kata-hati.html' title='Ikuti Kata Hati'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-22352510853877433</id><published>2011-05-24T09:12:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T09:43:03.527-07:00</updated><title type='text'>Perubahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Gd2ejQ9p59o/TapetRTAQtI/AAAAAAAAAA4/3SSzSQmZJYc/s1600/hutan+tropis+indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 299px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Gd2ejQ9p59o/TapetRTAQtI/AAAAAAAAAA4/3SSzSQmZJYc/s1600/hutan+tropis+indonesia.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti petir di malam itu&lt;br /&gt;yang sesudahnya hujan turun memecah hening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kesadaran yang dibangkitkan dari ujung kuku&lt;br /&gt;menyerbu ujung saraf yang naik merambat ke atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena perubahan itu kekal, kawan&lt;br /&gt;kau tak bisa menghindarinya&lt;br /&gt;ia adalah naluri alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kawan, apakah kau menyadari jika hari ini&lt;br /&gt;adalah sebuah cerita yang tak teraba di masa lalu&lt;br /&gt;dan tak tersentuh di masa depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena bukan kamu yang memiliki harimu&lt;br /&gt;ia dimiliki oleh kesadaranmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang tumbuh berganti;&lt;br /&gt;seperti Tuhan menciptakan hutan tropis&lt;br /&gt;lalu kesadaran kolektif masyarakat moderen yang memangkasnya menjadi taman bermain&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-22352510853877433?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/22352510853877433/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=22352510853877433' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/22352510853877433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/22352510853877433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/05/perubahan.html' title='Perubahan'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Gd2ejQ9p59o/TapetRTAQtI/AAAAAAAAAA4/3SSzSQmZJYc/s72-c/hutan+tropis+indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-3004290473329207139</id><published>2011-05-24T08:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T09:08:33.601-07:00</updated><title type='text'>Pipi yang Merah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://dere124.files.wordpress.com/2010/03/tangis2.jpg?w=118&amp;h=115"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 115px;" src="http://dere124.files.wordpress.com/2010/03/tangis2.jpg?w=118&amp;h=115" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ibuku mempekerjakan seorang pekerja rumah tangga&lt;br /&gt;dari sejak aku masih kanak-kanak&lt;br /&gt;ia menumpang tidur di rumahku&lt;br /&gt;bersama seorang anak perempuannya yang masih bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka sebut anak itu anak haram - karena lahir tanpa bapak,&lt;br /&gt;pesan mereka yang lebih tua : jangan pernah mendekati anak haram&lt;br /&gt;demi pipi bayi yang masih memerah&lt;br /&gt;tak kutahu apa dosa anak haram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak itu kemudian berlari membuntuti layang-layangku&lt;br /&gt;dan aku membelikan anak itu mainan boneka kertas di halaman SD ku,&lt;br /&gt;agar ia bahagia&lt;br /&gt;karena hidupnya terkucil dari orang-orang yang sekadar ingin tahu siapa bapaknya yang seorang juru setir itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya memiliki pipi yang memerah&lt;br /&gt;karena terus menerus dipapar sinar matahari &lt;br /&gt;membantu ibuku menjajakan beras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mengetahui rumah pekerja rumah tangga itu&lt;br /&gt;aku tak bisa membayangkan jika mereka tak ditampung di rumahku&lt;br /&gt;rumah mereka berdinding anyaman bambu&lt;br /&gt;dan beralas tanah&lt;br /&gt;dengan sinar matahari yang mengintip di balik bilik bambu&lt;br /&gt;dengan luas tiga kali tiga meter persegi&lt;br /&gt;di pekarangan belakang seorang kerabatnya&lt;br /&gt;tanpa kursi dan meja ; hanya tempat tidur dari kayu &lt;br /&gt;Oalah Gusti, ini yang mereka harus bayar karena ayah si anak tak mau menafkahi mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari kujumpai ibuku memarahi pekerja itu,&lt;br /&gt;karena kedapatan mencuri uang dari saku kemeja ayah yang dicucinya&lt;br /&gt;Satu waktu kujumpai kakakku menegur keras pekerja itu,&lt;br /&gt;karena kedapatan mengutil shampoo dan peralatan mandi lainnya yang tak dapat dibelinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kataku dalam hati :&lt;br /&gt;beginilah nasib menjadi orang miskin&lt;br /&gt;akhirnya menjadi pencuri dan menjadi pelanggar norma&lt;br /&gt;karena mereka tak sanggup membeli kenikmatan-kenikmatan dunia itu &lt;br /&gt;mereka tak mampu berkata-kata dalam dunia yang riuh rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dengan pipi merah,&lt;br /&gt;pipi merah pertanda kerja keras&lt;br /&gt;harus dibayar segala cela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku, kapankah dunia ini dapat berlaku adil bagi si pipi merah ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-3004290473329207139?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/3004290473329207139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=3004290473329207139' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/3004290473329207139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/3004290473329207139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/05/pipi-yang-merah.html' title='Pipi yang Merah'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-7069712135505468516</id><published>2011-05-24T07:25:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T08:29:29.470-07:00</updated><title type='text'>Bocah yang Bermain di Sungai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FsPrcdZqTMs/TUwtcV-UQzI/AAAAAAAAAkw/jIIB96Wh8KQ/s1600/dlundung2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 480px; height: 720px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FsPrcdZqTMs/TUwtcV-UQzI/AAAAAAAAAkw/jIIB96Wh8KQ/s1600/dlundung2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh satu tahun lalu,&lt;br /&gt;di sebuah desa yang senyap&lt;br /&gt;hanya ada pertunjukan ketoprak di televisi pukul delapan malam &lt;br /&gt;dan persawahan yang membentang seluas mata memandang, seperti horizon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiga orang bocah kecil sedang mencari ikan di sungai&lt;br /&gt;riang bermain dalam beningnya air kali&lt;br /&gt;bedanya ;&lt;br /&gt;seorang bocah menangkap ikan untuk dimainkan&lt;br /&gt;sedang dua bocah lainnya menangkap ikan untuk dimakan&lt;br /&gt;sebagai teman bakul nasi yang kadang tak mengepul di rumah mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ketika bocah kecil itu &lt;br /&gt;bermain ke rumah dua bocah kawannya&lt;br /&gt;betapa terkejutnya ia&lt;br /&gt;kawannya hanya mempunyai pensil,&lt;br /&gt;tak mempunyai pena atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;crayon &lt;/span&gt;seperti dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara itu bayangan itu terus membekas dalam diri bocah yang bermain : &lt;br /&gt;rumah-rumah yang berdebu, kantong plastik yang dijadikan tas sekolah, dan ikan yang dicari di sungai untuk dimakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelas tahun kemudian, &lt;br /&gt;bocah itu memasuki bangku perkuliahan&lt;br /&gt;ia jauh lebih beruntung dari dua kawannya yang tak punya pena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diam-diam, dalam perkuliahan yang riuh&lt;br /&gt;bocah itu menyimpan dendam teramat dalam&lt;br /&gt;pada kehidupan kota, pada kepalsuan dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang ia lihat belasan tahun lalu&lt;br /&gt;adalah dunia yang tak pernah adil&lt;br /&gt;bocah-bocah di pedesaan tak bisa berbahasa Indonesia dengan benar, bocah-bocah tak bisa mengucap kata-kata bahasa Inggris&lt;br /&gt;bukan karena mereka bodoh&lt;br /&gt;tapi dibodohkan oleh kemiskinan yang membelit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dendam itu terus disimpan, sampai akhirnya pengajar memutuskan kelulusan bocah itu dari bangku kuliah.&lt;br /&gt;dan bocah itu lebih senang mengeksploitasi dendamnya ; konflik dirinya&lt;br /&gt;daripada berfokus pada alam sadarnya, membangun hidup dan kehidupan setelah kuliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan pada hari ini,&lt;br /&gt;bocah itu dengan tegak berdiri untuk membela nasib kawan kecilnya&lt;br /&gt;yang sekarang tak pernah ia temui lagi di kampung halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atas nama masa kecil yang menorehkan luka&lt;br /&gt;bocah itu bertahan dari cemooh orang-orang pintar&lt;br /&gt;yang mengatakan :&lt;br /&gt;pekerjaannya tidak pernah rasional&lt;br /&gt;selalu mengatasnamakan petani, padahal petani malas dan harus bisa berkompetisi&lt;br /&gt;selalu menyatakan pesimisme atas dunia ini, padahal cendekia sudah membangun kemajuan dari hari ke hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan cendekia yang terhormat mungkin tak pernah merasakan dinginnya sungai &lt;br /&gt;dan tidak pernah tidak mempunyai pena &lt;br /&gt;atas nama masa kecil yang menorehkan luka&lt;br /&gt;bocah itu menanam dendam&lt;br /&gt;bocah itu menolak tunduk dalam rasionalitas Tuan cendekia&lt;br /&gt;dan sayangnya,&lt;br /&gt;bocah itu aku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-7069712135505468516?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/7069712135505468516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=7069712135505468516' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7069712135505468516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7069712135505468516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/05/dua-puluh-satu-tahun-lalu-di-sebuah.html' title='Bocah yang Bermain di Sungai'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FsPrcdZqTMs/TUwtcV-UQzI/AAAAAAAAAkw/jIIB96Wh8KQ/s72-c/dlundung2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-7431841279139902788</id><published>2011-05-17T11:51:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T08:24:06.098-07:00</updated><title type='text'>Dalam Penjara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-QGP6yR0BWdg/TYsCGL-mKiI/AAAAAAAAAD0/a98Gmz2oe7k/s1600/20101214Penjara.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 413px; height: 310px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-QGP6yR0BWdg/TYsCGL-mKiI/AAAAAAAAAD0/a98Gmz2oe7k/s1600/20101214Penjara.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku telah membaca Kahlil Gibran beberapa kali&lt;br /&gt;pula membaca Kapital karya Karl Marx&lt;br /&gt;dan juga kompilasi pemikiran Nietszche &lt;br /&gt;tapi tak jua bisa kulawan dominasi Ayahku, Ibuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah membaca cerita tentang perompakan terhadap petani, nelayan, atau pun buruh&lt;br /&gt;yang terpinggirkan secara struktural&lt;br /&gt;tapi aku tak bisa membantu perubahan itu sekejap mata&lt;br /&gt;aku hanya membuatnya setetes demi setetes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku adalah makhluk yang lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah aku bisa memilih di dunia mana aku tinggal ?&lt;br /&gt;bisakah aku memilih siapa bapak ibuku ?&lt;br /&gt;bisakah aku memilih otak macam apa yang kupunya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena mereka terberi,&lt;br /&gt;ketika perpustakaan pertamaku membesarkan aku dalam kandungan, melahirkan akhirnya mengajariku untuk merangkak, berjalan, dan berbicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kesadaran diperoleh ketika kita sudah meraih tahap-tahap itu&lt;br /&gt;saat detik dan menit telah disadari ; ketika baik dan benar telah diputuskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa kita bermimpi mengenai kebebasan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita hidup dalam penjara&lt;br /&gt;yang harus kita racik sendiri ; karena  kitalah dekorator dan arsitek dari penjara itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang, di sudut lain ada orang dipasung&lt;br /&gt;atau dimasukkan dalam rumah perawatan&lt;br /&gt;dikerangkeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulunya pengalaman terpenjara itu terenggut!&lt;br /&gt;Mereka anggap seolah dunia ini tak berbatas&lt;br /&gt;karena euforia mereka mengenai kebebasan begitu tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga keadaan tak-sadar menghinggapi mereka ; mereka lupa akan penjaranya&lt;br /&gt;Karena mereka ditekan sedemikian rupa, tak bisa mendekorasi dan menggambar penjara mereka&lt;br /&gt;penjara mereka ditentukan oleh nasib buruk mereka yang menggiling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di kamar-kamar itu kulihat&lt;br /&gt;ibu yang memaki anaknya ; bapak yang memukul anaknya&lt;br /&gt;mereka menciptakan penjara buat anaknya&lt;br /&gt;hingga saatnya anak-anak mereka harus menciptakan penjara sendiri, anak-anak itu tak tahu bagaimana harus mendekorasinya&lt;br /&gt;karena di masa kecil mereka tak diajarkan membuat penjara&lt;br /&gt;orang tua telah menaruhnya di dalam penjara orang tua sendiri&lt;br /&gt;lalu menguncinya rapat-rapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sudut itu kulihat&lt;br /&gt;mereka yang buta mata dan tuli telinga&lt;br /&gt;tak pernah dapat keluar dari penjara yang begitu sunyi&lt;br /&gt;Mata yang terpenjara dalam warna hitam gulita ; dan telinga yang terpenjara dalam hening&lt;br /&gt;tapi hati mereka bebas berkelana&lt;br /&gt;mengajari kearifan hidup &lt;br /&gt;karena, mereka telah merasakan bagaimana harus hidup di dalam penjara itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-7431841279139902788?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/7431841279139902788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=7431841279139902788' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7431841279139902788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7431841279139902788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/05/dalam-penjara.html' title='Dalam Penjara'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QGP6yR0BWdg/TYsCGL-mKiI/AAAAAAAAAD0/a98Gmz2oe7k/s72-c/20101214Penjara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-1413074607840910438</id><published>2011-05-15T10:20:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T07:23:18.402-07:00</updated><title type='text'>Apakah Cinta Memiliki Sayap ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MCRPLpoZj-E/SWhEUczVWbI/AAAAAAAAAAw/qFRbqlLAwKo/S660/Sayap.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 448px; height: 336px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MCRPLpoZj-E/SWhEUczVWbI/AAAAAAAAAAw/qFRbqlLAwKo/S660/Sayap.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Does love have wings ? If yes, there will be many broken heart seeing beautiful paradise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tidak. Realitasnya, cinta tak bisa terkepak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah istilah 'cinta yang salah' ? Buatku, tidak pernah ada cinta yang salah. Ia hanya menyesuaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedihnya, ketika cinta tak disambut, ia tak akan sudi membagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati selalu mencari hati yang dicintai. Ia pergi, bahkan hanya menanyakan bagaimana kabar, keadaan, atau perkembangan terbaru.Sekadar menjaga perasaan, agar tak terlalu sakit hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktu yang menenggelamkan semua cerita indah. Berlalu seperti pasir menenggelamkan jejak-jejak kaki di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika sekarang dia sudah bahagia dengan orang yang dipilih, dan dia menanyakan padaku : Apakah masih aku mencintaimu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Masih. Karena cinta tak pernah salah. Cinta tak menilai rasio, baik buruk, tapi adanya dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang malam ini cinta tak bisa menerbangkan hati. Agar cinta itu bisa dibagi. Tapi aku percaya, semesta punya banyak cinta yang tak bisa dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku tak bisa terbang ke hatinya, maka aku akan terbang ke luasnya cinta semesta :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-1413074607840910438?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/1413074607840910438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=1413074607840910438' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1413074607840910438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1413074607840910438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/05/apakah-cinta-memiliki-sayap.html' title='Apakah Cinta Memiliki Sayap ?'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MCRPLpoZj-E/SWhEUczVWbI/AAAAAAAAAAw/qFRbqlLAwKo/s72-c/Sayap.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-5292086689427281966</id><published>2011-05-14T03:02:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T04:00:34.265-07:00</updated><title type='text'>Imajinasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IrWqeRoRekM/SfVY9vzP1-I/AAAAAAAAAWY/WhdBDF19N5c/s320/imagination-tree-300px.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 302px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IrWqeRoRekM/SfVY9vzP1-I/AAAAAAAAAWY/WhdBDF19N5c/s320/imagination-tree-300px.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya kurang paham dengan apa yang menjadi kelebihan saya. Beberapa teman dekat menganggap saya orangnya angin-anginan. Sebentar senang hal baru, beberapw waktu kemudian beralih pada kesenangan yang lainnya.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Moody.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan moody itu terbawa pada hari-hari saya, tapi tidak ketika saya menghadapi orang atau berkomunikasi. Kadang saya bangun dan masih bermalasan walaupun jam sudah menunjukkan pukul 08.30 atau pukul 09.00 WIB.Tubuh rasanya malas sekali untuk mandi, bahkan malas berangkat kerja.Mood saya baru tergerak ketika mendengarkan musik beberapa kali atau musik yang menghentak sampai saya benar-benar 'terbangun'. Sebaliknya, kalau sedang rajin, saya bisa menginap di kantor, bahkan sampai seminggu tidak pulang. Perlengkapan baju ganti dan mandi memang sengaja dipersiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, saya juga selalu mengalami kendala konsentrasi ketika mengawali kerja. Biasanya setengah jam di awal atau lebih, dihabiskan untuk browsing hal-hal yang sifatnya fun dan tidak membuat stress. Baru setelah itu, saya bisa mulai mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berkuliah atau bersekolah dulu, saya merasakan tidak pernah menjadi se-moody ini. Bahkan, dulu waktu sekolah, saya paling rajin datang dan pulang ke sekolah. Kuliah juga rajin-rajin juga. Kalaupun bolos, paling karena saya sedang ada kegiatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kondisi fisik saya (obesitas) tidak baik saat ini sehingga sering malas. Tapi saya juga berkesimpulan bahwa ini karena matinya imajinasi. Ya, imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang menjadi kelebihan atau mungkin kekurangan saya. Saya suka berimajinasi. Makanya, saya senang membuat karya fiksi, walau waktunya kadang tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bekerja, imajinasi saya seperti mati. Saya memang tidak bekerja di sebuah perusahaan swasta yang punya jam kerja dan aturan yang ketat. Saya bekerja di sebuah NGO yang mengandalkan pelaksanaan intervensi sosial. Merubah keadaan lebih baik. Tapi saya merasa imajinasi saya mati karena tekanan-tekanan dalam pekerjaan yang membuat keadaan tidak sadar saya muncul dan menyeruak di tengah kebosanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan kebosanan mendalam dengan kata-kata. Saya merasa kata-kata terbaik adalah kata-kata yang keluar dari dalam diri sendiri. Suara hati, atau aspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata di kantor itu sekarang layaknya seperti jargon. Saya lelah dicuci otak. Saya harus mengikuti penalaran dari lingkungan kerja saya, karena ini pakem yang biasa dilakukan. Padahal, saya biasa menulis apa yang ingin saya tulis, yang ingin saya goreskan sesuai penalaran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa dibentuk. Saya mengerjakan sesuatu dengan passion atau gairah. Jika tidak ada gairah itu, tentunya saya menjadi ogah-ogahan. Dan semakin lama saya mengetahui sekeliling saya, saya semakin pesimis. Bahwa dunia tidak secerah yang kita lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi manusia adalah paradoks. Dalam kesuraman ini, saya butuh sebuah harapan dan kecerahan. Dan saya tidak melihat itu dalam pekerjaan saya. Saya semakin merasa pesimis, karena memang kenyataannya suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi ini harus tumbuh kembali dan optimisme harus ditumbuhkan. Kalau terlalu pesimis, bisa habis dunia saya. Kalau terlalu optimis, saya lupa akan diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang saya harapkan bisa melingkupi imajinasi saya : keseimbangan. Karena saya mempercayai filsafat Timur mengenai keseimbangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-5292086689427281966?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/5292086689427281966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=5292086689427281966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/5292086689427281966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/5292086689427281966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/05/imajinasi.html' title='Imajinasi'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IrWqeRoRekM/SfVY9vzP1-I/AAAAAAAAAWY/WhdBDF19N5c/s72-c/imagination-tree-300px.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-575041489344741819</id><published>2011-04-16T12:15:00.000-07:00</published><updated>2011-04-16T12:54:28.783-07:00</updated><title type='text'>Dalam Doaku (puisi Sapardi Damono)</title><content type='html'>Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,&lt;br /&gt;yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,&lt;br /&gt;yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,&lt;br /&gt;dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,&lt;br /&gt;yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin&lt;br /&gt;yang mendesau entah dari mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam doaku sore ini,&lt;br /&gt;kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,&lt;br /&gt;yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,&lt;br /&gt;yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin&lt;br /&gt;yang turun sangat perlahan dari nun di sana,&lt;br /&gt;bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi&lt;br /&gt;dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,&lt;br /&gt;yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,&lt;br /&gt;yang setia mengusut rahasia demi rahasia,&lt;br /&gt;yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintaimu,&lt;br /&gt;Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(oleh Sapardi Djoko Damono)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-575041489344741819?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/575041489344741819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=575041489344741819' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/575041489344741819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/575041489344741819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/04/dalam-doaku-puisi-sapardi-damono.html' title='Dalam Doaku (puisi Sapardi Damono)'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-2946659298749798575</id><published>2011-03-18T11:02:00.000-07:00</published><updated>2011-03-18T11:10:57.147-07:00</updated><title type='text'>Do'a Lagi</title><content type='html'>Ya Tuhanku,&lt;br /&gt;Jika kau memang ciptakan peredaran matahari selama 24 jam saja&lt;br /&gt;maka berikanlah aku fokus dan tenaga &lt;br /&gt;untuk bisa mencapai targetku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Sungguh di malam hari adalah waktu yang tepat untuk mengintrospeksi diri&lt;br /&gt;dan pengalamanku hari ini menunjukkan &lt;br /&gt;kalau aku bukanlah orang baik dan bersih dari dosa-dosa&lt;br /&gt;ampunilah aku dengan segala kelemahanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;hindarkanlah aku dari rasa sombong&lt;br /&gt;berikanlah kekuatan agar aku terus bisa melayani&lt;br /&gt;dan memberikan sesuatu yang berarti untuk mereka yang lemah dan dicurangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhanku,&lt;br /&gt;jika memang Kau ciptakan manusia sama&lt;br /&gt;biarlah aku menjadi pelayan &lt;br /&gt;karena kuyakin kasih sayang Mu ada untuk setiap umat yang percaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amiin ya robbal 'alamiin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-2946659298749798575?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/2946659298749798575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=2946659298749798575' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2946659298749798575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2946659298749798575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/03/doa-lagi.html' title='Do&apos;a Lagi'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-5797013735842117471</id><published>2011-03-14T10:49:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T09:20:57.416-07:00</updated><title type='text'>Puisi Kahlil Gibran soal Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://marianacity.files.wordpress.com/2010/09/anak-berlari.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 1024px; height: 685px;" src="http://marianacity.files.wordpress.com/2010/09/anak-berlari.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anakmu bukan Anakmu"&lt;br /&gt;oleh Kahlil Gibran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu&lt;br /&gt;Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri&lt;br /&gt;Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu&lt;br /&gt;Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu&lt;br /&gt;Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri&lt;br /&gt;Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka&lt;br /&gt;Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah masa depan,&lt;br /&gt;yang tak pernah dapat engkau kunjungi, meskipun dalam mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu&lt;br /&gt;Karena hidup tidak berjalan mundur, dan tidak pula berada di masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan&lt;br /&gt;Sang pemanah telah membidik arah keabadian,&lt;br /&gt;dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya,&lt;br /&gt;sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah tarikan tangan Sang Pemanah itu sebagai kegembiraan,&lt;br /&gt;Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,&lt;br /&gt;Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat&lt;br /&gt;Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap dan teguh&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-5797013735842117471?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/5797013735842117471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=5797013735842117471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/5797013735842117471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/5797013735842117471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/03/puisi-kahlil-gibran-soal-anak.html' title='Puisi Kahlil Gibran soal Anak'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-9151058426309893394</id><published>2011-03-13T08:49:00.000-07:00</published><updated>2011-03-13T09:12:25.363-07:00</updated><title type='text'>Bait-bait Doa</title><content type='html'>Ya Allah Tuhan segala jagad,&lt;br /&gt;Pada hari ini aku kembali ke hadapanmu&lt;br /&gt;dengan dosa yang bertumpuk yang harus kupertanggungjawabkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Aku memohon pengampunanmu&lt;br /&gt;karena aku percaya Engkau lah Sang Maha Pengampun&lt;br /&gt;karena aku percaya masih ada hari esok yang harus kutatap&lt;br /&gt;karena aku percaya karunia Mu, ya Rabbi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Berikanlah padaku keteguhan hati&lt;br /&gt;agar dapat melalui semua rintangan dan cobaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkahilah diriku dengan ridho Mu&lt;br /&gt;Insya Allah kuberjalan untuk menggapai kebaikan&lt;br /&gt;yang Engkau pun ridhoi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudahkanlah jalanku&lt;br /&gt;Karena aku hanya seperti debu di antara luasnya padang pasir&lt;br /&gt;Karena ku lemah dan banyak kelengahan&lt;br /&gt;Karena aku manusia biasa yang banyak salah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah taqwamu ya Rabbi&lt;br /&gt;agar aku bisa tegar di antara banyaknya penghalang&lt;br /&gt;jauhkanlah aku dari nafsu-nafsu yang melampaui batas&lt;br /&gt;jauhkanlah aku dari hiruk pikuk duniawi yang sementara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah aku ketenangan&lt;br /&gt;dalam setiap langkah dan tujuan&lt;br /&gt;agar aku bisa mencapai visi dan misiku&lt;br /&gt;sebagai hamba Mu, ya Rabbi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku adalah orang yang sombong&lt;br /&gt;yang menginginkan pengakuan-pengakuan duniawi&lt;br /&gt;yang ingin merasa lebih baik dari yang lain&lt;br /&gt;yang merasa diri paling benar&lt;br /&gt;padahal aku terbatas dari segala kesempurnaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hancurkanlah sombongku ini, ya Allah&lt;br /&gt;agar bisa kunikmati semesta Mu yang lebih indah, yang lebih kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika hari ini aku masih berjuang&lt;br /&gt;itu karena aku percaya bahwa ini adalah rencana Mu&lt;br /&gt;hantarkanlah perjuanganku ini menjadi jihad yang kau restui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena aku percaya bahwa ada siang dan ada malam, ada baik ada jahat, ada kaya ada miskin&lt;br /&gt;maka kuyakin selalu ada perjuangan untuk menembus oposisi biner itu&lt;br /&gt;walaupun kebenaran hanya milik Mu semata&lt;br /&gt;kami hanyalah hamba yang berusaha menggapai kebenaran itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tiada merubah nasib suatu kaum jika ia tidak merubahnya sendiri&lt;br /&gt;dan kupercaya oposisi biner tidak selalu harus dipertahankan, kecuali hukum alam Mu ya Allah&lt;br /&gt;ia harus diperbaiki : agar yang jahat menjadi sedikit baik, agar yang miskin sedikit kaya atau mendekati si kaya, agar yang bodoh menjadi berpengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah yang Maha Tahu&lt;br /&gt;semua ini kupersembahkan hanya karena naluriku sebagai seorang manusia, sebagai hamba Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illa Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Benar Allah dengan segala firman Nya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-9151058426309893394?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/9151058426309893394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=9151058426309893394' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/9151058426309893394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/9151058426309893394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/03/bait-bait-doa.html' title='Bait-bait Doa'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-6100708297704983716</id><published>2011-02-19T10:20:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T12:31:25.713-08:00</updated><title type='text'>Tesis Cenat Cenut : Mengeksplorasi Motivasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-yA0RFl9jEmY/TWAhrcD4z2I/AAAAAAAAAOE/ouBHcSC0Vi0/s1600/IMG0452A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-yA0RFl9jEmY/TWAhrcD4z2I/AAAAAAAAAOE/ouBHcSC0Vi0/s320/IMG0452A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575493368835264354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fn4KVmf6Rn0/TWAhkzYw8DI/AAAAAAAAAN8/cpZrKoeZPSM/s1600/IMG0455A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fn4KVmf6Rn0/TWAhkzYw8DI/AAAAAAAAAN8/cpZrKoeZPSM/s320/IMG0455A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575493254837760050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-TwKQDe67fsw/TWAhaoKm-xI/AAAAAAAAAN0/tKr9Ox4XA8Y/s1600/IMG0453A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-TwKQDe67fsw/TWAhaoKm-xI/AAAAAAAAAN0/tKr9Ox4XA8Y/s320/IMG0453A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575493080026905362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-iR1lkiBkIc8/TWAhSU-4d3I/AAAAAAAAANs/zrStg-PbbaQ/s1600/blog%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-iR1lkiBkIc8/TWAhSU-4d3I/AAAAAAAAANs/zrStg-PbbaQ/s320/blog%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575492937438492530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Kejujuran itu seperti es krim.Ia akan meleleh jika tidak segera dilahap." - Andai Ia Tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kali ini saya akan jujur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara mengenai tesis saya, sudah banyak yang menanyakan kabar tesis saya. Dalam hati,saya cuma cenat-cenut, karena sebenarnya tesis saya memang belum beres ! Lebih tepat, terlantar. Setiap ada yang bertanya,saya anggap sebagai doa ; semoga memang lekas selesai. Oleh karena itu, semester ini saya harus lulus. Kalau tidak ? DO, karena ini sudah semester terakhir (semester 6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealisme saya dalam menggarap tesis ini amat sangat tinggi, jika dibandingkan dengan minimnya waktu yang saya punya untuk 'mengintimi' karya ilmiah ini. Mengingat idealisme di Program Pascasarjana ini cukup tinggi juga, yakni mahasiswa setelah lulus memiliki : ketrampilan, ilmu pengetahuan, dan nilai (Zastrow, tahunnya lupa), maka saya pun terbirit-birit mengejar standar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketrampilan, artinya saya harus terjun ke lapangan untuk mempraktekkan ketrampilan sebagai social worker. Eits, jangan salah dengan istilah 'social worker' atau pekerja sosial. Profesi ini bukanlah sekadar relawan, aktivis LSM, atau kumpulan mujahid. Gambaran lengkapnya baca di sini saja deh : http://www.naswdc.org/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ketrampilan, ilmu pengetahuan dimiliki dengan menjalankan riset ilmu sosial. Ya, seperti layaknya orang mengerjakan skripsi atau tesis. Jadi, ada dua tugas akademik yang harus saya lengkapi : laporan intervensi sosial dan tesis itu sendiri. Intervensi sosial ini awal mula tesis ini sendiri. Ibaratnya pengenalan dan pendalaman terhadap medan yang dihadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena background pengetahuan saya HI dan bekerja di sebuah lembaga yang concern dengan masalah keadilan ekonomi dan globalisasi, maka saya bermaksud mengambil topik idealis. Pertama, saya mencoba mendalami soal pengungsi yang datang ke Indonesia. Tapi dalam perkembangannya, saya tidak mendapatkan 'klik' dengan pengungsi maupun pimpinan di lembaga tempat saya menjalankan intervensi. Akhirnya bubar jalan di tahap awal. Yang kedua, soal petani di Bekasi. Ini topik yang sebenarnya saya idam-idamkan. Menggeluti kemiskinan petani. Topik idealis ini pun juga idealis benar secara praktik. Dua jam perjalanan dari Jakarta, bersaing dengan truk-truk besar yang hendak ke Tanjung Priok, pembimbing yang telah bergelar Profesor yang perfeksionis, ditambah pekerjaan saya yang menguras emosi karena adanya konflik organisasi. Akhirnya, tesis ini juga terlantar di tengan jalan. Motivasi saya kurang kuat untuk mengerjakannya. Semua berhenti dalam tahap case recording. Berbagai lembaga sempat dijajaki, misalnya lembaga penangangan autisme di Depok,Departemen Psikiatri di FK UI-RSCM, tapi semuanya tidak berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua semester berlalu, dan saya tidak dapat berbuat banyak, bahkan sempat berpikir tidak udah dilanjutkan saja karena saya tidak bisa membagi waktu. Selama masa vakum itu, saya mempergunakan untuk membaca-baca buku. Anehnya, saya -lama-lama- seperti keluar dari kotak. Kotak Hubungan Internasional yang berisi realisme, keamanan, ekonomi politik internasional, atau globalisasi. Saya terdampar dalam sebuah kubangan yang mengasyikkan, yang melihat diri manusia, identitas diri, serta relasi sosial. Lama-lama saya benar jatuh cinta dengan disiplin Psikologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, otak kiri saya terus-menerus digembleng dengan sejuta istilah perdagangan bebas mulai dari multilateralisme, regionalisme, pertanian, perikanan, jasa, TRIPs, sampai keuangan. Topik-topik ini susah susah gampang. Gampang, karena di HI diajarkan dasar-dasarnya. Susah, karena tidak mudah mempelajari perjanjian ekonomi internasional dalam waktu yang singkat. Sungguh konflik motivasi dan konflik pemikiran yang sangat melelahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, saya mengambil program ini karena saya ingin masuk ke industri sosial. Latar belakang HI saya tidak cukup untuk menjangkau pengetahuan mengenai bagaimana harus melakukan Participatory Rural Appraisal (PRA) di komunitas? Bagaimana mengevaluasi suatu program sosial ? Ekspektasi saya di awal hanya ingin mempelajari Community Development / Community Organizing. Tetapi, setelah memasuki bangku kuliah, ternyata apa yang saya dapat lebih dari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi sosial terdiri dari 3 level : mikro, mezzo, dan makro. Di level paling mikro, yakni intervensi individu, saya harus mempelajari teknik konseling dan assessment dengan penerima manfaat (klien). Kelas Intervensi Individu dan Kelompok Kecil tiap Sabtu pagi di Kampus Unika Atmajaya Semanggi bersama Prof Irwanto membuka cakrawala saya mengenai ilmu Psikologi. Lambat laun, saya mulai dibukakan pengetahuan psikologi dalam intervensi mikro, sosiologi dalam intervensi mezzo, teknik-teknik advokasi (yang sudah saya ketahui, karena ini termasuk wilayah pekerjaan saya) dalam intervensi makro, dan disiplin manajemen dalam pengelolaan organisasi sosial. Ternyata, disiplin Psikologi lah yang paling nempel. Ketidakmampuan saya untuk berterus terang dengan apa yang saya mau ini yang membuat tesis ini makin cenat-cenut karena email kantor saya penuh dengan kata-kata : KONSOLODASI, AKSI, ALIANSI, PETISI, STRATEGIC MEETING, JARINGAN INTERNASIONAL, SOLIDARITAS, atau PENELITIAN. Saya suka dengan pekerjaan ini, tetapi kadang-kadang teralienasi karena saya tidak sedang ingin menari di atasnya. Saya ingin menari di atas ANXIETY, NEUROTIK, ASSESSMENT, KEBERFUNGSIAN SOSIAL, dan RETARDASI MENTAL. Sayang, panggungnya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, di semester yang harus dirampungkan ini, saya kembali bergegas menata kajian saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan intervensi dalam Kebijakan Manajemen SDM di Organisasi Sosial di sebuah LSM. Penelitian saya bermaksud mendalami motivasi kerja karyawan dalam organisasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek yang saya teliti bukan Jepang, AS, atau LSM Internasional, tapi empat orang individu yang memutuskan diri bekerja di sebuah organisasi sosial selama lebih dari 20 tahun. Individu-individu ini tidak berpindah-pindah tempat kerja, walaupun gaji yang diperoleh di organisasi ini sangat sangat sangat minim untuk ukuran pekerja industri komersil, bahkan untuk ukuran sesama organisasi sosial. Saya ingin mengulik hal apa yang memotivasi mereka sampai rela bekerja dengan gaji yang rendah (masa kerja mereka lebih dari 20 tahun). Bagaimana strategi coping mechanism mereka ? Bagaimana pengaruh kestabilan/perubahan di organisasi terhadap motivasi mereka ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara 'idealisme'lagi, karya ilmiah ini sebenarnya ingin 'memberikan masukan' (cie cie cie) pada pendekatan humanistik dalam Psikologi yang diwakili oleh Maslow dengan teorinya yang 'melegenda', yakni teori motivasi. Bahwa ada persoalan 'Person-in-Environment', di mana ada interaksi yang saling terkait antara individu dengan sistem. Sehingga, persoalan motivasi bukan merupakan sebuah persoalan individualisasi yang ditunjukkan oleh pendekatan humanistik, namun juga persoalan komunal. Berbeda dengan pendekatan struktural yang meletakkan individu bagian dari sistem, tapi adanya level dan jenis motivasi yang berbeda membuat persoalan motivasi adalah juga persoalan personal (eksistensial). 'Person-in-Environment' inilah yang membingkai  motivasi kerja di dalam organisasi pelayanan atau organisasi sosial, karena pekerjaan pelayanan juga erat dengan nilai-nilai dan moral/etika tertentu yang disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Maslow menyebut sebagai 'self-actualization' sebagai motivasi tertinggi, maka saya ingin memasukkan mengenai peran kognisi dalam motivasi. Self-actualization Maslow sangat abstrak untuk dipahami, karena beberapa penelitian juga yang menyebutkan : ada keinginan terpendam yang muncul walaupun kebutuhan-kebutuhan dasar manusia sudah sangat terpenuhi; yang di luar jangkauan kebutuhan dan fase perkembangan, misalnya : konsumerisme, pengalaman masa lalu atau alam bawah sadar (pembuktian terhadap psikologi Freudian). Psikolog dari Rusia, Vygotsky, mengatakan bahwa kognisi diperoleh karena adanya interaksi sosial. Artinya, kedasaran dapat muncul secara kolektif atau 'getok tular'. Yang kedua, semakin banyak ia dipengaruhi oleh lingkungan bahwa 'A adalah B', maka kognisinya akan merujuk ke situ. Walaupun, dalam konteks kognisi dan intelijensia, juga harus diperiksa benar apakah ia mempunyai level kognisi yang serupa, sehingga menghasilkan kesimpulan yang sama dengan teman-temannya. Jadi, tidak perlu mengidentifikasi sebagai 'self-actualization', tetapi saat kebutuhan dasar, kebutuhan kognisi dan kebutuhan neurotik nya telah terpenuhi, maka kesadaran akan muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kembali lagi, ini kan namanya juga cita-cita. Cita-cita alias idealisme. Semester ini saya memang sengaja mencurahkan sekitar 70% pemikiran (sisanya untuk pekerjaan) demi tergenapinya idealisme dalam tesis ini. Refleksi yang saya peroleh dari tesis cenat-cenut ini adalah ternyata Tuhan begitu baik menjawab kegelisahan saya. Mungkin saya khilaf masuk HI, karena latar belakang SMU saya IPA, sehingga kurang mengerti benar apa saja disiplin-disiplin ilmu sosial. Ternyata, setelah masuk ke ilmu sosial, jadi keasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dan terima kasih, uneg-uneg sudah saya tumpahkan dalam tong sampah bernama blog ini. Semoga suatu hari nanti saya bisa memungut kepingan-kepingan sampahnya untuk kembali dicermati, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;although life is ephemeral&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS : Saya lampirkan foto-foto narsis, termasuk perpustakaan di Unika Atmajaya, tempat saya banyak mendapatkan bahan-bahan penyusunan tesis. Habis Perpustakaan di UI makin lama makin bapuk sih ! Buku-bukunya aja banyak yang ilang !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-6100708297704983716?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/6100708297704983716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=6100708297704983716' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/6100708297704983716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/6100708297704983716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/02/tesis-cenat-cenut-mengeksplorasi.html' title='Tesis Cenat Cenut : Mengeksplorasi Motivasi'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-yA0RFl9jEmY/TWAhrcD4z2I/AAAAAAAAAOE/ouBHcSC0Vi0/s72-c/IMG0452A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-1682523555694833507</id><published>2011-02-18T06:31:00.000-08:00</published><updated>2011-02-18T07:33:56.573-08:00</updated><title type='text'>Seri Mengenal Depok : Hutan Kota UI, seperti Oase di tengah Deru Mesin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-6uQegsV5W3g/TV6P2ExsxHI/AAAAAAAAANg/6hpGpvdokVQ/s1600/IMG0436A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-6uQegsV5W3g/TV6P2ExsxHI/AAAAAAAAANg/6hpGpvdokVQ/s320/IMG0436A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575051547889157234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-455uWGw4tIM/TV6Pszd5bcI/AAAAAAAAANY/xpNmXD316Vs/s1600/IMG0443A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-455uWGw4tIM/TV6Pszd5bcI/AAAAAAAAANY/xpNmXD316Vs/s320/IMG0443A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575051388623875522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-GoZv8zULJ7Y/TV6PjVrPQbI/AAAAAAAAANQ/ozCOAsSKQGw/s1600/IMG0446A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-GoZv8zULJ7Y/TV6PjVrPQbI/AAAAAAAAANQ/ozCOAsSKQGw/s320/IMG0446A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575051226007945650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-qEYDxr8xV9A/TV6Pax0QNXI/AAAAAAAAANI/-MSyN-Z6Ilk/s1600/IMG0438A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-qEYDxr8xV9A/TV6Pax0QNXI/AAAAAAAAANI/-MSyN-Z6Ilk/s320/IMG0438A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575051078943126898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari Jum'at ini (18/02), saya berkesempatan untuk bersepeda ke Hutan UI yang terletak di utara kampus UI. Setelah hujan dan angin kencang yang menyapu Depok sore itu, saya mengayuh engkel sepeda saya ke Jalan Margonda, menyusur Flyover UI dan masuk ke Gerbatama. Tak lama lagi, voila ! saya  sudah sampai di Hutan Kota UI. Sungguh sangat menyegarkan bersepeda setelah hujan turun. Bau tanah dan angin yang bertiup semilir membuat keringat yang jatuh tak terasa beratnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Si Putih, sepeda lipat andalan saya, saya menyusuri Danau Salam UI yang seperti berkabut karena hujan mengguyur dengan amat deras. Setelah puas berkeliling di Danau Salam, saya menjajal masuk ke dam yang terletak tak jauh dari Danau Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan Kota UI adalah paru-paru kota yang layak dikonservasi. Saya hafal betul dengan tiap jangkah wilayah UI karena kebetulan saya sewaktu kuliah S1 di UI tinggal di lingkar hijau UI, yakni di Asrama UI dan Kelurahan Kukusan, hampir selama empat tahun. Sewaktu tinggal di Jatipadang dan Salemba pun saya tidak bisa berlama-lama, karena dasarnya orang ndeso, jadi selalu nyari tempat yang segar untuk pernapasan saya. Kembali ke selera asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita telusuri, sebenarnya jalur hijau di UI ini kehijauannya berlanjut di bagian barat Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Wilayah yang saya maksud adalah Ciganjur, Setu Babakan (M Kahfi), Ragunan, dan Cilandak. Cobalah agan bersepeda atau mengendarai motor dari UI menuju ke Ciganjur, ke Setu Babakan, Ragunan, Pondok Labu, dan berakhir di Cilandak. Sepanjang jalan pasti agan masih menemui pohon-pohon besar, rimbun pepohonan, kebun-kebun kosong, dan juga jalan-jalan yang kecil dan berkelok. Saya sering menamai daerah ini dengan sebutan 'Jalan Setapak di Selatan'. Mengapa ? Karena jalan di sini seperti oase di tengah Jakarta yang panas, macet, dan kumuh. Jalannya kecil, tidak begitu ramai, hampir tidak ada Kopaja atau Metromini (kebanyakan angkutan umum adalah mikrolet), tapi jalannya berkelok-kelok tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;straight to the point&lt;/span&gt;. Kita patut berterima kasih dengan etnis Betawi yang banyak mendiami wilayah ini. Justru karena melambangkan sebagai wilayah yang tergusur inilah, wilayah ini menjadi hijau dan jauh dari ekspansi kota yang serakah. Lihat di sepanjang jalur itu ! Tidak ada mall besar, tidak ada pengemis yang keleleran di tengah jalan, dan juga paru-paru tidak sakit ketika menghirup udaranya. Angka Indeks Pembangunan Manusia di Kecamatan Jagakarsa juga termasuk yang paling tinggi jika dibandingkan kecamatan lain di Jakarta. Artinya, daerah inilah yang bisa katakan sebagai 'another Jakarta is possible'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, Rektor UI kurang menangkap sinyalemen itu, padahal beliau banyak mengenyam Ilmu Sosiologi ; ilmu yang bertutur soal masyarakat. Kebijakan penutupan pintu Kukusan di malam hari membuat jalur tersebut tidak terlalu populer. Sebenarnya, strategi green lifestyle bagi komuter Depok bisa dimulai di sini. Bersepeda ke UI, Ciganjur, lantas Ragunan untuk menitipkan sepeda mereka di sana. Komuter kemudian bisa menggunakan busway ke arah Kuningan atau ke arah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Hutan UI. Hutan UI sendiri luasnya 192 hektar, dan terdiri dari tiga vegetasi : Hutan Wales Barat ditanami vegetasi yang banyak tumbuh di wilayah Barat Indonesia, Hutan Wales Timur ditanami vegetasi yang tumbuh di wilayah Indonesia timur, dan hutan meranti yang banyak ditumbuhi pohon meranti. Hutan itu dikelilingi 6 danau, yakni : Danau Salam, Danau Ulin, Dana Puspa, Danau Mahoni, Danau Aghatis, dan Danau Kenanga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasananya damai sekali. Agan-agan bisa bayangkan saja, kalau bersepeda dari Stasiun UI menuju Hollywood UI, jika menyusuri jalur sepeda di sebelah kiri jalan, maka agan akan disuguhi pemandangan hutan tropis dengan pohon-pohon sebesar pepohonan di Kebun Raya Bogor dengan gemericik air yang mengalir deras dari atas ke arah Danau Puspa (Hollywood UI). Agan seperti berada di tengah hutan yang kalinya mengalir deras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bersepeda di Danau Salam (sebelah Resto Mak Engking), agan akan mendengar suara gerojokan air yang turun ke parit-parit. Sepertinya air tidak berhenti mengalir. Inilah yang saya sebut sebagai oase di tengah deru mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan-kapan agan-agan harus mencoba bermain-main ke Hutan Kota UI, sambil mencicipi hidangan Sunda a la Mak Engking. Udang galahnya yummy !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-1682523555694833507?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/1682523555694833507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=1682523555694833507' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1682523555694833507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1682523555694833507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/02/seri-mengenal-depok-hutan-kota-ui.html' title='Seri Mengenal Depok : Hutan Kota UI, seperti Oase di tengah Deru Mesin'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6uQegsV5W3g/TV6P2ExsxHI/AAAAAAAAANg/6hpGpvdokVQ/s72-c/IMG0436A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-2262197766129803101</id><published>2011-02-18T05:27:00.000-08:00</published><updated>2011-02-18T06:14:17.258-08:00</updated><title type='text'>Seri Kuliner di Depok : Bakmi Ayam Lenteng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-sfd7fmvvKes/TV561HCdmtI/AAAAAAAAANA/ksOdQG40t9g/s1600/mie.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-sfd7fmvvKes/TV561HCdmtI/AAAAAAAAANA/ksOdQG40t9g/s320/mie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575028441572285138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-hrO_dzmns9U/TV56ssmaO7I/AAAAAAAAAM4/KsILl8s8hBQ/s1600/mie2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-hrO_dzmns9U/TV56ssmaO7I/AAAAAAAAAM4/KsILl8s8hBQ/s320/mie2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575028297036348338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lenteng Agung, adalah sebuah kelurahan di utara Kota Depok yang dahulu dikenal sebagai pemukiman etnis Cina dan terdapat banyak kelenteng di sana. Saat ini, di Lenteng Agung tidak terlihat jejak kelenteng itu, atau pecinan. Tapi nuansa Cina masih sedikit tertinggal di situ, salah satunya kuliner yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang Stasiun KA Lenteng Agung,terdapat bakmi yang uenaakkk banget. Si empunya warung memberi nama : Bakmi Ayam Lenteng (Terasa Sampai ke Hati). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya, panjang amat namanya. Tapi, kalau agan-agan berkunjung ke sana, dijamin rasa bakmi ayam nya sampai ke ulu hati. Bakmi yang digunakan sebagai bahan dasar bukan bakmi biasa yang dipakai penjual mie ayam atau bakmi yang dipakai penjual indomie.Mie-nya buatan sendiri. Bumbunya meresap banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu porsi mie biasanya dihidangkan dengan kuah yang diletakkan di mangkok terpisah. Kuahnya juga enak, nggak bikin pusing karena kebanyakan vetsin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penampakan warungnya memang tidak meyakinkan. Kayak warung abal-abal gitu. Lecek dan kusut. Tapi, yang beli antriannya cukup panjang. Biasanya mereka membungkus mie karena memang lokasinya terlalu kecil untuk makan beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi, sambil menunggu datangnya mie, bolehlah agan nyoba cakwe atau kue bantal yang dijual di sebelah warung mie. Bener-bener suasana Cina banget. Penjual mie juga masih etnis Cina / Tionghoa yang mengindikasikan 'jaminan' keaslian citarasa kuliner ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, buat agan-agan yang sedang tidak mengendarai mobil, saya merekomendasikan untuk mencoba mie ayam spesial ini. Kalau naik mobil memang agak repot karena tidak ada tempat parkir yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakmi ayam Lenteng, ahoyy banget !!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-2262197766129803101?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/2262197766129803101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=2262197766129803101' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2262197766129803101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2262197766129803101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/02/seri-kuliner-di-depok-bakmi-ayam.html' title='Seri Kuliner di Depok : Bakmi Ayam Lenteng'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-sfd7fmvvKes/TV561HCdmtI/AAAAAAAAANA/ksOdQG40t9g/s72-c/mie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-8396979148069138983</id><published>2011-02-17T08:23:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T16:46:40.553-08:00</updated><title type='text'>Setengah Gelas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6fhyMNLdYJ0/RjwrLDJ4jzI/AAAAAAAAARU/doOcakKbQ64/s320/P5041800.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6fhyMNLdYJ0/RjwrLDJ4jzI/AAAAAAAAARU/doOcakKbQ64/s320/P5041800.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, saya berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan teman saya di Kampus UI. Di sebuah kedai kopi baru di belakang kampus FISIP. Saya kebetulan hari itu hendak mengumpulkan (dan mengerjakan) laporan Intervensi Sosial saya. Sedangkan teman saya hendak mempresentasikan mengenai beasiswa Uni Eropa di Balairung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedai kopinya cukup nyaman dengan suasana multikultural, di mana menurut pengamatan saya selama nongkrong di situ banyak mahasiswa BIPA dan peneliti asing mengunjungi kedai Coffee Toffee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdiskusi soal Ahmadiyah,karena kebetulan hari-hari itu penyerangan Cikeusik menjadi topik yang aktual di berbagai media massa. Inti dari diskusi tersebut yang mencerahkan saya adalah : Jangan biarkan dirimu dan kepalamu 'penuh' dengan sesuatu yang dimasukkan ke otak sementara kamu tidak pernah punya kemampuan untuk mencerna dan menginterpretasikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya banyak berteori soal temuan Hannah Arendt yang mengobservasi Eichmann, Jenderal Nazi yang membunuh banyak orang, ketika persidangan Eichmann di Jerussalem. Arendt melihat bahwa latar belakang Eichmann sebenarnya adalah pegawai biasa. Eichmann bekerja untuk sebuah perusahaan minyak di Austria. Selama bekerja di situ, Eichmann tidak menampakkan diri sebagai sosok yang vokal atau menentang. Eichmann sempat bergabung dengan organisasi kepemudaan Kristen di Jerman. Keputusannya bergabung dengan Nazi karena keadaan yang mendesak saat itu, di mana ia diminta untuk bergabung ke militer Nazi. Lantas, mengapa Eichmann tega membunuh banyak kepala? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bergabung di Nazi, Eichmann banyak mendapatkan pengetahuan soal Nazi dan fasisme Jerman saat itu. Ilmu baru yang didapat Eichmann ini diserap dengan amat baik. Hingga membunuh korban-korban tak berdosa yang 'kebetulan' keturunan Yahudi pun bukan sesuatu yang berat. Temuan Arendt mengatakan Eichmann mengalami banalitas kejahatan (banality of evil) karena ia telah kehilangan dirinya, yang selalu berdialog antara "me" dan "myself". Rejim totaliter Hitler telah memberangus dialog dalam dirinya, karena pengetahuan atau arahan dari pemimpin adalah sabda. Sabda yang telah teruji kebenarannya dan sah untuk dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan (namun tak sepenuhnya sama) kasus Eichmann dengan Ahmadiyah ini, ada orang-orang yang tidak bisa menerima kehadiran Ahmadiyah dan bahkan bisa melakukan kekerasan. Karena monopoli kebenaran dalam kepalanya telah menelan semuanya. Itulah kebenaran yang tak bisa ditawar-tawar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, kemampuan untuk menilai apa yang masuk dalam otaknya tidak difungsikan karena ibaratnya gelas, ia sudah penuh. Tidak ada lagi tempat untuk memberikan penilaian, bahkan air dalam gelas pun meluap, karena banyaknya informasi yang berjejal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan yang saya peroleh, bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jangan biarkan dirimu dan kepalamu 'penuh' dengan sesuatu yang dimasukkan ke otak sementara kamu tidak pernah punya kemampuan untuk mencerna dan menginterpretasikannya&lt;/span&gt;, seperti halnya setengah gelas air yang dituang ke dalam gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelas, jika diisi setengah air saja, maka masih mungkin bagi seseorang untuk menaruh pemaknaan di dalamnya. Tapi, bukan berarti kita tidak boleh mengisi gelas dengan sebanyak-banyaknya air lho ! Kata pepatah Jawa, hidup itu seperti mampir minum. Tugas kita mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal. Tetapi, dalam minum itu sendiri, ada masa istirahatnya. Sehingga, perut kita tidak penuh,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah setengah gelas. Seperti kopi yang diteguk di kedai ini, ia tidak akan memberikan kepuasan maksimal jika porsinya terlalu banyak. Ia akan tumpah saat kita angkat jika terlalu penuh. Setengah gelas saja atau lebih, maka semuanya akan menjadi lebih nyaman :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-8396979148069138983?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/8396979148069138983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=8396979148069138983' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/8396979148069138983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/8396979148069138983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2011/02/setengah-gelas.html' title='Setengah Gelas'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6fhyMNLdYJ0/RjwrLDJ4jzI/AAAAAAAAARU/doOcakKbQ64/s72-c/P5041800.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-6408685244957712592</id><published>2010-06-06T06:23:00.000-07:00</published><updated>2010-06-06T06:32:18.088-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://mataharikejora.files.wordpress.com/2009/07/1243293356-hr-165.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 683px; height: 1024px;" src="http://mataharikejora.files.wordpress.com/2009/07/1243293356-hr-165.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perih yang menusuk dalam setiap kelam&lt;br /&gt;adalah rasa yang tak terkuburkan&lt;br /&gt;karena ia jiwa ; selalu mencari pendampingnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan dingin yang menjelajah di antara malam&lt;br /&gt;adalah luka tak tertutup&lt;br /&gt;seperih-perihnya jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin aku harus berhenti sejenak&lt;br /&gt;untuk mencari jiwaku&lt;br /&gt;yang terlepas&lt;br /&gt;dari mata dan telinga&lt;br /&gt;saat aku tak terjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin menemuimu&lt;br /&gt;wahai jiwa yang akan memberikan matahari&lt;br /&gt;agar aku percaya bahwa esok masih ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin  menemuimu&lt;br /&gt;meredam perih ini&lt;br /&gt;mendamaikan jiwa ini&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-6408685244957712592?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/6408685244957712592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=6408685244957712592' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/6408685244957712592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/6408685244957712592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2010/06/perih-yang-menusuk-dalam-setiap-kelam.html' title=''/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-1016359996999678334</id><published>2010-05-18T22:53:00.000-07:00</published><updated>2010-05-18T22:57:33.811-07:00</updated><title type='text'>Jiwa yang Rapuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c_Q53pHvMso/Rqj2RdhmX1I/AAAAAAAAAAk/DSiNeIBHxBk/s400/Forest-023.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_Q53pHvMso/Rqj2RdhmX1I/AAAAAAAAAAk/DSiNeIBHxBk/s400/Forest-023.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah kau rasakan malam-malam ini begitu mencuri jiwamu&lt;br /&gt;Ketika mata ingin kau tutup, namun jiwamu selalu menyimpan pendar &lt;br /&gt;yang menganga, meminta untuk dibuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tunas yang ingin bertumbuh di pagi hari&lt;br /&gt;Jiwamu mendesak untuk menjulang, menyongsong matahari yang menyediakan energi&lt;br /&gt;Seperti padang pasir yang mendamba angin di siang hari&lt;br /&gt;Jiwamu menatap penuh pengharapan, menanti lambaian angin yang menari&lt;br /&gt;mengikis pasir terluarmu untuk redakan terik&lt;br /&gt;Dan bagaikan sumbu lilin yang merindukan percik api &lt;br /&gt;Jiwamu mendambakan hangat yang menjalari sekujur tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jiwa terlempar dari jendela ketidakpastian&lt;br /&gt;Hilanglah persemaian dari sinar jingga dan biru awan&lt;br /&gt;Hanya gelap kulihat&lt;br /&gt;Seperti jelaga yang mengurung cerita tentang luka&lt;br /&gt;Seperti badai yang mengurung nelayan di dalam pengembaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa yang rapuh meminta agar engkau tetap tinggal &lt;br /&gt;Dalam teduh malam ini dengan kelopak mata yang terjaga&lt;br /&gt;Teruslah bernyanyi tentang kebenaran&lt;br /&gt;Dan senandungkan lirih jiwa ini&lt;br /&gt;Sampai jiwamu menjumpai&lt;br /&gt;Kicau burung yang akan membawa tunasmu menggapai sinar jingga itu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-1016359996999678334?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/1016359996999678334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=1016359996999678334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1016359996999678334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1016359996999678334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2010/05/jiwa-yang-rapuh.html' title='Jiwa yang Rapuh'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c_Q53pHvMso/Rqj2RdhmX1I/AAAAAAAAAAk/DSiNeIBHxBk/s72-c/Forest-023.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-2412301905745482159</id><published>2010-05-14T01:22:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T01:36:41.415-07:00</updated><title type='text'>Hujan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4rdysama.files.wordpress.com/2009/11/hard_rain_by_gilad.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 549px; height: 800px;" src="http://4rdysama.files.wordpress.com/2009/11/hard_rain_by_gilad.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Entah apa yang meruntuhkan semangat burung kecil untuk mengepakkan sayapnya &lt;br /&gt;sore ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang meluluhkan hati si jagal sapi untuk menunda kematian lembu tua&lt;br /&gt;sore ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada rumput ilalang yang luas&lt;br /&gt;Pada taman yang dipenuhi bunga dan dedaunan&lt;br /&gt;disitulah hujan menemukan artinya&lt;br /&gt;memberikan setetes kerinduan setelah terik menyerap cadangan air di batang, dedaunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disitulah hujan menemukan artinya&lt;br /&gt;setelah benang sari ditiup badai&lt;br /&gt;menggenang di atas putik yang cantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disitulah hujan menemukan artinya&lt;br /&gt;ketika amarah dilepaskan&lt;br /&gt;dari hati yang beku&lt;br /&gt;yang merindukan kepolosan&lt;br /&gt;curahan hujan sore ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebet, 13 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-2412301905745482159?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/2412301905745482159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=2412301905745482159' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2412301905745482159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2412301905745482159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2010/05/hujan.html' title='Hujan'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-3847611683071449465</id><published>2010-01-17T05:09:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T05:10:02.580-08:00</updated><title type='text'>Ziarah</title><content type='html'>Tori selalu ingat tradisi yang dijalankan keluarganya menjelang bulan puasa tiba. Berziarah. Ayah dan Ibu Tori selalu menyempatkan waktu mereka untuk berziarah dengan mengajak anak-anak mereka, termasuk Tori.&lt;br /&gt;“Untuk apa, sih, Yah,kita berziarah?” tanya Tori satu waktu.&lt;br /&gt;“Agar kita selalu ingat,” ucap ayahnya singkat.&lt;br /&gt;Ingat pada kematian ? Begitu gumam Tori dalam hati. Petuah itu juga yang diingat Tori dalam mata pelajaran agama di sekolah. Guru agama Tori berpesan, “Ziarah kubur itu mengingatkan kita akan kematian. Bahwa kita nantinya juga akan mati dan dikubur.” Cuma itu yang dimaknai Tori.&lt;br /&gt;Kini, Tori tak lagi menjalankan ritual itu. Tori sekarang tinggal terpisah dari orang tuanya. Tori merantau di Jakarta untuk berkuliah. Setiap kali bulan puasa tiba, Tori hanya mendengar cerita kakaknya lewat telepon kalau keluarga Tori berziarah ke makam kakek dan nenek mereka.&lt;br /&gt;Satu waktu, Aya, pacar Tori, ditimpa musibah. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Tori menghadiri upacara pemakaman ayah Aya, dan juga menemani Aya setiap kali keluarga Aya mengadakan yasinan.&lt;br /&gt;Aya tak henti-hentinya menangis. Aya sangat terpukul karena hubungan emosional Aya dan ayahnya sangat dekat. Acara malam minggu yang biasa mereka lalui dengan suka cita, harus terpaksa dihentikan sementara. Aya tak henti-hentinya mengirimkan doa untuk ayahnya.&lt;br /&gt;“Halo, Aya, kamu dimana?” Tori menelepon Aya karena menjumpai Aya tidak masuk kuliah.&lt;br /&gt;“Tori, aku lagi di pemakaman,” jawab Aya lirih.&lt;br /&gt;“Ngapain kamu di kuburan ? Kamu nggak kuliah?”&lt;br /&gt;“Ziarah, Tor.”&lt;br /&gt;Klik. Telepon ditutup Aya.&lt;br /&gt;Tori heran. Semenjak meninggalnya ayah Aya, Aya jarang terlihat di kampus. Bahkan, Aya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk pergi ke kuburan atau mengurung diri di kamar. Tori kemudian mengalah, ia memutuskan untuk pergi ke rumah Aya yang cukup jauh dari kampus dan membawakan bebek goreng, makanan kesukaan Aya. Kedatangan Tori kali ini tidak hanya untuk menghibur Aya, namun juga merayakan keberhasilan Tori yang mendapatkan kesempatan magang di sebuah surat kabar ternama.&lt;br /&gt;“Aya, ayah kamu sudah meninggal, ngapain ditangisin terus? Almarhum ayah kamu pasti tidak senang kalau kamu sedih terus kayak gini,” kata Tori di ruang makan rumah Aya. Mereka berdua menyantap bebek goreng yang dibawa Tori.&lt;br /&gt;“Aku sedih Tor. Rasanya aku belum siap ditinggal Ayah.”&lt;br /&gt;“Kamu sedih terus. Ati-ati lho, kesambet di kuburan,” sahut Tori. “Bebeknya enak kan?”&lt;br /&gt;“Enakk..” Aya sedikit tersenyum.&lt;br /&gt;“Tor, selamat ya jadi magang di koran. Terus, cerita kamu apa nih, hari pertama magang?” lanjut Aya.&lt;br /&gt;“Seru deh. Yang sekarang sedang ramai kasus korupsi di kepolisian. Susah juga menggali keterangan dari narasumber, apalagi kasus yang kontroversial seperti itu,” jawab Tori cepat.&lt;br /&gt;“ Besok siang nonton yuk, kan besok hari Minggu?” ajak Tori.&lt;br /&gt;“Nggak bisa. Besok siang aku mau ziarah lagi.”&lt;br /&gt;“Ya ampun, Ya…Ziarah terus. Doanya dari rumah aja, selesai kamu sembahyang.”&lt;br /&gt;“Aku ingin mengingat Ayahku. Biar besok Seninnya aku bisa kuliah lagi dengan tenang,” ujar Aya cuek.&lt;br /&gt;Dan dunia kembali berputar. Tori menjadi mahasiswa yang bekerja paruh waktu di sebuah harian di Jakarta. Aya menjadi mahasiswi jurusan Akuntansi yang sesekali meluangkan waktu pergi berziarah sebelum berangkat kuliah. Keluarga Tori hidup tenang di sebuah kota kecil di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;Dunia menemukan keseimbangan ketika Jakarta telah membuat Tori beradaptasi. Kota yang macet. Hiruk pikuk yang kotor. Debu yang menggantang di langit Jakarta.&lt;br /&gt;Gang yang sempit. Perpaduan bau antara deterjen yang dibubuhkan dalam air cucian dengan limbah pabrik yang menggenang di got mampet. Ditambah dengan bau-bau bumbu dapur yang menyeruak di antara – entah dapur atau ruang tamu- yang berada di sepanjang gang. Kumuh.&lt;br /&gt;Bos yang galak. Kantor-kantor yang dipenuhi dengan kompetisi. Mentalitas licik perlahan menyelinap di antara pegawai-pegawai yang tengah berkompetisi. Parfum dan kosmetik digenjot sana-sini. Katanya, agar persaingan dapat dijinakkan. Akhirnya, sumpah serapah tumpah juga di kafetaria karyawan di lantai dasar.&lt;br /&gt;Sial !&lt;br /&gt;Ribuan atau mungkin jutaan pencari kerja dari luar Jakarta memadati gang-gang sempit. Sekadar menumpang di rumah sanak kerabat sambil menunggu panggilan kerja. Atau, berharap-harap cemas status magang mereka akan ditingkatkan menjadi pegawai tetap. Seperti Tori dan Aya di sore itu.&lt;br /&gt;Tori mengendarai motor kakak Aya yang dipinjamnya untuk mengantar Aya mendatangi job fair di pusat kota. Setelah lelah berdesakan di antara ribuan pencari kerja, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Aya di sore hari. Perjalanan menuju rumah Aya tidak semudah ditempuh ketika Tori menyusuri jalanan di kampung halamannya. Sore hari, ketika karyawan-karyawan di seantero Jakarta memunguti jalan mereka pulang ke rumah, adalah jam padat di jalanan Jakarta. Salah-salah sedikit bisa,&lt;br /&gt;Braak !!!&lt;br /&gt;Motor yang dikendarai Tori bertabrakan dengan motor yang datang dari arah yang berlawanan.&lt;br /&gt;Hei, anjing luh! Mata lo bisa ngeliat nggak? Gue lagi jalan, lo asal nyelonong aja! Gue nggak mau tau, ganti slebor depan gue!&lt;br /&gt;“Tor, udah Tor. Cuma lecet dikit kok slebor depannya. Lagian kamu sih, lampu belum hijau sudah diterobos,” kata Aya perlahan setengah berbisik.&lt;br /&gt;Pengendara motor yang bertabrakan dengan Tori kemudian menghampiri Tori.&lt;br /&gt;Mata lo yang rabun! Sudah tahu merah, masih diterobos juga!&lt;br /&gt;“Tor, udah Tor…” Aya mencoba menenangkan Tori yang masih diliputi emosi. Sementara itu, pengendara motor yang bertabrakan menstater kembali motornya dan beranjak pergi.&lt;br /&gt;“Orang kayak gitu harus dikasih pelajaran Ya!” teriak Tori tak puas.&lt;br /&gt;Tak mau menjadi tontonan, Aya kemudian mengistruksikan Tori, “ Tor, stater lagi. Nanti keburu polisi datang! Ayok! “&lt;br /&gt;Tori kemudian menuruti kata-kata Aya. Sesaat kemudian mereka sudah berada di jalanan yang lebih sepi.&lt;br /&gt;“Tor, di warung depan berhenti bentar ya. Kita makan bebek dulu yuk. Kamu pasti laper kan, tadi siang belum makan?” Aya mencoba membujuk Tori.&lt;br /&gt;Tori menghentikan motor kakak Aya di depan warung bebek goreng di pinggir jalan. Aya mengamit Tori masuk.&lt;br /&gt;“Kenapa sih, Tor, kayaknya emosi banget?”&lt;br /&gt;“Habisnya…” Tori menghela nafas. Dalam hati, ia menyadari kalau ia juga bersalah karena melanggar lampu lalu lintas.&lt;br /&gt;Pelayan warung makan lalu menghampiri meja tempat Tori dan Aya duduk. Dua gelas es jeruk segar dihidangkan untuk mereka berdua. “Tori, minum dulu. Biar emosi kamu hilang.” Aya tersenyum ke arah Tori.&lt;br /&gt;“Aku ingin ziarah lagi,” kata Aya tiba-tiba.&lt;br /&gt;Tori memandang Aya dengan keheranan. “Kenapa mesti ziarah lagi?”&lt;br /&gt;“Kamu sudah berapa lama nggak ziarah?” tanya Aya.&lt;br /&gt;“Berapa ya ?” Tori berpikir sejenak. “Mungkin sudah empat tahun lalu.”&lt;br /&gt;“Kenapa nanyain ziarah?” Tori balik bertanya.&lt;br /&gt;“Biar ingat. Ingat apa aja. Nggak cuma soal kematian. Kalau buat aku, ingat pesan-pesan Ayah yang juga pernah kecelakaan. Hati-hati di jalan. Buat aku juga, biar ingat lagi! Ingat kalau kita tuh manusia aja.”&lt;br /&gt;Mendadak Tori ingat tradisi yang dilakukan keluarganya di kampung halaman. Ia sudah lupa keheningan apa yang didapat dalam memanjatkan doa kala berziarah. Tapi Tori masih ingat jawaban ayah Tori tentang mengapa harus ziarah.&lt;br /&gt;“Biar kita bisa mikir pakai hati ya?” pungkas Tori.&lt;br /&gt;“Nah, itu kamu tahu.” Senyum Aya mengembang.&lt;br /&gt;Jakarta sore itu meninggalkan banyak cerita. Ceceran sumpah serapah. Ceceran silat lidah untuk menembus persaingan kerja. Ceceran cerita kusam di gang-gang sempit. Lupa untuk diziarahi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-3847611683071449465?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/3847611683071449465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=3847611683071449465' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/3847611683071449465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/3847611683071449465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2010/01/ziarah.html' title='Ziarah'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-5530249080248451217</id><published>2009-09-13T11:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T11:52:22.013-07:00</updated><title type='text'>Jendela</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBINET-14%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoEndnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;} p.MsoEndnoteText, li.MsoEndnoteText, div.MsoEndnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/BINET-14/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/BINET-14/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/BINET-14/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/BINET-14/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1; 	mso-endnote-numbering-style:arabic;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBINET-14%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoEndnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;} p.MsoEndnoteText, li.MsoEndnoteText, div.MsoEndnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/BINET-14/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/BINET-14/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/BINET-14/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/BINET-14/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1; 	mso-endnote-numbering-style:arabic;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="IN"&gt;Jendela&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Damar menatap jendela rumahnya dalam-dalam. Bulan depan adalah kelulusan sekolahnya. Dari jendela rumahnya itu terlihat bukit-bukit kapur dengan warna merona becampur tanah. Kadang kala angin menghembus semak liar yang membelit kapur itu. Jika anginnya cukup keras bertiup, terkadang beberapa pasir sempalan kapur rapuh dan terbang ke bawah. Menaburi atap rumah-rumah yang ada di bawahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bukit kapur adalah pemandangan yang mungkin akan Damar rindukan. Bulan depan pula Damar akan hijrah ke Kota Jogja dari desa tercintanya, Rongkop Gunung Kidul. Damar sebenarnya masih ingin melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMU, tapi beberapa bulan lalu Bapak sakit. Bapak tidak bisa bekerja sebagai kondektur bus lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seorang teman Bapak telah datang ke rumah sebulan lalu. Teman Bapak membawakan buah-buahan yang sangat jarang Damar lihat di kampung. Teman Bapak yang baik itu menawarkan Damar bekerja di rumah sakit. Damar adalah anak tertua, sehingga layak jika Ibu memanggil Damar untuk dapat memenuhi panggilan kerja itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Damar &lt;i style=""&gt;wis gedhe. Pinter bocahe, neng kelas rangking siji. Awake yo rosa, dadi iso kuwi Kang, nek dikon kerjo neng rumah sakit,”&lt;a style="" href="#_edn1" name="_ednref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;ujar Ibu kepada Pak Walidi, teman Bapak yang menawarkan pekerjaan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Dadi ngene lho, Yu. &lt;/i&gt;Anik &lt;i style=""&gt;kuwi rak wis meh lahiran, bojone yo ngongkon leren. &lt;/i&gt;Daripada Anik &lt;i style=""&gt;nggolek wong liya, mending lak yo tak kongkon anakmu wae to yo. Jenenge kok yo apik men..Damar,”&lt;a style="" href="#_edn2" name="_ednref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;jawab Pak Walidi sambil terkekeh. Rupanya ia senang akan segera mendapatkan cucu pertamanya dari Anik, anak perempuannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Lha mengko sengeni opo ora? Damar kuwi sik lulusan SMP. Nek syarate lulusan SMA, yo durung. Tapi bocahe pinter lho...”&lt;a style="" href="#_edn3" name="_ednref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;Ibu Damar mewanti-wanti Pak Walidi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Tenang wae, Yu. Sing penting jujur. &lt;/i&gt;Anik &lt;i style=""&gt;wis ngomong karo perawate, jare ra popo. Wis pokoke tenang wae, “&lt;a style="" href="#_edn4" name="_ednref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;begitu Pak Walidi menenangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan bulan depan harapan dan doa Ibu di atas sajadah menjadi kenyataan. Manajemen Rumah Sakit memanggil Damar bersama dengan Perawat yang merekomendasikan Damar, nama yang didapatnya dari Anik, anak Pak Walidi yang menjadi petugas kebersihan sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Angan-angan Damar untuk kembali ke bangku sekolah pupus. Tak ada pilihan lain yang harus ditempuhnya. Semua itu sudah jalan Tuhan, begitu ia menirukan filosofi orang-orang kampungnya, terutama mengenai &lt;i style=""&gt;pulung&lt;a style="" href="#_edn5" name="_ednref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ia tidak ingin ibunya terlalu lama menatap jendela rumahnya dalam-dalam di malam hari. Sebab, jika ibunya melihat ada cahaya jingga yang seolah jatuh di atap rumahnya, maka ‘virus’ pulung gantung mungkin akan menyebar di keluarganya. Damar tak ingin. Tiga orang adiknya yang masih kecil membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Walau pun sekarang sekolah dijanjikan gratis oleh pemerintah, tak mungkin pula tak ada periuk nasi yang mengisi perut mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebelum ia meninggalkan Rongkop, ia menatap lagi jendela rumahnya dalam-dalam. Berharap jendela itu bisa mengabarkan berita baik, bukan sebaliknya. Sebulan sekali ia akan bisa berjumpa kembali dengan bukit-bukit kapur ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan akhirnya bus dari Pantai Kukup membawanya ke Terminal Prambanan hari ini. Dari Rongkop, perjalanan ke Jogjakarta ditempuh selama hampir dua jam. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Jadi, kamu harus tahu tanggung jawabmu disini, Damar. Pagi hari dan sore hari kamu mengepel Paviliun Melati dan Paviliun Anggrek. Termasuk kamar pasien. Ingat ! Satu per satu. Kamar mandinya juga harus bersih. Siang harinya kamu membawa semua pakaian dan seprai pasien ke ruang &lt;i style=""&gt;laundry. &lt;/i&gt;Dari ruang &lt;i style=""&gt;laundry &lt;/i&gt;juga harus dibawa cucian yang sudah bersih. Jangan lupa juga menyiram taman di depan Poliklinik. Jangan sampai terlambat. Bu Naya yang akan mengawasi kalian. Kalau terlambat, ada sanksinya.” Kepala Perawat memberi instruksi pada Damar. Damar hanya manggut-manggut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak ada lagi permainan mendaki bukit kapur, atau permainan kelereng. Yang Damar hadapi sekarang hanyalah sapu dan ember. Dan bau pewangi lantai rumah sakit yang khas. Lantai yang Damar injak bukan lantai sekolah yang membawa cita-citanya tinggi ke langit, tapi lantai rumah sakit yang dibasahi oleh darah dan cairan infus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Delapan bulan berlalu. Damar mulai dapat menyesuaikan diri di Jogjakarta. Delapan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kali pula ia pulang ke rumah. Ibunya mengeluhkan keringnya sumber air di Rongkop. Sumur Bribin dan Seropan yang ditemukan di kecamatan tidak bisa menopang kebutuhan air warganya. “&lt;i style=""&gt;Miline saumet-umet,”&lt;a style="" href="#_edn6" name="_ednref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;kata Ibu Damar. Musim panceklik yang panjang memang sangat menyengsarakan Ibunya. Ia harus turun dan mendaki bukit untuk mendapatkan air bersih. Sedangkan, kalau untuk membeli air bersih, ia harus mengeluarkan uang seratus ribu rupiah untuk satu tangki air bersih. Pengusaha air bersih menjual air yang didapat dari Pracimantoro, Wonogiri. Uang kiriman Damar bisa-bisa habis jika Ibu terus menerus membeli air dari pengedar. Pengedar yang bersenang-senang di atas kekeringan. Bisnis besar, kata mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pundak Ibu Damar sekarang lebih perkasa dari pundak seorang pelajar remaja putra di kota-kota. Pundaknya sudah terampil untuk mengambil air yang didapat dari sumber air berjarak 15 kilometer dari rumahnya. Ibu dibantu Nur, anak keduanya yang hanya selisih satu tahun dari Damar, mengangkut air. Bapak masih terbaring sakit di rumah. Biaya pengobatan setahun lalu masih terasa cukup besar, sehingga Ibu memutuskan memulangkan Bapak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Empat bulan kemudian, Damar sudah malas pulang. Wesel di Kantor Pos membuatnya lebih nyaman untuk mengantarkan uang ke kampung halamannya. Jogja lebih menarik buatnya sekarang. Kafe, &lt;i style=""&gt;mall, &lt;/i&gt;dan pertunjukan musik bertebaran di sudut kota. Kerlip cahaya lampu-lampu pertokoan, keramaian di pusat kota, serta dispenser air yang dirasanya sangat praktis telah membuatnya malas pulang ke Rongkop.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;**&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jendela rumah Damar membawa kabar tidak baik hari ini. Bapak terbatuk-batuk, kadang mengeluarkan darah. Digerogoti TBC dan kelumpuhan membuat Bapak tidak leluasa beraktivitas. Kualitas dan kuantitas air di Rongkop yang sangat buruk membuat TBC Bapak semakin parah. Dan batuknya sekarang makin menjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Nur, tulung tulis surat nggo Masmu, kon ndang bali. Bapak gerahe wis nemen, iso nggak digowo neng&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rumah sakit nggone Masmu nyambut gawe? Nek wis, kekno &lt;/i&gt;Pak Sugi &lt;i style=""&gt;sing kulino bolak-balik Jogja. Nek &lt;/i&gt;Pak Sugi &lt;i style=""&gt;kerso, surate tulung dicaoske neng Sardjito, “&lt;a style="" href="#_edn7" name="_ednref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;begitu instruksi Ibu kepada Nur dengan tergesa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Ngko nek pareng, nyilih handphone &lt;/i&gt;Pak Sugi &lt;i style=""&gt;wae,”&lt;a style="" href="#_edn8" name="_ednref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;ucap Nur sambil mencium tangan Ibunya. Berpamitan menuju rumah Pak Sugi di bawah bukit. Ia membawa buku sekolahnya serta sebuah pensil di tangan. Nur bergegas menuju ke rumah Pak Sugi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;**&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Damar memencet dispenser warna biru. Segera air dingin menyentuh tenggorokannya. Jauh lebih segar daripada air yang dirasakannya di rumah. Badannya sangat pegal. Kemarin, banyak kotoran yang ia bersihkan di kamar mandi. Sesungguhnya ia sangat tidak menyukai pekerjaan ini. Namun, pekerjaan ini yang membuat orang tuanya bertahan di Gunung Kidul. Walaupun gaji yang ia peroleh kecil, namun pekerjaan ini memberinya banyak kesempatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ia masih terbayang jendela di rumahnya yang menawarkan pemandangan perbukitan kapur. Jalur yang ia lalui untuk bersekolah. “Kapan aku bisa sekolah lagi?” ratap Damar dalam hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tiba-tiba pintu &lt;i style=""&gt;pantry &lt;/i&gt;terbuka. Nisa, rekan kerjanya, membawa kabar bagi Damar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Damar, ada telepon dari adikmu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Hah? Dimana?” Damar terkejut sekaligus heran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Di ruangan Bu Naya. Buruan diangkat. Penting &lt;i style=""&gt;banget kayaknya,&lt;/i&gt;” jawab Nisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bergegas Damar menuju ruangan supervisornya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Assalamu’alaikum Nur. &lt;i style=""&gt;Ono opo?&lt;a style="" href="#_edn9" name="_ednref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Mas, Bapak gerahe soyo ndadi. Ndang bali, Mas. Bapak iso ora digowo neng rumah sakit nggonmu?”&lt;a style="" href="#_edn10" name="_ednref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Astaghfirullah&lt;i style=""&gt;. Lha trus sing mbayar sopo?”&lt;a style="" href="#_edn11" name="_ednref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Yo maturo karo Bosmu. Pokoke kuwi ngomongo karo rumah sakit , iso ora iso, ndang bali. Sik yo Mas, soale iki aku nyilih handphone &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pak Sugi.&lt;i style=""&gt;”&lt;a style="" href="#_edn12" name="_ednref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Krek. Telepon ditutup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hati Damar tidak menentu. Ia mencari Nisa untuk memperoleh dukungan. Ia meminta Nisa menemaninya menghadap Bu Naya. Dan sekarang ia bersama Nisa telah berada di depan Ibu Naya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibu Naya mengatakan ia tidak bisa memperjuangkan nasib Bapak Damar. Ia menyarankan Damar untuk segera mengurus perpanjangan Askeskin ke Puskesmas di kampungnya. Kemudian, Damar harus membawa Askeskin itu ke UGD atau Poliklinik, dan mungkin menghadap dokter Aziz, kepala UGD. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Damar mengejar bus terakhir hari ini ke Rongkop. Bus yang akan mengantarkannya ke jendela rumahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Damar menjumpai ayahnya terbaring lunglai tidak berdaya di rumah. Beberapa obat-obat alternatif yang dibawakan oleh rekan sekerjanya di kampung cukup menenangkan Bapak malam itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan malam itu, Damar memasang tirai di jendela rumahnya. Tirai yang berasal dari kain seprai yang tidak terpakai di rumah sakit. Kain itu sengaja ia bawa bersama dengan beberapa barang yang tersisa di rumah sakit, seperti kaleng-kaleng biskuit yang ia temukan di kamar VIP. Orang-orang kaya itu malas membawa makanan yang dibawa tamu-tamu mereka selama di rumah sakit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tirai itu ia pasang agar Ibu tidak memandangi langit dari jendela rumahnya. Ia khawatir, halusinasi Ibunya akan membawa alam pikirannya pada sinar jingga yang meluncur di atas rumahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Damar &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; mau bekerja lagi di Jogja. Biar Damar yang jagain Ibu sama Bapak. Siapa yang akan mengambil air di bawah, siapa yang akan mencari kayu? “ kata Damar sambil menatap Bapaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bulan depan Nur sudah selesai SMP. Biar Nur yang menggantikan Mas Damar kerja di rumah sakit,” lanjut Nur pelan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibu Damar tak kuasa menahan tangis. &lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Damar sekarang mengerti mengapa kehidupan yang ia lihat dari jendela rumahnya di Gunung Kidul selalu sepi, senyap, dan keras seperti batu kapur. Itulah makna kehidupan bagi Damar yang tinggal di Gunung Kidul. Sepi adalah tangis tak berkesudahan karena lingkaran kemiskinan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Senyap adalah doa tak berujung untuk lepas dari sengsara. Dan keras karena harapan itu telah membatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun Jogjakarta tetap riuh dengan musik dan kafe. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;HNK- Jakarta, 13 September 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportEndnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="edn1"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref1" name="_edn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Damar sudah besar. Anaknya pandai, di kelas &lt;i style=""&gt;rangking &lt;/i&gt;satu. Badannya juga kuat, jadi bisa disuruh kerja di rumah sakit.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn2"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref2" name="_edn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Jadi begini, Kak. Anik itu sudah mau melahirkan, suaminya juga menyuruhnya istirahat. Daripada Anik mencari orang lain, lebih baik meminta anakmu saja (untuk menggantikannya). Namanya bagus juga, Damar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn3"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref3" name="_edn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Nanti dimarahi apa nggak? Damar itu lulusan SMP. Kalau syaratnya lulusan SMU, Damar belum bisa. Tapi anaknya pandai, lho.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn4"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref4" name="_edn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Sudah tenang saja, Kak. Anik sudah bilang ke perawat di rumah sakit itu. Dan kata dia tidak apa-apa. Sudah pokoknya tenang saja.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn5"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref5" name="_edn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;i style=""&gt;Pulung &lt;/i&gt;artinya wahyu. Sebagian masyarakat Gunung Kidul percaya akan sebuah wahyu gaib berbentuk bola  api berkobar-kobar dan berekor. Jika bola api itu berwarna biru, maka dipercaya itu adalah pertanda baik. Jika bola api berwarna jingga, dipercaya bagi mereka yang rumahnya kejatuhan bola api jingga, maka itu adalah takdir Tuhan untuk mengakhiri hidupnya. Keyakinan semacam ini muncul di Gunung Kidul karena banyaknya fenomena gantung diri di Gunung Kidul. Data dari Kompas menyebutkan 9 dari 1000 orang di Gunung Kidul mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Angka ini cukup besar jika dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, yang terdapat 2 dari 1000 orang yang melakukan bunuh diri dengan jalan gantung diri. Buku yang ditulis Durkheim, sosiolog Prancis, yakni &lt;i style=""&gt;Suicide &lt;/i&gt;menyebutkan bahwa tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Jika sebagian masyarakat Gunung Kidul, menganggap bunuh diri sebagai wahyu, maka beberapa penelitian, seperti Darmaningtyas (2001) menyebutkan bahwa faktor ekonomi yang membuat mereka mengakhiri hidupnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn6"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref6" name="_edn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Mengalir sedikit sekali.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn7"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref7" name="_edn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Nur, tolong tulis surat untuk kakakmu. Minta dia segera pulang. Bapak sakit keras. Bisa nggak Bapak dirawat di rumah sakit tempat kakakmu kerja? Tolong titipkan surat itu kepada Pak Sugi yang sering bolak-balik ke Jogja. Kalau Pak Sugi berkenan, suratnya tolong disampaikan ke RS Sardjito.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn8"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref8" name="_edn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Nanti kalau boleh, ditelepon saja meminjam &lt;i style=""&gt;handphone &lt;/i&gt;Pak Sugi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn9"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref9" name="_edn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Ada apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn10"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref10" name="_edn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Mas, Bapak sakit keras. Lekas pulang ke rumah. Bisa tidak Bapak dirawat di tempat kerja Mas?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn11"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref11" name="_edn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Yang bayar siapa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn12"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref12" name="_edn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; “Kamu bilang sama Bos kamu. Pokoknya kamu bilang ke pihak rumah sakit. Bisa atau tidak, lekas pulang ke rumah. Sudah ya Mas, soalnya saya memakai &lt;i style=""&gt;handphone &lt;/i&gt;Pak Sugi.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-5530249080248451217?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/5530249080248451217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=5530249080248451217' title='25 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/5530249080248451217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/5530249080248451217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2009/09/jendela.html' title='Jendela'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-2712026030984869220</id><published>2008-12-10T04:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T05:49:37.028-08:00</updated><title type='text'>Sukoharjo, Spiritualitas, dan Wayang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/ST-_P-RyYOI/AAAAAAAAAJQ/io090XX1I0k/s1600-h/sukoharjo.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/ST-_P-RyYOI/AAAAAAAAAJQ/io090XX1I0k/s320/sukoharjo.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278147569438056674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saya dibesarkan di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Sukoharjo yang lekat dengan kebudayaan luhur Jawa. Kabupaten yang terletak di selatan Kota Surakarta atau Solo ini mempunyai potensi alam yang cukup bagus, khususnya dalam sektor pertanian. Sukoharjo dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Indonesia ketika masa Orde Baru. Di masa kini, Sukoharjo dikenal sebagai salah satu daerah penyokong Kota Surakarta yang mulai dipengaruhi oleh budaya industri dan urban. Akan tetapi, di beberapa tempat yang masih jauh dari perkotaan, budaya setempat masih cukup terjaga dengan baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Salah satu nilai yang hidup di masyarakat Sukoharjo adalah nilai-nilai spiritualitas. Spiritualitas ini tidak semata berarti religius, yang tereduksi dalam simbol-simbol keagamaan, namun spiritualitas dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia, hubungan antar alam, sekaligus hubungan dengan Sang Pencipta Kehidupan. Spiritualitas ini dapat terjaga baik, karena sejarah maupun kondisi masa kini masyarakat setempat yang senantiasi menjaga alam. Di tempat saya tinggal, banyak petani yang tergantung hidupnya dari alam. Ilmu pengetahuan lokal mengenai alam, seperti kapan masa tanam, masa panen, atau kapan hama tikus menyerang, sudah menjadi bagian yang integral dari kehidupan petani padi maupun petani sektor lainnya. Bahkan, sebelum Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih berdiri di Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, pada awal tahun 1990-an, petani setempat sudah mempunyai pengetahuan lokal mengenai membuat/mengawinsilangkan benih sehingga menjadi benih unggul. Nilai-nilai spiritualitas ini dianggap berharga oleh masyarakat baik secara kognitif maupun afektif. Secara kognitif, dengan karakteristik masyarakat yang agraris dan mengandalkan alam dalam kehidupan sehari-harinya, pengetahuan mengenai alam sangat diperlukan untuk mengantisipasi kegagalan panen. Pengetahuan mengenai alam ini yang kemudian mengantarkan mereka menjadi spiritualis, karena memanfaatkan alam, dalam filosofi masyarakat Jawa, adalah salah satu bentuk &lt;i&gt;sangkan paraning&lt;/i&gt; &lt;i&gt;dumadi. Sangkan paraning dumadi &lt;/i&gt;secara sederhana dapat diartikan sebagai "dari asal, akan kemana tujuan, dan akhir perjalanan hidup”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pandangan akan &lt;i&gt;sangkan paraning dumadi &lt;/i&gt;ini menggambarkan bahwa filosofi hidup masyarakat Jawa berbeda dengan filsafat Barat (yang banyak dipelajari di universitas atau perguruan tinggi). Jika filsafat Barat bertujuan mencari kearifan atau &lt;i&gt;wisdom&lt;/i&gt;, maka filsafat Jawa berusaha mencari kesempurnaan atau &lt;i&gt;perfection&lt;/i&gt; atau "&lt;i&gt;kasampurnan&lt;/i&gt;". &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Filosofi ini yang kemudian menghantarkan pada nilai-nilai spiritual yang mengakar pada masyarakat Jawa pada umumnya, dan Sukoharjo pada khususnya. Namun, dalam konteks relevansi “yang global” dan “yang lokal”, kedua tujuan itu pada akhirnya sama, yakni bermuara pada akar &lt;i&gt;truth &lt;/i&gt;atau kebenaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam filosofi “kesempurnaan” masyarakat Jawa, hidup bukan lagi semata masalah materi, karena ada tujuan immaterial di atas materi yang lebih luhur nilainya. Menurut pendapat saya, ada tiga nilai dasar yang dihidupi masyakat namun tetap dihadapi hingga saat ini yang berakar dari pandangan kesempurnaan hidup ini. Yang pertama, nilai mengenai “budi pekerti”, yaitu kesopanan yang berlaku antara yang tua dan yang muda, antara orang yang baru dikenal (tamu) dengan orang yang sudah lama dikenal, atau antara anggota keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga yang luas dalam masyarakat Jawa. Yang kedua adalah nilai mengenai “kepemimpinan”. Kepemimpinan ini mengacu pada &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;gagasan-gagasan mengenai negara yang ideal, pemimpin yang bijaksana, kehidupan masyarakat yang sejahtera dan lain sebagainya&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;. Yang ketiga adalah nilai mengenai “keadilan”. Keadilan ini mengacu pada hubungan antara manusia, bagaimana manusia tidak rakus untuk mencaplok hak-hak orang lain, bagaimana yang kuat tidak menindas yang lemah, dan lain sebagainya. Nilai-nilai inilah yang menurut saya, secara &lt;i&gt;de&lt;/i&gt; &lt;i&gt;facto &lt;/i&gt;dihadapi oleh masyarakat Jawa dari masa ke masa. Kegelisahan akan nilai-nilai yang terus berubah dilukiskan, misalnya, dalam sejarah mengenai syiar Islam yang dilakukan Walisongo di tanah Jawa. Salah satu ajaran Walisongo adalah “Molimo” yang kemudian menjadi tuntunan budi pekerti masyarakat Jawa, lebih khusus lagi dalam konteks penyebaran agama Islam di Jawa. Dalam masa kerajaan, masyarakat Jawa juga dihadapkan pada teka-teki masalah kepemimpinan dan keadilan, kegelisahan akan kepemimpinan dan keadilan dilukiskan dalam sejarah Joko Tingkir (yang kemudian membentuk Kesultanan Pajang), atau Patih Gajah Mada yang bersumpah Palapa untuk mempersatukan Nusantara. Dalam konteks yang paling aktual, masyarakat Jawa pun dihadapkan pada nilai-nilai mengenai “budi pekerti”, “kepemimpinan”, atau “keadilan”. Dalam masa krisis 1997-1998, masyarakat Sukoharjo juga turut resah dengan kabar-kabar dari Jakarta mengenai korupsi (cerminan dari nilai budi pekerti), pemerintahan yang goyah karena krisis moneter (cerminan dari nilai-nilai kepemimpinan), serta harga barang-barang pokok yang mahal, salah satunya beras (cerminan dari nilai-niali keadilan). Keresahan itu yang kemudian memunculkan kerusuhan di sekitar Kota Surakarta (termasuk Kabupaten Sukoharjo) pada bulan Mei 1998, walaupun banyak analis politik menyebutkan kerusuhan itu karena ulah provokator. Akan tetapi, secara umum,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tiga nilai itu yang diyakini menjadi “kotak pandora” masyarakat Jawa yang harus ditahan dan dirawat agar tidak muncul sebagai penderitaan dan kesengsaraan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut Ward H. Goodenough (1981), kebudayaan adalah pengetahuan bersama yang dipelajari dari orang lain bukan karena keturunan. Dalam pengertian ini, Goodenough tidak melihat kebudayaan secara formal saja, namun juga meliputi pengetahuan bersama yang bersumber dari kognisi. Menurut Goodenough, kebudayaan diletakkan sebagai gagasan yang secara sistematis menghubungkan dunia kognitif individu dan perilaku kolektif komunitas/penduduk/masyarakat. Ini artinya, sistem pengetahuan individu dapat merubah perilaku kolektif komunitas, dan pada gilirannya perilaku kolektif dapat menjadi pengetahuan bersama masyarakat setempat mengenai penilaian baik/buruk atau sikap etis terhadap suatu hal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam kerangka teori Goodenough ini, nilai-nilai spritual masyarakat Sukoharjo dapat terus dipelihara dengan mengedepankan nilai-nilai ”budi pekerti”, ”keadilan”, serta tata negara atau ”kepemimpinan”. Sikap ini menjadi etos masyarakat Jawa (khususnya masyarakat pedesaan) yang masih dapat dijumpai, misalnya saling menyapa ketika berpapasan/bertemu di jalan, di sawah, atau di pasar. Etos lain yang muncul dari nilai ”keadilan” adalah etos solidaritas, misalnya ketika ada saudara yang sakit atau terkena musibah, saudara yang lain ikut membantu untuk meringankan beban saudaranya tersebut. Etos masyarakat Jawa lainnya muncul di pasar. Di pasar ini, ada nilai-nilai lokal yang tumbuh bahwa perempuan dapat pula berdaya dan mandiri secara ekonomi dengan berdagang di pasar. Etos seperti ini sebenarnya adalah proses yang kognitif serta afektif yang berharga dalam menyikapi semangat feminisme global. Dari pasar ini, kita dapat mendekonstruksikan wacana mengenai budaya Jawa yang patriarki, menjadi sebuah wacana kebudayaan yang mengedepankan etos perempuan dan kepemimpinan tidak harus dari laki-laki. Perempuan yang berjualan di pasar biasanya bangun lebih pagi dari suaminya, berangkat ke pasar sebelum ufuk menjelang, dan menggunakan uang hasil penjualannya untuk biaya sekolah atau kesehatan anak-anak mereka. Etos ini melahirkan sebuah pengetahuan bersama yang didasari oleh nilai-nilai kebudayaan Jawa. Etos ini mempunyai makna yang positif dalam konteks pembangunan. Jika pemimpin dapat memanfaatkan etos ini untuk kebaikan bersama, dan pengetahuan bersama mengenai etos tersebut terjaga dengan baik, maka masyarakat pun dapat berkembang sesuai dengan nilai-nilai lokal yang ada di masyarakat. Pemerintah daerah dapat memberikan intervensi sosial dengan memberikan arahan-arahan dengan program dan kebijakan yang memungkinkan etos tersebut terpelihara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pertunjukan Wayang sebagai Sarana untuk Memelihara Nilai-nilai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saat ini etos tersebut masih cukup terpelihara walau ditantang dengan munculnya arus globalisasi dan kapitalisme yang deras dewasa ini. Serbuan &lt;i&gt;hypermarket &lt;/i&gt;atau ritel multinasional telah menghancurkan relasi-relasi sosial masyarakat Jawa yang berakar di pasar tradisional. Media-media tekonologi informasi, seperti internet, telah menimbulkan dua mata sisi yang berlawanan. Di satu sisi, internet menawarkan akses informasi tanpa batas ke semua negara, namun di sisi lain, internet juga mengikis relasi-relasi sosial masyarakat dewasa ini, ataupun mengikis nilai-nilai budi pekerti lewat beberapa situs-situs internet yang mengumbar libido . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lewat media-media lokal, nilai-nilai tersebut dapat terpelihara, salah satunya melalui pertunjukan wayang (sayangnya sekarang makin jarang), baik wayang kulit maupun wayang orang. Wayang adalah salah satu produk kebudayaan yang dihasilkan dari cipta, rasa, dan karsa yang tinggi. Falsafah wayang diharapkan dapat memberi jawaban atas pandangan-pandangan mendasar tentang kebenaran dan realita yang mengarah pada pencapaian kesempurnaan hidup. Falsafah wayang yang bertujuan "&lt;i&gt;ngudi kasampurnan&lt;/i&gt;" menampilkan pandangan antara lain terhadap hal-hal secara metafisika, epistimologi, serta aksiologi. Filsafat wayang itu sangat religius. Pemikiran-pemikiran religius sangat dominan, bahkan seluruh ruang lingkup filsafat ini merupakan simbol manifestasi kekuasaan Tuhan ; manusia dan alam digambarkan dengan indah dalam setiap pergelaran wayang, utamanya pada lakon Dewa Ruci, Bima Suci, Kresno Gugah, Sastra Jendra dan Begawan Ciptoning.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pandangan epistemologi wayang terhadap kehidupan juga terlihat. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan apa dan bagaimana pengetahuan itu. Dalam pergelaran wayang banyak mengandung simbol-simbol yang perlu ditafsirkan. Bagaimana kita memahami simbol-simbol dalam pergelaran wayang? Hal ini menuntut kognisi atau pemahaman dari sisi pengamat atau penonton. Pemahaman yang dangkal dari penonton juga akan mengakibatkan pengertian yang dangkal juga mengenai nilai-nilai kehidupan. Dari sisi pergelaran wayang sendiri mengandung contoh-contoh mengenai pemahaman, baik terhadap alam, manusia dan Tuhan. Utamanya, di dalam cerita sangat kaya sekali menggambarkan adanya contoh-contoh tentang pemahaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aksiologi adalah filsafat nilai. Dalam wayang nilai-nilai ini sangat dominan, karena memang misinya adalah menyampaikan pesan moral. Di dalam wayang ada banyak nilai dasar yang kesemuanya itu merupakan atribut untuk mencapai kesempurnaan hidup, mendekatkan diri kepada Tuhan dan beramal saleh kepada sesamanya. Aksiologi wayang dikembangkan dalam dua unsur pokoknya yaitu etika dan estetika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Selain wayang, ada beberapa media yang digunakan untuk memelihara nilai-nilai etis di Jawa, misalnya dengan penggunaan bahasa Jawa di antara masyarakat yang bertingkat-tingkat. Nilai-nilai budi pekerti, terutama yang muda menghormati yang tua terlihat dengan perbedaan penggunaan bahasa dengan &lt;i&gt;kromo inggil, kromo madya, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;ngoko. &lt;/i&gt;Cerita-cerita rakyat juga sering digunakan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan di dalam diri anak, misalnya cerita mengenai &lt;i&gt;Kancil Nyolong Timun, &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Timun Mas, &lt;/i&gt;yang berusaha menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan keadilan. Tradisi itu tetap hidup walaupun berada di bawah bayang-bayang arus modernitas dan globalisasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang Emik Menjadi Yang Etik ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kajian kebudayaan selanjutnya menempatkan fonemik dan fonetik sebagai salah satu fokus kajian. Fonemik adalah tuturan khas yang dijumpai di sebuah bahasa yang tersendiri, sedang fonetik adalah tuturan secara umum yang dapat diucapkan manusia sesuai dengan organ-organ tubuhnya, misalnya lidah, tenggorokan, paru-paru dan lainnnya. Kajian emik adalah kajian yang melihat sesuatu yang khas di masyarakat lokal yang signifikan untuk dilihat, sedangkan kajian etik berusaha melihat sesuatu yang secara objektif ada di dalam setiap individu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam konteks pembangunan, kajian emik melihat kearifan lokal mana yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan masyarakat. Kearifan lokal itu dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun kearifan lokal tersebut signifikan untuk dilihat dalam proses pembangunan. Di dalam tulisan ini telah dipaparkan bahwa nilai-nilai spiritualitas masyarakat Sukoharjo menjadi objek emik dalam pembangunan. Nilai-nilai tersebut berharga untuk menjaga norma yang ada di masyarakat. Dalam tulisan ini juga ditunjukkan bagaimana masyarakat merawat nilai-nilai itu, salah satunya melalui pertunjukan wayang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah yang emik tersebut dapat menjadi sesuatu yang etik ? Menurut pendapat saya, yang emik dapat menjadi pengetahuan bersama masyarakat, namun untuk menjadi etik, tentunya harus dilihat kesesuaianya dengan etika global lainnya. Pada kenyataannya, di dalam masyarakat Sukoharjo sesuatu yang dipahami secara emik juga dipahami oleh masyarakat di tempat lain, misalnya nilai-nilai mengenai keadilan. Yang bermanfaat, sesuatu yang emik ini dapat difungsikan sebagai cara-cara yang lebih partisipatoris dalam menggerakkan etika global. Misalnya, penanaman nilai anti-korupsi tidak harus didekati dengan pendekatan berbasis hak seperti yang ada di dalam masyarakat Barat, tapi dapat didekati dengan pendekatan budi pekerti dan takut pada Tuhan. Sama halnya, untuk mentransfer ide-ide John Rawls mengenai keadilan (&lt;i&gt;libertarian justice&lt;/i&gt;), dapat digunakan metode dan ide-ide yang telah berkembang di masyarakat Sukoharjo mengenai bagaimana mereka mempersepsikan keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;* sebelum menulis tulisan ini, penulis sama sekali tidak attach dengan kebudayaan asalnya. tiba-tiba ketika membaca sebuah tulisan, pandangan itu berubah 180 derajat.  &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Referensi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Timothy Begaye,&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Native Teacher Understanding of Culture as a Concept for Curricular Inclusion&lt;/i&gt;,  Jurnal Wicazo Sa Review - Volume 22, Number 1, Spring 2007&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ward H. Goodenough, &lt;i&gt;Culture, Language, and Society&lt;/i&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;2d edition&lt;/span&gt;, California : Benjamin/Cummings, 1981&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="bigtitle"&gt;Sides Sudyato DS, &lt;i&gt;Wayang, Kebudayaan dan Nasionalisme Poskolonial&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; , diunduh dari: &lt;a href="http://www.rayakultura.net/wmview.php?ArtID=75&amp;amp;page=1"&gt;http://www.rayakultura.net/wmview.php?ArtID=75&amp;amp;page=1&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-2712026030984869220?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/2712026030984869220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=2712026030984869220' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2712026030984869220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2712026030984869220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/12/sukoharjo-spiritualitas-dan-wayang.html' title='Sukoharjo, Spiritualitas, dan Wayang'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/ST-_P-RyYOI/AAAAAAAAAJQ/io090XX1I0k/s72-c/sukoharjo.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-2932216090560030685</id><published>2008-11-29T08:00:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T08:04:30.293-08:00</updated><title type='text'>People-Centered Regionalism ?</title><content type='html'>What is the meaning of Southeast Asia regionalism? Southeast Asian is slowly bounded ASEAN agreements, i.e. ASEAN Charter, Free trade agreements, or AFTA. NGOs and some mass media criticized ASEAN as an elite group; they only draw government-to-government relations, but don’t put people as the subject of regionalism.&lt;br /&gt;By 2003, ASEAN has shifted its regionalism into ‘community’ model of regionalism. Community means that there are members of the community owning shared identity and shared responsibility (Ife&amp;amp;Tesoriero, 2002). Also, it means that ASEAN should develop its regionalism into ‘bottom-up’ process. Top-down process, to some extent, is still needed, but ‘bottom-up’ process is also important to build genuine regionalism. The idea of regionalism is not only unite the states, but also the society. If not, the benefit of regionalism would be difficult to be reached by precisely the society.&lt;br /&gt;In my opinion, there are two different principles between state regionalism (old regionalism) and people-centered regionalism (new regionalism).&lt;br /&gt;First, the old focuses on financial capital, which concentrates on the accumulation of financial capital that might be owned by big companies or the have. Whilst the poor lack of resources, social capital is the solution came from new regionalism. According to Robert Putnam 2006, social capital refers to the collective value of all social network and the inclinations that arise from these networks to do things for each other.&lt;br /&gt;Second is the paradox between power and empowering. The old regionalism was perceived as drawing its power from units of government above and below it. The new regionalism gains power by empowering. In many places, part of this empowerment is directed toward neighborhoods and communities, with the objective of getting them constructively engaged in regional decision making. Empowerment also consists of engaging nonprofits and for-profits in governance decisions that were once treated as the domain of the public sector alone. Using the approach of empowerment is based on the assumption that new interests bring new energy, authority, and credibility; in short, it grows power or capacity in order to move a regional agenda. Obama also employed this approach when campaigning and speaking out on the election.&lt;br /&gt;The solution would not be black or white, old or new. It could be mixed. The bottom-up approach might be called as idealist, whilst the top-down is more political realist. The bottom-up might be so naïve, but it depends on who would call the confusion of regionalism: you, as an agent itself, or you, as follower?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-2932216090560030685?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/2932216090560030685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=2932216090560030685' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2932216090560030685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2932216090560030685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/11/people-centered-regionalism.html' title='People-Centered Regionalism ?'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-8972987545314200941</id><published>2008-11-25T00:00:00.001-08:00</published><updated>2008-11-28T23:16:29.826-08:00</updated><title type='text'>Ahhh There I Am !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SSu-hopfjbI/AAAAAAAAAIw/b4TM4tEmiJg/s1600-h/gambar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 270px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SSu-hopfjbI/AAAAAAAAAIw/b4TM4tEmiJg/s320/gambar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272517273823710642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="text"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"There are three things extremely hard: steel, a diamond, and to know one's self." - Benjamin Franklin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beberapa hari lalu, saya mengaduk-aduk kembali beberapa koleksi buku. Menelusuri satu per satu buku, tapi tampaknya tidak semua topik benar-benar saya sukai. Ini berawal dari tugas di salah mata kuliah yang cukup &lt;i style=""&gt;decisive, &lt;/i&gt;sehingga saya harus berpikir mengenai tesis apa yang akan saya ambil. Sekarang ini, di Pascasarjana, bacaan yang saya hadapi berbeda dari topik Hubungan Internasional yang saya pelajari di S1, walaupun masih ada kaitannya. Mulanya saya senang-senang saja mendengarkan kuliah Profesor Tangdilintin, tapi ketika saya mencari rujukan buku kuliahnya, seperti “Poverty and Social Exclusion”, “Social Development”, dan lain-lain, saya ngantuk banget baca bukunya. Sama ngantuknya dengan membaca buku Anthony Giddens mengenai Teori Kapitalisme dan Perubahan Sosial dari Durkheim, Marx, dan Weber.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kemudian ingatan saya mundur beberapa tahun ke belakang, dan mulai mempertanyakan kembali, “Jadi sebenernya bidang ilmu yang cocok dengan saya apa, ya?” Pertanyaan itu mungkin kelewat terlambat, karena saya sendiri sudah lulus dari S1 sejak dua tahun lalu. Bahkan, sempat berkuliah S1 di dua tempat dan jurusan yang berbeda. Tapi, sampai saat ini masih ada sisa-sisa yang mengganjal. Jika memutar waktu, di ujung masa SMU dulu, saya sempat bingung juga : mau ngambil jurusan apa, ya? Maksudnya, jurusan yang cocok dengan saya. Yang pertama, Teknik, yang jadi &lt;i style=""&gt;mainstream &lt;/i&gt;anak-anak IPA waktu itu (selain kedokteran), saya merasa tidak cocok sama sekali. Nilai Fisika saya standar, dan melihat apa yang dipelajari di masa matrikulasi seorang mahasiswa Teknik sungguh pusing : Fisika I, Fisika II, dan Fisika III. Can’t help! Kedua, Kedokteran, sebenarnya belum pernah didalami dan dilihat secara langsung, tapi melihat kakak saya belajar Biokimia dan Faal, saya jadi minder sendiri. Apakah saya sanggup? Sepertinya otak saya nggak mampu ke situ. Sebenarnya di antara mata kuliah IPA yang lain, yang paling saya suka adalah Matematika. Berniat mau masuk Statistika, tapi dilarang oleh orang tua, katanya : Mau jadi apa ? Pilihan berikutnya, Ekonomi. Tadinya saya ingin masuk juga jurusan Ekonomi Pembangunan, tapi tidak jadi. Belakangan, merasa beruntung juga tidak masuk Ilmu Ekonomi karena pusing juga dengan ekonometri yang saya lihat di beberapa buku. Akuntansi ? Big No. Saya bermasalah dengan &lt;i style=""&gt;coding. &lt;/i&gt;Pilihan terakhir, Hukum. Dalam hati saya, “Kok kayaknya hapalan semua. Bisa mati kutu aku.” Apalagi saya bukan orang yang taat hukum (alias suka curi-curi kesempatan untuk melanggar) dan pusing membaca UU yang berpasal-pasal itu, jadi pilihan untuk kuliah di Fakultas Hukum jauh-jauh ditinggalkan. Sepertinya cuma ada yang di benak saya sebagai siswa SMU dari jurusan IPA memandang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lepas dari SMU, bertemulah saya dengan Ilmu Sosial Ekonomi Perikanan (campur aduk banget). Pokoknya mata kuliahnya masih sama dengan SMU banget deh. Yang membuat berbeda dari SMU adalah kesempatan mempelajari buku-buku tebal yang belum pernah saya sentuh sebelumnya di SMU. Beberapa waktu kemudian, saya terpaku di sebuah perpustakaan yang sunyi di atas Danau Dramaga IPB. Rupanya sedang asik membaca buku terbitan CSIS mengenai Indonesia tahun 1990-an. Entah mengapa, dua hari membaca buku itu di perpustakaan hati saya tergerak untuk mempelajari ilmu sosial lebih lanjut. Dan kemudian, setelah lepas dari Kampus Dramaga, terjunlah saya di lautan lepas ilmu sosial yang menurut saya lebih menarik daripada ilmu alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perkenalan pertama, bertemu dengan mata kuliah-mata kuliah Hubungan Internasional, seperti : Sejarah Dunia Modern, Teori Hubungan Internasional, Politik Internasional, Organisasi Internasional, Kajian Strategi, Ekonomi Politik Internasional, dan Diplomasi Modern. Kecanduannya masih pada level 2, alias masih waras. Yang paling jadi &lt;i style=""&gt;discouragement &lt;/i&gt;saya adalah mata kuliah Sejarah Dunia Modern dan Kajian Strategi yang sebagian besar bicara mengenai pertahanan keamanan. Dalam hati saya, “Kok kayaknya saya ngantuk banget yah, bicara soal postur pertahanan beserta paramiliternya atau Sejarah Perang Vietnam.” Poin lebih saya berikan pada mata kuliah Teori Hubungan Internasional. Perkenalan kedua di Hubungan Internasional adalah belajar terapan dari teori itu, seperti : Hubungan Internasional di Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Asia Selatan, Politik Global Amerika, Hubungan Internasional di Timor Tengah dan Afrika, Hubungan Internasional di Eropa, Jepang dan Negara Industri Baru, atau Hubungan Internasional di Amerika. Kecanduan saya sudah berada pada level 4, alias sudah hampir ekstase. Menurut saya, ternyata lebih menarik mempelajari HI dengan melihat pada dinamika masalah di tingkat kawasan. Dinamikanya pun beraneka ragam, mulai dar dinamika politik, ekonomi, dan sosial (misalnya masalah migrasi, pengungsi, atau ancaman-ancaman baru). Analisis saya, ini karena saya lebih cenderung berpikir empirik ketimbang berpikir di alam ide. Empirisme dalam belajar HI ini juga membuat saya sering bertanya-tanya pada hal-hal yang ada di masyarakat, seperti misalnya pertanyaan Mengapa masyarakat negara A miskin? Mengapa ide besar mengenai nasionalisme tidak bisa menyentuh masyarakat perbatasan? Mengapa permasalahan perebutan sumberdaya alam selalu terjadi di kawasan A meskipun militer sudah turun tangan di sana untuk mengatasinya? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan pola pikir yang empiris juga, saya kemudian menyelesaikan skripsi dengan dasar keingintahuan mengenai, “Mengapa bantuan internasional ke negara X tidak menyelesaikan masalah kemiskinan di negara itu ? Apa yang salah ?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah lulus, ketika berselancar ilmu pengetahuan pada institusi yang mengagung-agungkan pendekatan materialisme Marx pun saya tetap saja gundah pada pertanyaan, “Apakah ketergantungan dan ketimpangan hubungan menjadi sebab utama tertinggalnya di sebuah masyarakat atau negara?” Kalau melihat beberapa data yang tersuguh, saya sepertinya yakin. Ternyata keyakinan itu runtuh karena setiap berkunjung ke lapangan, saya selalu menjumpai jawaban, “Kalau buat kami (petani), sederhana saja, bagaimana produk saya bisa laku dan mempunyai nilai jual yang tinggi.” Bukan masalah agribisnis yang ingin dikritisi, tapi ada sistem perilaku tertentu yang telah hidup di masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pengembaraan itu sampai pada kubu ilmu baru yakni Pembangunan Sosial (yang dikelola oleh Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial). Dalam ilmu ini, saya belajar tiga level intervensi sosial yang bisa merubah “nasib” sekelompok masyarakat : level mikro yakni di tingkat individu dan keluarga, level mezzo di tingkat komunitas, dan level makro di tingkat komunitas serta kebijakan. Ketika duduk di kelas Dinamika Perilaku Manusia yang membahas secara mikro, saya seperti mendapat suntikan amunisi baru. Psikoanalisis, Behavioralisme, dan Humanistik menjadi alat bedah baru dalam memahami mengapa masyarakat begini dan mengapa pembangunan tidak berjalan. Baru beberapa hari membaca sebuah buku berjudul Essentials of Psychology karangan Benjamin Lahey, sepertinya saya tingkat kecanduan saya sudah mencapai level 4,8 !!! Freud, Carl Jung, Karen Horney, Erikson, Maslow, Skinner, Kohlberg, Watson, you’re all rocks !!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kata orang perasaan suka itu bisa datang tiba-tiba dan bisa pula tiba-tiba menghilang. Mungkin saat ini ekstase saya yang mendalam karena empirisme ini tiba-tiba bisa mendarat dengan tepat. Ruang bifurkasi antara rasionalisme – empirisme menemukan keseimbangan atau &lt;i style=""&gt;equilibrium &lt;/i&gt;yang baru. Seperti secangkir kopi yang menemukan takaran yang pas antara kopi dan gulanya. Kalau di awal saya menyebutkan kalau saya empiris, bukan berarti saya tidak meletakkan ide (rasio) sama sekali. Justru karena saya empiris, maka untuk menjawab kegelisahan empiris, saya berpikir mengenai ide-ide secara logis kan ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Narsisme yang muncul berikutnya adalah perasaan lega yang mengatakan, “Ahh, there I am !!” Oleh karena itu, mungkin ini yang menjadikan jawaban atas olok-olok ketika zaman mahasiswa dulu. Ketika ditanya, “Jadi Juno ini hijau, merah, atau biru sih? Kok nggak jelas gitu. ” Maka ada yang menjawabnya dengan, “Nggak tau. Tengah kali, ya.” Mungkin kecuekan saya terhadap ideologi adalah karena saya melihat ideologi tidak relevan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada. Ideologi adalah sesuatu yang secara nilai bisa benar, tapi belum tentu benar secara kognitif. Terkait dengan ideologisasi, menurut saya, dari sudut pandang pemikiran Piaget bisa dinyatakan, “Jangan-jangan mekanisme pergaulan dalam lingkaran ideologi itu yang menjadi pembelajaran sosial (&lt;i style=""&gt;social learning&lt;/i&gt;) untuk bersikap dan bertindak seperti ideolog?” Yang paling tepat, menurut saya, adalah sikap empiris yang diturunkan menjadi sikap yang reflektif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-8972987545314200941?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/8972987545314200941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=8972987545314200941' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/8972987545314200941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/8972987545314200941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/11/ahhh-there-i-am.html' title='Ahhh There I Am !'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SSu-hopfjbI/AAAAAAAAAIw/b4TM4tEmiJg/s72-c/gambar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-7183755795484053482</id><published>2008-11-09T17:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T17:38:59.109-08:00</updated><title type='text'>Otonomi Daerah dan Perut yang Kosong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SReQrKF0L0I/AAAAAAAAAIo/dy4pG5VAlRI/s1600-h/desentralisasi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SReQrKF0L0I/AAAAAAAAAIo/dy4pG5VAlRI/s320/desentralisasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266837360350605122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di suatu siang yang menjemukan, kami terlibat diskusi yang dengan seorang dosen yang pemikirannya tidak pernah menjemukan. Penyandang gelar profesor itu bertanya kepada seisi kelas kami, “Apakah menurut kalian pembangunan sosial sudah berjalan di Indonesia?” Ada seribu jawaban di sana. Ada seribu bantahan mengiringinya. Sampai pada satu titik, kami mendiskusikan mengenai otonomi daerah, yang saat ini menjadi arah pembangunan di negeri ini. Otonomi daerah bukan saja dibicarakan secara hangat oleh pembuat kebijakan, tapi juga dicatat oleh kamera wartawan yang meliput kerusuhan di daerah-daerah karena ketidakpuasan hasil Pilkada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari salah seorang staf pemerintahan, saya mendengar bahwa biaya untuk menyelenggarakan Pilkada Jawa Timur adalah sebesar 900 milyar rupiah. Jumlah yang cukup fantastis. Biaya yang dikeluarkan ini hanya salah satu gambaran biaya yang ada di satu provinsi. Biaya yang ada di depan mata lainnya adalah biaya pemekaran provinsi atau kabupaten/kotamadya. Pemekaran sebuah provinsi atau kotamadya memakan biaya yang tidak sedikit. Kalau dihitung secara sederhana saja : Berapa uang yang harus keluar untuk membentuk kantor pemerintahan daerah beserta dinas-dinasnya sekaligus untuk menggaji semua stafnya. Tidak sedikit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi, kebanyakan dari berita otonomi daerah yang nampak di televisi tidak menggembirakan. Kerusuhan, ketidakpuasan, bahkan kemiskinan masih menjerat warga yang daerahnya sudah diotonomikan. Kalau dilihat lebih jauh pun, pendapatan asli daerah (PAD) tidak bisa sepenuhnya menopang pengeluaran di daerah tersebut. Di daerah-daerah yang PAD-nya masih minim, pemerintah pusat mensuplai banyak. Artinya, otonomi hanya terletak pada kekuasaan eksekutif saja. Beberapa daerah masih tergantung dari pusat untuk pendanaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang meruak dari otonomi daerah pasca keluarnya UU No.32 tahun 2004 adalah motivasi untuk menjadi pemegang kekuasaan di daerah. Fenomena munculnya raja-raja kecil di daerah sudah banyak dianalisis oleh sosiolog atau ilmuwan politik. Kue kekuasaan yang sudah terbagi ini kemudian menjadi ‘bancakan’ bagi mereka yang duduk di pemerintahan daerah. Beberapa daerah kemudian gagap dalam menyusun alokasi belanja pemerintah daerah. Pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya menjadi alasan bagi terbentuknya pemerintah daerah yang lebih otonom kadangala tidak tercakup, karena orientasi pemerintahan daerah adalah pembangunan fisik : membangun jalan, membangun stadion olahraga, atau membangun gapura selamat datang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kembali dalam pertanyaan di atas, apakah pembangunan sosial sudah berjalan di negeri ini, ternyata pembangunan yang mengarah pada otonomi daerah tidak lantas melahirkan pembangunan sosial yang bericirikan “bottom-up”. Pendek kata, pembangunan sosial hanya dimaknai pembangunan yang berasal dari atas, tanpa ada timbal balik dari masyarakat, meskipun sudah secara politik sudah menjalankan otonomi daerah. Karena dalam pendekatan pembangunan dari bawah yang dilakukan dalam otonomi daerah, kebanyakan tidak optimal. Wacana “pembangunan dari bawah” – yang masih asing di masyarakat-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak seharusnya disikapi dengan institusionalisme pembangunan di tingkat lokal. Ibarat cermin, wacana seharusnya dipantulkan kembali dengan wacana. Membangkitkan alam wacana adalah dengan menggerakkan nilai-nilai. Itu artinya sebelum mendemokratisasikan pemerintahan, nilai-nilai demokrasi yang seharusnya ditanamkan di masyarakat. Sebelum memberdayakan institusi pemerintahan lokal, seharusnya nilai-nilai “berdaya” yang harus ditanamkan di masyarakat. Thee Kian Wie, salah satu ekonom Indonesia pernah berkomentar di bukunya, “ Beginilah akibatnya kalau demokrasi di Indonesia dilakukan dengan kondisi perut yang lapar.” Dalam konteks ini, bisa dimaknai bahwa karena masyarakat tidak “berdaya”, dan yang tersedia untuk disantap adalah kue kekuasaan yang makin banyak (karena demokrasi), maka yang terjadi adalah berebut kue itu agar mereka kenyang dan berdaya. [J] &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-7183755795484053482?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/7183755795484053482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=7183755795484053482' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7183755795484053482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7183755795484053482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/11/otonomi-daerah-dan-perut-yang-kosong.html' title='Otonomi Daerah dan Perut yang Kosong'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SReQrKF0L0I/AAAAAAAAAIo/dy4pG5VAlRI/s72-c/desentralisasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-4092250983628266767</id><published>2008-11-09T17:17:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T17:36:10.730-08:00</updated><title type='text'>Badut (Sebuah Fiksi)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Alika malu punya bapak seorang badut sirkus. Tiap kali Alika masuk ke ruang kelas, semua mata seolah tertuju padanya. Hanya ingin mengatakan satu hal : Alika anak pemain badut ! Begitu yang ia rasakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Kegelisahan Alika makin menjadi-jadi tatkala Deon dan gank-nya mengolok-olok Alika ketika istirahat tiba. ”Alika, adik gue mau ulang tahun nih. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Bokap lo bisa datang nggak?” Atau, ”Pantesan lo&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;suka makan donat, Lik. Orang bokap lo aja mukanya kayak donat!” Biasanya, olokan itu diiringi&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;gelak tawa teman-teman Deon lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Deon memang keterlaluan. Tapi beberapa guru dan siswa-siswi lain menganggap hal itu sebagai sebuah hal yang lumrah. Keluarganya adalah keluarga terpandang. Bapaknya saja pengusaha yang punya jabatan di pemerintahan. Semua guru tahu berapa sumbangan yang diberikan oleh orang tua Deon ketika ia memasuki sekolah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Alika bersekolah di sebuah es-em-pe negeri yang terbilang favorit di kotanya. Beruntung Alika bisa masuk ke sekolah itu. Berkat keenceran otaknya, Alika masuk ke sekolah itu tanpa hambatan. Beberapa teman Alika tergolong biasa-biasa saja, bahkan ada yang cenderung berkekurangan, namun ada juga yang bergaya elit. Tidak semua mereka yang anak jenderal, walikota, pengusaha, dan lainlainnya bisa lolos seleksi Nilai Ebtanas Murni (NEM). &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Ada juga yang beli bangku.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Teman Alika berasal dari latar belakang yang beragam. Danti, teman sebangkunya, anak seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Aldo, si ketua kelas, adalah anak kolong. Tampilannya pun disesuaikan dengan anak kolong : rambut cepak dengan tubuh yang tegap. Reisya, teman yang sering pulang bersama Alika, adalah anak seorang manajer hotel kenamaan. Sepulang sekolah, biasanya Reisya dan Alika naik mikrolet bersama. Bagi mereka perbedaan status sosial tidak menjadi masalah. Sedang Ahmad, yang sering meminjam catatan-catatan Alika, adalah orang yang paling sebal dengan perlakuan Deon terhadap Alika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Kenapa sih, bapakku seorang pemain badut ? Apa Bapak nggak bisa ganti pekerjaan saja ? Begitu yang selalu dipikirkan Alika setiap hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;”Kenapa Bapak tidak berhenti saja menjadi seorang badut sirkus ? ” tanya Alika suatu hari kepada bapaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;”Alika, nggak boleh begitu. Bapak yang membayar uang sekolah kamu.Bapak juga yang memberikan makanan bergizi yang kita makan setiap hari, ” pungkas Ibu Alika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;”Tapi kan, Alika malu, diledekin terus sama teman-teman di sekolah, ” kilah Alika cepat.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Braak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;. Pintu kamar Bapak dan Ibu Alika ditutup dengan kasar. Kedua orang tua Alika hanya bisa menghela nafas pelan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Lama-lama, teman-teman Alika sudah lupa dengan ejekan itu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Tapi Alika masih gelisah tiap hari. Ketika ia berjalan di lorong kelas, Alika merasa ada yang menertawakan Alika di belakangnya. Ketika ia maju di depan kelas, Alika merasa seolah-olah semua mata memandang kepadanya seraya membatin, ”Badut.” Hingga Alika merasa tempat paling nyaman untuknya adalah toilet belakang laboratorium IPA. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Di situ ia bisa menertawakan dirinya sendiri. Sembunyi dari kenyataan yang begitu&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;pahit buatnya. Sekaligus sambil membaca buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Begitu bel istirahat berbunyi dua kali – tanda istirahat telah selesai- ia bergegas bangkit dari panggung yang ia ciptakan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Panggung yang ada di luar toilet terlalu masam untuknya. Meskipun sebenarnya badut sirkus dari negeri nyata itu tak pernah menghampiri Alika di panggung di luar toilet, namun Alika merasa ia telah bertransformasi menjadi seorang badut. Sangat lucu untuk ditertawakan penonton panggung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Sementara itu, badut sirkus yang sebenarnya sedang mengurai keringatnya. Berjalan dari satu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;panggung ke panggung lainnya. Memainkan permainan yang tidak semua orang bisa : trampolin, permainan tongkat, atau sulap. Menuai tepuk tangan dari penonton. Diajak berfoto bersama dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;anak-anak seusia es-de dan te-ka.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sepertinya lain. Badut sirkus sangat menikmati perannya di sebuah panggung. Sedang badut kecil itu sangat tersiksa dengan bayangan badutnya. Badut sirkus juga perlahan mulai menambah tebal kantongnya. Beberapa kali pertunjukan ia suguhkan kepada warga negara asing di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu yang mengadakan pesta ulang tahun untuk anak-anak mereka. Sungguh itu sangat berarti, tak hanya untuk sekadar menyeka keringatnya, tapi juga untuk menghidupi si badut kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;”Kamu tahu kenapa topeng badut itu selalu tertawa Lik? ” tanya Bapak Alika suatu hari, ketika Alika sudah beranjak dewasa. Alika hanya menggeleng lemah, seraya meneruskan jahitan roknya yang berwarna abu-abu yang akan dikenakannya besok dalam upacara bendera di sekolah. Alika kini sudah memasuki bangku SMU. ”Karena badut selalu berjiwa besar. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Ia tidak akan sakit hati dan putus asa jika mendapat banyak cemooh.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Lalu Bapak Alika kembali mengelap kostum badut-badutnya. Topeng-topeng itu seolah kembali menertawakan Alika. Alika luruh dalam sedih dan kecewa. Topeng yang dihiasi bagian tubuh yang hiperbolis itu menatap Alika. Seolah ingin mengatakan, ”Jangan bersedih. Semua yang ada dalam kostum yang hiperbolis ini hanyalah tanda semata. Topeng ini bukan realitas dari hidup Alika.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Realitasnya, Alika bisa bersekolah dengan lancar dan memperoleh nilai-nilai gemilang. Realitasnya, Ibu Alika sekarang bisa membuka usaha kecil-kecilan dari topeng ini. Topeng ini hanya tanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Washington, di sebuah musim semi yang indah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Toilet dingin di sudut kantor itu mengingatkan gadis manis itu pada masa remajanya.Gadis itu masih senang berlama-lama dalam toilet. Entah apa yang ia pikirkan, tapi gadis itu selalu merasa dalam keadaan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;chaos &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;order &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;ketika merenung dalam toilet. Titik itulah yang membuatnya nyaman. ”Seperti mendamaikan oposisi biner,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;”Alika, &lt;i&gt;is that you?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Yeah...Cussie?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;”Come on, Alika. What have you done that long there? You need yoga class, ha ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“I’ve just...remembered my childhood, Cussie. Are there any business?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Come on, dear. You have to follow yoga class. Please come with me every Wednesday, a fter office hours. O , ya, Matthew is looking for you. He needs your &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;assistance.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Allright. I’m coming soon.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gadis itu segera membuka selot toilet. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Ia merapikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;blazer-&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;nya yang sedikit kusut di bagian belakang. Lantas, bergegas menuju ke meja kerjanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Alika Suhandono.Anak badut sirkus itu baru saja merampungkan studi master Public Policy di George &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Washington&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; University. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Ia mendapatkan beasiswa Fullbright dan beberapa sponsor lain. Saat ini ia bekerja di sebuah kantor Perserikatan Bangsa-bangsa di Washington untuk program hak asasi manusia. Ia hanya berharap visanya bisa terus diperpanjang. Agar ia bisa terus berada dalam toilet barunya : Amerika Serikat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Di negeri ini, Alika tak akan lagi teringat pada badut-badut lucu yang menertawakannya. Juga tak ada lagi yang mengolok dia sebagai anak tukang sirkus. Yang orang-orang tahu adalah Alika yang cerdas. Alika yang lulus dari Washington University dengan predikat cumlaude. Alika yang ditawari beberapa pekerjaan di tempat-tempat prestisius.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Setelah merampungkan pekerjaannya, Alika memberesi semua barang-barangnya.Ia tidak langsung pulang ke flat-nya. Sore ini ada pesta ramah tamah duta besar baru di KBRI. Semua mahasiswa Indonesia yang ada di Washington diundang, termasuk Alika yang pernah menjadi sekretaris untuk Ikatan Mahasiswa Indonesia di sana. SMS dari Aryo, teman dekatnya, membuat ia semakin tergesa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;”Buruan lik. dah mo mulai ni. ada mhs baru juga.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Alika menyetop bis yang menuju ke arah kedutaan Indonesia. Di dalam bis, ia menyaksikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;pertunjukan badut-badut di taman kota. Beberapa anak kecil nampak tertawa kegirangan. Badut dengan lincah memainkan beberapa atraksi. Atraksi sepeda yang dipilih oleh badut-badut itu untuk menghibur anak-anak. Alika sendiri sekarang sudah sedikit merasa nyaman dengan badut –badut itu. Ia sudah menemukan keseimbangan antara &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;chaos &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;order-&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pesta dimulai tepat pukul enam dengan diawali basa-basi pidato duta besar baru.Alika tidak terlalu tertarik mendengarkan pidato itu. Ia banyak berbincang-bincang dengan Aryo dan Nimas, temanteman baiknya. Tiba-tiba ada yang mengagetkan Alika. Punggungnya ditepuk dari belakang oleh seseorang ketika ia masih ngobrol dengan Aryo. Alika berbalik untuk melihat siapa gerangan yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;telah menepuknya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;”Deon !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Laki-laki itu tampak malu-malu sambil menjulurkan tangannya, mengajak Alika bersalaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;”Kamu disini juga sekarang?” Sosok Alika terlihat lebih percaya diri. Tidak terlihat raut kesal karena lelaki ini yang telah memperoloknya sewaktu dia duduk di bangku es-em-pe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;”Iya, gue mahasiswa baru. Tapi gue sih nggak dapet beasiswa kayak lo. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gue ngambil studi tata &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Arizona&lt;/st1:placename&gt;  &lt;st1:placetype st="on"&gt;State&lt;/st1:placetype&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;. Ini gue lagi mampir aja ke &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Washington&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;. Kebetulan dubesnya temen bokap gue,” jawab Deon dengan ramah. Jauh lebih ramah ketika mereka masih duduk di bangku putih biru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;”It’s like junior high reunion! &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Ha-ha-ha,” Alika tertawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;”Lik, jaman kita es-em-pe dulu, gue nggak sopan banget ya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;”Udahlah.Forget it”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;”Iya, sih, dengan kondisi lo saat ini, lo bisa bilang sudahlah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Lika tertawa. Begitu pun dengan Deon. Suasana sudah cair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;”Oya, apa kabar bokap lo? Katanya ....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Deon segera menimpali, ”Ya, pasti lo semua tahu lah cerita tentang bokap gue. ”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Bapak Deon menduduki jabatan sebagai ketua salah satu partai di Indonesia. Ia diangkat menjadi seorang menteri di pemerintahan saat ini. Namun, belakangan Bapak Deon dicokok polisi lantaran korupsi yang dilakukannya senilai miliaran rupiah. Berita mengenai korupsi yang dilakukan Bapak Deon ini cukup membuat heboh media-media nasional, hingga tercium sampai ke Washington.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;”Seharusnya lo bangga sama bokap lo,” Deon memandangi Alika lekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;”Tapi lo yang menghancurkan kebanggaan gue terhadap Bapak?” Alika setengah protes.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;”Meskipun bokap lo seorang badut sirkus, ia bukan badut politik yang terlihat manis di luar namun sesungguhnya tikus korup di dalam. Badut politik hanyalah sampah masyarakat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Alika hanya tersenyum dalam hati.Senyum kemenangan yang selama ini tertahan karena ia selalu minder dengan apa yang ia punyai.Mungkin setelah ini Alika akan merenung dalam toilet flat-nya. Ia ingin berada dalam imajinasi bersama topeng-topeng badut Bapaknya. Sambil bergumam kecil, ” Ketika topeng dibuka, badut bukanlah seorang badut gembul lagi. Ia adalah segurat wajah keriput dengan keringat bercucuran di sekujur kepala untuk kehidupan yang lebih baik.” [J]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-4092250983628266767?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/4092250983628266767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=4092250983628266767' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/4092250983628266767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/4092250983628266767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/11/badut-sebuah-fiksi.html' title='Badut (Sebuah Fiksi)'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-1487234449003894530</id><published>2008-10-30T07:27:00.000-07:00</published><updated>2008-10-30T07:28:54.959-07:00</updated><title type='text'>Kehidupan adalah Ibu</title><content type='html'>Kebetulan kamarku berada di lantai dua. Dari beranda kamar, aku bisa mengamati deretan pepohonan yang tingginya hampir sama dengan lantai di mana saya berpijak. Tak begitu rimbun memang, namun cukup untuk melakukan observasi kecil-kecilan tentang apa yang ada di terjadi di atas pohon-pohon tersebut. Suatu pagi, aku menjumpai suara-suara yang sayup, tapi cukup khas. Ternyata suara itu adalah suara burung yang sedang sibuk membawa alang-alang ke atas pohon sebuah pohon yang agak rindang. Aku menduga itu adalah pohon mangga, karena memang tidak terlalu jelas dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas si burung itu semula biasa, tapi esok harinya aku melihat alang-alang yang dibawa burung itu makin meninggi dan dari jauh terlihat seperti sarang. Ya, sarang burung yang biasa digunakan untuk mengerami anaknya yang lahir ke muka bumi. Kemudian, ketika aku browsing di internet, ternyata cara seorang burung betina membuat sarang sangat luar biasa (untuk ukuran seekor burung). Burung merajut jerami atau alang-alang itu yang dibuat menjadi sebuah bentuk mirip mangkok yang kemudian akan menjadi sarang bagi anaknya. Burung memilih bahan-bahan yang berbeda untuk masing-masing lapisan sarang. Untuk membuat dasar sarang, di lapisan terluar dibentuk dengan jerami atau alang-alang yang bertekstur keras. Makin ke dalam, dasar sarang dirajut dengan bahan yang bertekstur lembut. Dan di dasar sarang lapisan terdalam, di mana burung akan meletakkan telur dan anaknya di lapisan itu, burung merajut dengan alang-alang yang teksturnya paling halus. Kemudian, ketika anak burung itu beranjak dewasa, ibu akan mengajarkan bagaimana cara mencari makan, bagaimana mengerat cara biji-biji makanan, atau bagaimana harus menyesuaikan diri dengan cuaca dengan cara bermigrasi ke daerah yang lebih hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya insting hewani ini sama sekali tidak mengejutkan, karena memang hewan mempunyai naluri untuk melindungi anaknya – apa yang menjadi miliknya yang ia anggap berharga. Seperti halnya kanguru yang meletakkan anaknya di kantung atau kucing yang selalu membawa anaknya kemanapun dengan cara menggigit anaknya, mungkin begitulah naluri hewan ini. Tapi, inspirasi yang aku tangkap dari kisah sarang burung ini cukup berharga : kehidupan itu adalah ibu. Seorang anak burung yang akan terlahir ke dunia telah dipersiapkan dengan baik oleh seorang ibu. Kekuatan ibu adalah kekuatan untuk merawat dan memelihara kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa adalah salah satu hal yang diajarkan orang tua kepada anaknya. Sebenarnya yang diajarkan oleh orang tua, ayah dan ibu, tidak hanya bahasa yang mencakup huruf vokal dan konsonan, yang kemudian dirangkai menjadi kata dan akhirnya menjadi kalimat. Namun, bahasa yang diajarkan lebih luas dari itu. Bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, dan seterusnya, hanyalah simbol dari sebuah konsensus tertentu sebuah komunitas, suku bangsa, atau negara mengenai sebuah makna. Sedang pengajaran bahasa yang lebih substansif adalah pengajaran bahasa optimisme, harapan, atau kasih sayang. Kualifikasi ibu adalah pengajar untuk bahasa-bahasa tersebut. Dikaitkan dengan teori life-span development dari Erikson, di masa awal kehidupan seorang individu membutuhkan arahan untuk mempelajari kepercayaan dasar dalam hidupnya. Jika individu tidak melalui tahap pertama perkembangan masa hidup tersebut dengan sukses, maka ia tumbuh dengan rasa ketidakpercayaan akan apapun hal di dunia ini. Tidak berlebihan rasanya jika aku menyebutkan di awal tulisan ini bahwa kehidupan adalah ibu. [J]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-1487234449003894530?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/1487234449003894530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=1487234449003894530' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1487234449003894530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1487234449003894530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/10/kehidupan-adalah-ibu.html' title='Kehidupan adalah Ibu'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-2474045435582974440</id><published>2008-10-23T19:24:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T19:40:02.379-07:00</updated><title type='text'>Seperti Efemeral</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SQE05v3aG1I/AAAAAAAAAIg/pUpcK9Tetf0/s1600-h/ephemera.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SQE05v3aG1I/AAAAAAAAAIg/pUpcK9Tetf0/s320/ephemera.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260544006451501906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dulu film Gie yang dibintangi Nicholas Saputra pernah mempopulerkan kutipan, “Tidak ada yang abadi di dunia ini. Yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri.” Sampai sekarang pun kutipan itu masih banyak dipakai untuk menorehkan semangat perubahan, terutama bagi generasi muda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dulu aku belum bisa mengaitkan antara kutipan itu dengan sebuah kenyataan hidup yang paling nyata. Dalam ilmu botani, dikenal istilah efemeral&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yakni tumbuhan yang menyelesaikan hidupnya dalam waktu yang amat pendek, biasanya tumbuhan ini hidup di gurun. Begitu telah menghasilan dan menyebarkan bebijian, tumbuhan efemeral pun layu dan mati. Dengan makna yang hampir sama, dalam bahasa Inggris, istilah &lt;i&gt;ephemera &lt;/i&gt;dikenal dalam literatur sastra Inggris yang berarti sesuatu yang bersifat sementara dan sesuatu itu akan mati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beberapa waktu aku membaca buku &lt;i&gt;Mapping Human History &lt;/i&gt;karya Steve Olson yang pada tahun 2002 memenangi sebagai buku sains terbaik versi &lt;i&gt;Discover &lt;/i&gt;dan finalis untuk &lt;i&gt;National Book Award &lt;/i&gt;di Amerika Serikat. Meskipun pernyataan dalam buku tersebut masih kontroversial, tapi ada satu fakta yang juga disepakati oleh peneliti lainnya : kehidupan bumi telah dimulai sejak 200.000 tahun lalu ketika ada sekelompok manusia yang hidup di Afrika Timur. Bandingkan umur peradaban manusia dengan umur kita. Bandingkan pula umur bumi sejak jaman pleistosin sampai sekarang. Sungguh, manusia modern yang hidup di negara maju sekalipun hanya mempunyai angka harapan hidup sampai usia 77 tahun. Di Indonesia, angka harapan hidup malah hanya sekitar 65 tahun. Angka itu sangat kecil dibandingkan dengan umur bumi ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekarang aku jadi mengerti maksud lain di balik kutipan di film produksi Miles yang kusebut di atas. Seperti siklus efemeral, manusia akan mati, dan muncul manusia yang lain. Jadi, kalau memang hidup ini hanya sementara mengapa ada orang yang menumpuk sedemikian rupa ? Toh suatu saat apa yang akan kita punya akan musnah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;I do remember laughter that can make my stomach hard&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;With happiness that make it all pretty, even a dirt &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;I can remember how long it least &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;I'm pretty sure it went away so fast &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Far too many emotion that taint my soul, before my faith&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;And often i drown in the moment &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;When in the end they all ephemera&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;/i&gt;sebuah lirik dari salah satu band &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; mengenai Ephemera-&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-2474045435582974440?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/2474045435582974440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=2474045435582974440' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2474045435582974440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2474045435582974440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/10/seperti-efemeral.html' title='Seperti Efemeral'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SQE05v3aG1I/AAAAAAAAAIg/pUpcK9Tetf0/s72-c/ephemera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-1961011517591649513</id><published>2008-10-22T19:15:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T20:24:39.194-07:00</updated><title type='text'>“Cultural Solidarity in Southeast Asia Might Be Realized by Presenting Various Similarities of Ideas or Behaviors”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SP_e5xM9rEI/AAAAAAAAAIY/ZmwZpzgCGfE/s1600-h/SEA.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 279px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SP_e5xM9rEI/AAAAAAAAAIY/ZmwZpzgCGfE/s320/SEA.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260167973833649218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;On an occasion, I interviewed one of Southeast Asian analysts from &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:placetype&gt;  of &lt;st1:placename st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt;, Semiarto Aji Purwanto. Mas Aji (the nickname I usually call him) who has big attention on agricultural and forestry issues, believes there are many opportunities available for the Southeast Asian people to establish a strong integration at the grass-root level. However, the grass-root integration, according to him, would not be achieved by relying merely on traditional identity; it has to be done through a more dynamic process called ‘consciousness’ or cultural borrowing. Following are the dialogues. The complete version can be read on the Civic Southeast Asia Bulletin September 2008 published by Pacivis University of Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 120%;color:black;" &gt;What and how is the distribution of ethnicity in &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast Asia&lt;/st1:place&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;Firstly, the concept of “ethnicity” should be defined clearly. In anthropology, ethnicity is a central concept that has been studied since long time ago and the definition is continuosly changing until now. That changing of definition includes scope, description, and the recruitment of certain ethnic groups. In the perspective of evolution, human groups distribution is indicated by the distribution of human races to all corners of the world. We should not mistakenly consider ethnicity as same with race. There are possibilities of confused definitions between ethnicity, nation or nationality, and origin. Take a look at this one example. All this time we have been presented with ancient stories that our ancestors were originated from &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Yunan&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Are we putting those Yunan ancestors in the category of ethnicity? Nation? Race? Or origin? By asking this question, I want to bring us to see the importance of the definition of ethnicity before we go any further.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;Besides the concept of ethnicity, I also want to narrowing the concept of “ethnic distribution”. There are two comparable concepts. First, migration, which is usually understood as movement. Next, massive migration in a long period of time known as diaspora.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;Then, what are the ethnic groups that have spread widely in &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast Asia&lt;/st1:place&gt;? Who are they? I can classify them into two groups based on their original regions within the context of &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast Asia&lt;/st1:place&gt;. First, those who came from mainland &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt; and, second, those from the Asian archipelagos. The Malays are obviously within the first group. However, we must be careful in categorizing them as a group that has spread into various regions. Many view them as the real indigenous of Southeast Asia, while other believe them originating in northern part of &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast  Asia&lt;/st1:place&gt;. There is no agreement on where the Malays had originated from. This group dominates the Malay Straits: in southern edge of Thailand (Patani), down to all Malaysian peninsula, Sumatra, Kalimantan, Java, Bali, West Nusa Tenggara, Sulawesi, parts of Maluku, up to South Philippines, Mindanao, Sulu, Palawan, the inslands in the middle, until Luzon Island in south.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;If we consider the Malays in term of language, which is one indicator of an ethnic group, then the spread of the Malay people also includes islands in central and eastern &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;: East Nusa Tenggara, Maluku and south Papua. If we connect the spread of the Malay ethnicity with Islam then the scope should be reduced by excluding the central and east &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; and the central and north &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Philippines&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;The second in the group is the Chinese. This term—the Chinese—refers to the ancient monarchy system that has been known in &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;China&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; and being preserved until near the Western colonialism between 14th and 15th century. The Chinese spread into &lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Myanmar&lt;/st1:country-region&gt;, Indochina (&lt;st1:country-region st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Cambodia&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Laos&lt;/st1:country-region&gt;), &lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, and the &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Philippines&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. In the last four countries, the Chinese are not the majority. They came of course not at once, but in several phases and certain directions.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;The third is the Arabs, particularly those who came from Yaman (Hadramaut). It could be classified as an ethnic group. Historically, they were known as great and adventurous merchants. Therefore, besides trading, they also stayed in one place for quite a long time, resided and bred their children to become the inhabitants of that new place. They applied this pattern in the &lt;st1:placename st="on"&gt;Malay&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Strait&lt;/st1:placetype&gt;, Sumatra, Java, Sulawesi, and &lt;st1:place st="on"&gt;North Maluku&lt;/st1:place&gt;. They usually lived in small-solid communities and were able to trace their ancestors up to four or five generations above, even more. Besides trading, their migration motive was also to spread their religion.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;The fourth is the Indians, who originated in areas stretching from the Muslim dominated area of Gujarat, to Punjab and down to southern &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Similar with the people of Hadramaut, the Indians migration to &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast Asia&lt;/st1:place&gt; was also motivated by trading interest and religion dissemination. The first Indians migration to &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast  Asia&lt;/st1:place&gt; can be traced to the beginning of the historic era in the region. The Indians were the first who introduced writing tradition through the traditions of Hinduism and Buddhism that they brought. Several centuries later they came again bringing another religion, Islam. Their descendants also lived in small-solid communities in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, even though in some cities in northern Sumatra they were quite dominant, as well as in some cities in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; and &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;The second category is ethnic groups that originated in archipelagos. Two ethnic groups that possess a strong adventuring nature are the Minangese and the Bugis people. The people of Minang have traveled out into the territories of Negeri Sembilan and Johor. They had even been able to be on the top stratum of the society there, became kings in many old Malayan monarchs. The Bugis people also traveled as far as the &lt;st1:placename st="on"&gt;Malaka&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Strait&lt;/st1:placetype&gt; areas: &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;, and &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Similar with the Minangese voyagers, some Bugis descendants became parts of the elite society overseas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;A theory in migration studies usually associates population density as one of the causes of migration. In the colonial era, many Javanese people—whose amount were very huge while at the same time inhabiting a relatively small island—were relocated outside the island by the colonial government. Some of them went voluntarily or worked in plantations. In &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; and &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, several Javanese communities can still be identified. Javanese sub-ethnics or varians like Madura and Bawean can also be found in those countries.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;In &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;, the Iban ethnic group has been categorized as the Indonesia-Malaysia border-crosser. Therefore, theoritically they can be considered as have already spread into another country’s region. Most of the Ibanese in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; admit that their ancestors are from &lt;st1:place st="on"&gt;West Kalimantan&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;How could they become so spread out? For what reason? Besides due to high population density, migration also relates with economic interests: looking for employment and trading. Moreover, regarding the ethnic groups from mainland &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;, their motivation also included religious proselytizing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 120%;color:black;" &gt;Are the Southeast Asian ethnic groups have one similar/identical character/identity?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;In culture theory, anthropologists believe that all culture are naturally dynamic: always developing and changing. The development is often through imitation or cultural borrowing. Therefore, in the culture of the Southeast Asian ethnic groups, the influence from various ethnic groups in other countries has been very often occurred. The Malay culture for example, generally disseminated the keris weapon, the silat martial art, the sepak takraw sport, cockfighting, spin top games, sarong clothes, and, of course, language. Language is currently one of the strongest indicators of the Malay culture, although politically the Malay identity is often being connected with Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;For migrants originated in mainland &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;, the spirit of entrepreneurship had been their main character. The Indian and Arab communnities barely had other expertise besides trading. It has only been since this modern time the Indians have entered the intellectual sector at campuses in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt; and &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. The Ramayana and Mahabarata epics were two cultural existences in &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast Asia&lt;/st1:place&gt; that had initially been strongly influenced by the Indians. The spread are equal across the Indochina, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Myanmar&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;, and &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. At the same time with the dissemination of those epics, the gamelan instrument and the wayang puppet theater were also spread out. The Indian influence are no longer dominant in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt; and the &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Philippines&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;The Chinese group in the archipelagos were usually also involved in commerce, even though in the mainland Asia like Indochina, Myanmar, and Thailand most of them were farmers. Rich culinaries were the Chinese’s biggest contribution to the Southeast Asian region. Various kinds of their culinary have mixed with local flavors, but still maintain their original Chinese character. The Chinese culinary art have spread equally across the Southeast Asian mainland and archipelagos.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 120%;color:black;" &gt;Historically, is there any solidarity among Southeast Asian ethnic groups?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  &gt;Solidarity among different ethnic groups in &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast Asia&lt;/st1:place&gt;? It is quite difficult to explain. If the solidarity is among the members of certain ethnic groups that subsequently spread into other regions/countries, then it is present. We can see it, even until now, within the Indian, Chinese, and Arab communities, also within the Javanese communities in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;, and &lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;, or even in a small group of the Bawean people in &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. The same thing also occurs among the Bugis-Makassar and Minangese voyagers in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; and &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. We see the Malay villages, the Bugis villages, the Arab villages,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;the &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;China&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; towns, etc. as the manifestations of solidarity among members of particular ethnic groups that taking place in form of regional unity.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;Solidarity between different ethnic groups seems to occur in form of specific alliances. Economy and politics often became the reasons, although sometimes the motivation was religion. Solidarity among the Malays in &lt;st1:place st="on"&gt;South Philippines&lt;/st1:place&gt;, for example, is very related to politics as well as religion. In &lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;, the Malay minority—whether from &lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, or &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;—are congregated in the Singaporean Ulema Council, which operates in religious sector but actually aims to strengthening their economic positions in the society.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;In political history, the alliances of ethnic groups have often counterproductive and presented racial discriminations. The history of the establishment of &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; and &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, has shown such a very strong segregation between the Malay and Chinese ethnics. As the result, we can see now that there is a time bomb in the relations of those ethnics in the two countries. Even the last case has shown that the integration of &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; has been shocked by the strengthening solidarity among the Indian descendants who urge for a more equal social-political rights.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 120%;color:black;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 120%;color:black;" &gt;Do you see any possibility to develop regional solidarity among Southeast Asian people in the future?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;Absolutely. However, the two main questions are what are the foundations for developing such solidarity and what are the goals? If the solidarity is going to be based on ethnic groups, then, I suppose, we should just forget about it. Ethnic group solidarity, in its most solid form, will be as dangerous as racialism. Ethnicity and racialism share one basic similarity in form of exclusivity, which is then extended into discrimination toward other groups on the basis of certain stereotypes. Therefore, this kind of solidarity should not be encouraged. In many cases, the colonialist power often treated solidarities within ethnic groups as their political commodities, just like in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; and &lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;, and it is to some extent happening now in &lt;st1:place st="on"&gt;South Philippines&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;Nevertheless, it is probably necessary to encourage the emergence of a cultural solidarity that recognizes various similarities of ideas or behaviors among the Southeast Asian people. This cultural solidarity can be used to promote social identity in search of nationality, nationalism, and nationhood. This kind of idea has been extensively recognized in the &lt;st1:country-region st="on"&gt;Philippines&lt;/st1:country-region&gt;, which is culturally westernized, and in &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, which is Chinese-western dominated. This phenomenon is of course only being felt by some groups which socio-cultural identities are presently undergoing a struggle phase. The almost same things happen in South Thailand in form of religious domination and in &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Myanmar&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; in form of authoritarian-socialist political system domination. These are common among the &lt;st1:place st="on"&gt;Indochina&lt;/st1:place&gt; countries. Hypothetically, who knows that someday &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; and &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, which have been undergoing massive Islamization during the last 20 years, will experience a return to their roots of ethnic or cultural identities.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 120%; vertical-align: middle;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 120%; vertical-align: middle;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-family:ACaslonPro-Regular;font-size:130%;color:black;"   &gt;What is the goal of establishing a regional solidarity? What is going to be achieved or opposed? Is it a political system? We have already agreed about democracy; in ASEAN, only &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Myanmar&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; that the democracy has yet to be recognized by the other countries. Or is it an economic-political system? While in fact, capitalism along with its industrialization has become the main goal of all countries now... Or is it a penetration of certain ideologies? Religious radicalism? Terrorism? It can also be related there...and probably we should revitalize ASEAN. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-family:ACaslonPro-Regular;font-size:11;color:black;"   lang="SV" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[J]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-1961011517591649513?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/1961011517591649513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=1961011517591649513' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1961011517591649513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1961011517591649513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/10/cultural-solidarity-in-southeast-asia.html' title='“Cultural Solidarity in Southeast Asia Might Be Realized by Presenting Various Similarities of Ideas or Behaviors”'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SP_e5xM9rEI/AAAAAAAAAIY/ZmwZpzgCGfE/s72-c/SEA.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-3166106175234292761</id><published>2008-06-14T23:34:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:48:09.696-08:00</updated><title type='text'>Jasa, TRIPs, dan Pertanian : Tiga Bahaya ASEAN EU FTA bagi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SFS5JKHXu6I/AAAAAAAAAEg/tGTpTPnoHOA/s1600-h/pasar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SFS5JKHXu6I/AAAAAAAAAEg/tGTpTPnoHOA/s320/pasar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211994235759737762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Akhir-akhir ini jumlah kesepakatan perdagangan bebas bilateral (BFTA - Bilateral Free Trade Agreements) dan juga kesepakatan di tingkat regional semakin meningkat, dan banyak dari bentuk erdagangan ini dapat ditemukan di kawasan Asia Tenggara, seperti perjanjian perjanjian perdagangan bebas yang dibuat antara Asosiasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN - Association of Southeast Asian Nations) dan tiga negara-negara Timur Laut Asia, seperti Republik Rakyat China (RRC), Jepang, dan Korea Selatan, atau kerjasama antara ASEAN dan Uni Eropa yang saat ini sedang dirundingkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Fenomena perdagangan seperti ini perlu ditelaah lebih lanjut, khususnya mengenai implikasi yang mungkin dihadapi oleh masing-masing negara yang terlibat dalam jenis perdagangan bebas seperti ini. Dalam k&lt;span style="" lang="SV"&gt;esepakatan perdagangan bebas yang sedang dirundingkan antara ASEAN dengan Uni Eropa (ASEAN EU FTA) akan membawa tantangan yang signifikan bagi negara-negara di Asia Tenggara, terutama karena karakter dua kawasan yang berbeda, di mana UE merupakan sekumpulan negara maju sedangkan di ASEAN masih banyak negara berkembang yang mempunyai permasalahan ekonomi domestik yang lebih kompleks dibandingkan engara yang sudah lebih mapan secara ekonomi. Beberapa penelitian (lihat Chandra 2007, Robles 2006) menunjukkan bahwa kesepakatan Perdagangan Bebas ASEAN-UE FTA ini justru diperkirakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan semakin memperdalam ketidakseimbangan hubungan ekonomi antara kedua kawasan tersebut. Meskipun terdapat banyak peringatan dan kritik yang ditujukan terhadap rencana pelaksanaan ASEAN EU FTA ini, tendensi yang ada justru memperlihatkan negara-negara ASEAN maupun UE tidak memiliki rencana sedikitpun untuk menunda, atau membatalkan, pelaksanaan negosiasi perdagangan ini dalam waktu dekat. Melihat keadaan tersebut, maka sudah seharusnya ASEAN EU FTA yang sedang diupayakan ini mempertimbangkan pula sasaran-sasaran pembangunan untuk pihak yang lebih lemah, yang dalam hal ini adalah ASEAN.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Saat ini, UE tidak hanya merupakan sebuah entitas ekonomi, namun juga sebuah Uni yang semakin meluas, yang memiliki kemmpuan untuk emnjalankan &lt;i&gt;power&lt;/i&gt; yang melampaui &lt;i&gt;superpower&lt;/i&gt; ekonomi global lainnya. Di sisi lain, ASEAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belum berhasil untuk berubah menjadi suatu entitas ekonomi supranasional yang mampu untuk berkompetisi dengan Uni Eropa dalam tingkat global. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Negosiasi perdagangan yang mungkin akan berdampak pada banyak sektor dalam masyarakat, harus tetap terbuka, transparan, dan&lt;i&gt; accountable&lt;/i&gt; untuk diawasi oleh masyarakat. Proses konsultasi panjang baik pada tingkat nasional maupun regional juga harus dilaksanakan, mengingat dinamika di bidang perdagangan juga akan berdampak secara luas (seperti masalah sosial, lingkungan, dan seterusnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kami melihat ada tiga bahaya besar yang akan diterima Indonesia / negara berkembang lainnya di ASEAN jika menyepakati kesepakatan perdagangan bebas dengan EU. Pertama, bahaya bagi sektor jasa di Indonesia (terutama perbankan), bahaya dengan penerapan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) yang makin ketat di Indonesia, dan bahaya ekspansi industri pertanian modern Eropa ke Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Secara umum, liberalisasi perdagangan dengan menghilangkan peran negara di dalam perekonomomian bersumber dari paradigma neoliberalisme. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;neoliberalisme merupakan bentuk modern liberalisme klasik dengan 3 (tiga) ide utamanya; yaitu pasar bebas, peran negara yang terbatas, dan individualisme (yakni kebebasan dan tanggung jawab individu). (&lt;st1:place st="on"&gt;Adams&lt;/st1:place&gt;, 2004). Implikasi dari perpaduan ide pasar bebas dengan marjinalisasi peran negara dan pengutamaan tanggung jawab individu, adalah dijauhkannya peran dan tanggung jawab negara dalam kegiatan ekonomi, termasuk pembiayaan terhadap sektor-sektor strategis yang menopang hajat hidup orang banyak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Jasa adalah salah satu sektor strategis yang banyak dijalankan oleh penduduk &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Untuk jasa pasokan bahan-bahan pokok, misalnya, penduduk &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; mengandalkan pasar-pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tapi, setelah tahun 1998, di Indonesia dilakukan kebijakan “open door” bagi ritel-ritel asing dan pemodal di Indonesia yang memungkinkan ritel raksasa menjangkau pasar yang sudah dijangkau oleh pasar-pasar tradisional. Persaingan bisnis ritel pada era FTA tidak melibatkan pebisnis ritel tradisional dan pebisnis ritel modern domestik seperti Hero, Ramayana, dan Matahari. Tetapi juga dari pebisnis ritel modern asing seperti Carrefour, raksasa ritel asal Perancis, anggota Uni Eropa. Data dari Invesment and Banking Research Agency (INBRA) menunjukkan masuknya ritel asing berupa hypermarket dapat menguasai pangsa pasar sampai 32,3 persen tahun 2001. Kenyataan lain yang menarik menunjukkan adanya ekspansi bisnis ritel domestik sampai ke wilayah kecamatan. Minimarket seperti Alfa dan Indomaret perlahan menguasai pasar yang tadinya milik ritel tradisional. Data dari INBRA menjelaskan bahwa 80% omset ritel tradisional terganggu karena hadirnya minimarket. Melihat dari Letter of Intent (LoI) &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dan IMF, masuknya investor asing di bisnis ritel &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; adalah syarat dari IMF untuk mengucurkan dana bagi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di sektor perbankan, liberalisasi perbankan makin tak terbendung &lt;/span&gt;Sejak Mc. Kinnon, konsultan Bank Dunia, mengemukakan gagasan kebijaksanaan liberalisasi keuangan untuk negara-negara berkembang pada tahun 1973, maka banyak negara berkembang (termasuk &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ) telah melaksanakan kebijaksanaan ini. Kebijaksanaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;liberalisasi keuangan telah direkomendasikan oleh Mc. Kinnon setelah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melihat efek negatif yang telah ditimbulkan oleh kebijaksanaan represi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keuangan (financial repression policy) yang sebelumnya telah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dijalankan oleh banyak negara-negara berkembang ini. Efek negatif ini adalah dalam bentuk distorsi yang ditimbulkan terhadap mekanisme pasar uang. Kebijaksanaan liberalisasi keuangan menghapuskan kontrol atas tingkat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bunga, sehingga tingkat bunga nominal bebs bergerak menuju pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;posisi yang melebihi tingkat inflasi yang bermakna terbentuknya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tingkat bunga riil yang positif. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sedang di dalam aspek HaKI, paten merupakan suatu bentuk perlindungan terhadap &lt;i&gt;Intelectual Property Rights&lt;/i&gt; (IPR), seperti halnya hak cipta atau merek dagang sebagai bentuk insentif dan imbalan terhadap suatu penemuan. Landasan dari paten ini adalah untuk mendorong penemuan-penemuan komersial, sementara pengetahuan yang melatar-belakangi penemuan tersebut disebarkan kepada masyarakat. Pengetahuan tersebut bebas bagi setiap orang untuk menggunakannya dan memanfaatkannya secara komersial, tetapi hasil penemuan tetap rahasia, dan ada insentif ekonomi terhadap hasil temuannya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Masalah HaKI/Paten merupakan masalah nasional dan internasional yang terus berkembang dan menimbulkan pro-kontra, dan dapat mempengaruhi kehidupan bangsa dan negara, terutama yang berkaitan dengan globalisasi perdagangan dan masalah pemanfaatan kekayaan keanekaragaman hayati dan kehidupan dunia Iptek. Ini permasalahan yang sangat kompleks terutama karena adanya dorongan keuntungan ekonomi dan penguasaan pasar.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Di tingkat nasional, masalah HAM telah dilontarkan terutama oleh kalangan LSM dalam kaitannya dengan kesepakatan Internasional yaitu Konvensi Keanekaragaman Hayati (&lt;i&gt;Convention on Biological Diversity&lt;/i&gt;, CBD), General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dan Agreement on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights (TRIPs), dan World Trade Organization (WTO). Pemerintah Republik &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; telah meratifikasi semua kesepakatan internasional tersebut di atas dan menuangkannya dalam bentuk Undang-Undang Republik &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Ketentuan-ketentuan dalam UU HAKI (UU No 13/1997) dirasakan belum mampu mengantisipasi aspek-aspek kemajuan produk industri bioteknologi. Undang-undang tersebut antara lain belum bisa menjawab masalah landasan konseptual mengenai apa yang dapat atau tidak dipaten terutama dalam kaitannya dengan aspek sosio-budaya dan sosio-ekonomi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Melalui TRIPs negara-negara industri berusaha melindungi barang dagangannya dan ini merupakan kekalahan bagi negara berkembang. Perkembangan terakhir dalam masalah IPR adalah bahwa bahan informasi genetik (DNA) yang merupakan bahan hakiki untuk menunjang kemampuan hidup mulai dipatenkan. Sampai dengan tahun 1995, kurang lebih ada 1.200 fragmen DNA telah dipatenkan. Ada banyak perusahaan Eropa yang berkepentingan terhadap penerapan TRIPs di Indonesia, seperti misalnya Novartis, Glaxo Smith Cline, Merck, Zeneca, dan Bayer. Bagi perusahaan yang berusaha mematenkan bahan-bahan hayati ini, paten berguna untuk : 1) memperoleh akses secara lebih mudah terhadap bahan-bahan dasar industri mereka 2) menjamin bahwa negara-negara berkembang yang membeli produk mereka akan membeli harga produk dengan biaya mahal, karena harus membayar IPR kepada produsen barang-barang itu. Perusahaan-perusahaan kimia itu biasanya memproduksi produk-produk farmasi (obat-obatan) sekaligus produk-produk bioteknologi (benih tanaman pertanian). Dengan adanya perluasan pasar produk-produk mereka melalui FTA juga penerapan prinsip-prinsip TRIPs lewat FTA, maka perusahaan-perusahaan kimia Uni Eropa mengeruk banyak keuntungan dengan adanya ASEAN EU FTA. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-3166106175234292761?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/3166106175234292761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=3166106175234292761' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/3166106175234292761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/3166106175234292761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/06/jasa-trips-dan-pertanian-tiga-bahaya.html' title='Jasa, TRIPs, dan Pertanian : Tiga Bahaya ASEAN EU FTA bagi Indonesia'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SFS5JKHXu6I/AAAAAAAAAEg/tGTpTPnoHOA/s72-c/pasar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-1459118898188641019</id><published>2008-06-05T21:16:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:48:09.820-08:00</updated><title type='text'>The Last Bite : Is the world's food system collapsing?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SEi7XSMTwXI/AAAAAAAAADU/9hkzXnPjpUg/s1600-h/last+bite.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SEi7XSMTwXI/AAAAAAAAADU/9hkzXnPjpUg/s320/last+bite.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208618977748828530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="descender"&gt;In his “Essay on the Principle of Population,” of 1798, the English parson Thomas Malthus insisted that human populations would always be “checked” (a polite word for mass starvation) by the failure of food supplies to keep pace with population growth. For a long time, it looked as if what Malthus called the “dark tints” of his argument were unduly, even absurdly, pessimistic. As Paul Roberts writes in “The End of Food” (Houghton Mifflin; $26), “Until late in the twentieth century, the modern food system was celebrated as a monument to humanity’s greatest triumph. We were producing more food—more grain, more meat, more fruits and vegetables—than ever before, more cheaply than ever before, and with a degree of variety, safety, quality and convenience that preceding generations would have found bewildering.” The world seemed to have been liberated from a Malthusian “long night of hunger and drudgery.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Now the “dark tints” have returned. The World Bank recently announced that thirty-three countries are confronting food crises, as the prices of various staples have soared. From January to April of this year, the cost of rice on the international market went up a hundred and forty-one per cent. Pakistan has reintroduced ration cards. In Egypt, the Army has started baking bread for the general population. The Haitian Prime Minister was ousted after hunger riots. The current crisis could push another hundred million people deeper into poverty. Is the world’s population about to be “checked” by its failure to produce enough food?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Paul Roberts is the second author in the past couple of years to publish a book entitled “The End of Food”—the first, by Thomas F. Pawlick, appeared in 2006. Pawlick, an investigative journalist from Ontario, was concerned with such predicaments as the end of the tasty tomato and its replacement by “red tennis balls” lacking in both flavor and nutrients. (The modern tomato, he reported, contains far less calcium and Vitamin A than its 1963 counterpart.) These worries seem rather tame compared with Roberts’s; his book grapples with the possible termination of food itself, and its replacement by—what? Cormac McCarthy’s novel “The Road” contains a vision of a future in which just about the only food left is canned, from happier times; when the cans run out, the humans eat one another. Roberts lacks McCarthy’s Biblical cadences, but his narrative is intended to be no less terrifying.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Roberts’s work is part of a second wave of food-politics books, which has taken the genre to a new level of apocalyptic foreboding. The first wave was led by Eric Schlosser’s “Fast Food Nation” (2001), and focussed on the perils of junk food. “Fast Food Nation” painted an alarming picture—one learned about the additives in a strawberry milkshake, the traces of excrement in hamburger meat—but it also left some readers with a feeling of mild complacency, as they closed the book and turned to a wholesome supper of spinach and ricotta tortellini. There is no such reassurance to be had from the new wave, in which Roberts’s book is joined by “Stuffed and Starved: The Hidden Battle for the World Food System,” by Raj Patel (Melville House; $19.95); “Bottomfeeder: How to Eat Ethically in a World of Vanishing Seafood,” by Taras Grescoe (Bloomsbury; $24.99); and “In Defense of Food: An Eater’s Manifesto,” by Michael Pollan, the poet of the group (Penguin Press; $21.95).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;All of these authors agree that the entire system of Western food production is in need of radical change, right down to the spinach. Roberts opens with a description of E.-coli-infected spinach from California, which killed three people in 2006 and sickened two hundred others. The E. coli was traced to the guts of a wild boar that may have tracked the bug in from a nearby cattle ranch. Industrial farming means that even those on a vegan diet may reap the nastier effects of intensive meat production. It is no longer enough for individuals to switch to “healthier” choices in the supermarket. Schlosser asked his readers to consider the chain of consequences they set in motion every time they sit down to eat in a fast-food outlet. Roberts wants us to consider the “chain of transactions and reactions” represented by each of our food purchases—“by each ripe melon or freshly baked bagel, by each box of cereal or tray of boneless skinless chicken breasts.” This time, we are all implicated.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Like Malthus, Roberts sees humanity increasingly struggling to meet its food needs. He predicts that in the next forty years, as agriculture is threatened by climate change, “demand for food will rise precipitously,” outstripping supply. The reasons for this, however, are not strictly Malthusian. For Malthus, famine was inevitable because the math of human existence did not add up: the means of subsistence grew only arithmetically (1, 2, 3), whereas population grew geometrically (2, 4, 8). By this analysis, food production could never catch up with fertility. Malthus was wrong, on both counts. In his treatise, Malthus couldn’t envisage any innovations for increasing yield beyond “dressing” the soil with cattle manure. In the decades after he wrote, farmers in England took advantage of new machinery, powerful fertilizers, and higher-yield seeds, and supply rose faster than demand. As the availability of food increased, and people became more prosperous, fertility fell.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Malthus could not have imagined that demand might increase catastrophically even where populations were static or falling. The problem is not just the number of mouths to feed; it’s the quantity of food that each mouth consumes when there are no natural constraints. As the world becomes richer, people eat too much, and too much of the wrong things—above all, meat. Since it takes on average four pounds of grain to make a single pound of meat, Roberts writes, “meatier diets also geometrically increase overall food demands” even in those parts of Europe and North America where fertility rates are low. Malthus knew that some people were more “frugal” than others, but he hugely underestimated the capacity of ordinary human beings to keep eating. Even now, there is no over-all food shortage when measured by global subsistence needs. Despite the current food crisis, last year’s worldwide grain harvest was colossal, five per cent above the previous year’s. We are not yet living on Cormac McCarthy’s scorched earth. Yet demand is increasing ever faster. As of 2006, there were eight hundred million people on the planet who were hungry, but they were outnumbered by the billion who were overweight. Our current food predicament resembles a Malthusian scenario—misery and famine—but one largely created by overproduction rather than underproduction. Our ability to produce vastly too many calories for our basic needs has skewed the concept of demand, and generated a wildly dysfunctional market.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Michael Pollan writes that the food business once lamented what it called the problem of the “fixed stomach”—it appeared that demand for food, unlike other products, was inelastic, the amount fixed by the dimensions of the stomach itself, the variety constrained by tradition and habit. In the past few decades, however, American and European stomachs have become as elastic as balloons, and, with the newly prosperous Chinese and Indians switching to Western diets, much of the rest of the world is following suit. “Today, Mexicans drink more Coca-Cola than milk,” Patel reports. Roberts tells us that in India “obesity is now growing faster than either the government or traditional culture can respond,” and the demand for gastric bypasses is soaring.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Driven by our bottomless stomachs, Roberts argues, the modern economy has reduced food to a “commodity” like any other, which must be generated in ever greater units at an ever lower cost, year by year, like sneakers or DVDs. But food isn’t like sneakers or DVDs. If we max out our credit cards buying Nikes, we can simply push them to the back of a closet. By contrast, our insatiable demand for food must be worn on our bodies, often in the form of diabetes as well as obesity. Overeating makes us miserable, and ill, but medical advances mean that it takes a long time to kill us, so we keep on eating. Roberts, whose impulse to connect everything up is both his strength and his weakness, concludes, grandly, that “food is fundamentally &lt;i&gt;not&lt;/i&gt; an economic phenomenon.” On the contrary, food has always been an economic phenomenon, but in its current form it is one struggling to meet our uncurbed appetites. What we are witnessing is not the end of food but a market on the brink of failure. Those bearing the brunt are, as in Malthus’s day, the people at the bottom.&lt;/p&gt;  &lt;p class="descender"&gt;Cheap food, in these books, is the enemy. Roberts complains that “the attributes of food that our economic system tends to value and to encourage”—like cheapness—“aren’t necessarily the attributes that work best for the people eating the food, or the culture in which that food is consumed, or the environment in which it is produced.” Cheap food distresses Raj Patel, too. Patel, a former U.N. consultant and a current anti-globalization activist, is an excitable fan of peasant coöperatives and Slow Food. He lacks Roberts’s cool scope but shares his ambition to connect all the dots. Patel would like us to take lessons in “culinary sensuousness” from his “dear friend” Marco Flavio Marinucci, a San Francisco-based artist and, apparently, a master of the art of “gastronomical foreplay.” Patel regrets that most of us are nothing like dear Mr. Marinucci. We are all too busy being screwed over by the giant corporations to take the time to appreciate “the deeper and subtler pleasures of food.” For Patel, it is a short step from Western consumers “engorged and intoxicated” with cheap processed food to Mexican and Indian farmers committing suicide because they can’t make a living. The “food industry’s pabulum” makes us all cogs in an evil machine.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;It’s easy to see what Roberts and Patel have against cheap food. For one thing, it’s often disgusting. Roberts has a powerful passage on industrial chicken, showing how its vile flesh is a direct consequence of its status as economic commodity. In the nineteen-seventies, it took ten weeks to raise a broiler; now it takes forty days in a dark and crowded shed, because farmers are under constant pressure to cut costs and increase productivity. Every cook knows that chicken breast is no longer what it once was—it’s now remarkably flabby and yielding. Roberts reveals that poultry experts have a term for this: P.S.E., or “pale, soft, exudative” meat. Today’s birds, Roberts shows, are bred to be top-heavy, in order to satisfy consumers’ desire for “healthy” white meat at affordable prices. In these Sumo-breasted monsters, a vast volume of lactic acid is released upon death, damaging the proteins—hence the crumbly meat. Poultry firms deal with P.S.E. after the fact, pumping the flaccid breast with salts and phosphates to keep it artificially juicier. What they don’t do is try particularly hard to prevent P.S.E. They can’t afford to. The average U.S. consumer eats eighty-seven pounds of chicken a year—twice as much as in 1980—but this generates a profit of only two cents per pound for the farmer.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So, yes, cheap food can be nasty, not to mention bad for farmers and the environment. Yet it has one great advantage that neither Patel nor Roberts fully grapples with: people can afford to buy it. According to the World Bank, four hundred million fewer people were living in extreme poverty in 2004 than was the case in 1981, in large part owing to the affordability of basic foodstuffs. The current food crises are the result of food being too expensive to buy, rather than too cheap. The rioters of Haiti would kill for a plate of affordable chicken, no matter how pale, soft, and exudative. The battle against cheap food involves harder tradeoffs than Patel and Roberts allow. No one has yet discovered how to raise prices for the overfed rich without squeezing the underfed poor.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;If Roberts’s overarching thesis is simplistic, he is nevertheless right in his scathing analysis of some of the market alternatives. The conventional view against which Roberts is arguing is that the food economy is “more or less self-correcting.” When the economy gets out of kilter—through rapidly increased demand or sudden shortages and price rises—the market should provide the solution in the form of new technologies that “push the Malthusian monster back into its box.” This is precisely what Malthus is thought to have missed—the capacity of a market economy to turn pressures on supply into innovations that can meet future demands. But endless innovation has now generated a series of demands that are starting to overwhelm the market.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Roberts depicts the global food market as a lumbering beast, organized on such a monolithic scale that it cannot adapt to the consequences of its own distortions. In a flexible, responsive market, producers ought to be able to react to a surplus of one thing by switching to making another thing. Industrial agriculture doesn’t work like this. Too many years—and, in the West, too many subsidies—are invested in the setup of big single-crop farms to let producers abandon them when the going gets tough. Defenders of industrial agriculture point to its efficiency, but Roberts sees instead a system full to bursting with waste, often literally. American consumers demand huge amounts of cheese and meat. One consequence is the giant “poop lagoons” of Northern California. In traditional forms of mixed agriculture, animal manure is not a waste product but a valuable fertilizer. By contrast, the mainstream food economy is now dominated by monocultures in which crops and animals are kept apart. This system of farming has little use for poop, despite churning it out in ever-increasing volumes. The San Joaquin Valley has air quality as poor as Los Angeles, the result of twenty-seven million tons of manure produced every year by California’s cows. “And cows are relatively benign crappers,” Roberts points out; hogs—mass-produced to meet the demand for bacon on everything—are more prolific. On June 21, 1995, Roberts tells us, a hog lagoon burst into a river in North Carolina, destroying aquatic life for seventeen miles.&lt;/p&gt;  &lt;p class="descender"&gt;Repulsed by the sordid details of meat production, some consumers turn to fish instead. Yet the piscine world is subject to the same market paradoxes as meat. In “Bottomfeeder,” Taras Grescoe confirms that there are still plenty of fish in the sea. Unfortunately, these are not the ones that people want to eat. Aside from pollution, the oceans would be in quite a healthy state if consumers were less reluctant to eat fish near the middle or bottom of the food chain, such as herring, sardines, and mackerel. We would be healthier, too, since these oily fish are rich in omega-3, the fatty acid in which the Western diet is markedly deficient. Instead, we clamor to eat top-of-the-food-chain fish such as cod and bluefin tuna, many of whose stocks have collapsed; they will soon disappear from the seas altogether unless demand drops. So far, as with meat, the opposite is happening. With increasing affluence, the Chinese are developing a taste for sushi, which could soon see every last piece of glistening toro disappear.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fish “farming,” with its overtones of pastoral care, sounds like a better option, but Grescoe—who has travelled around the world in search of delicious and rare seafood—shows that it can be more damaging still. As with chicken, out-of-control demand for once premium foods has translated into grotesque and unsustainable forms of production. A taste for “popcorn shrimp in the strip malls of America” translates into the cutting down of tropical mangrove forests in Ecuador and the destruction of wild-shrimp stocks in Southeast Asia. Grescoe quotes Duong Van Ni, a hydrologist from Vietnam, where warm-water shrimp farms feed the insatiable Western appetite for all-you-can-eat seafood-shack specials and prawn curries. “Shrimp farming is so damaging to the environment and so polluting to the soil, trees, and water that it will be the last form of agriculture,” Ni says. “After it, you can do nothing.” Our thirst for cheap salmon is similarly destructive, and the results are as bad for us as they are for the fish. The nutrition expert Marion Nestle warns that you should broil or grill farmed salmon until it is well done and remove the skin, to get rid of much of the toxin-laden grease. As Grescoe remarks, if this is the only safe way to eat this fish, wouldn’t it be better to eat something else?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The one thing farmed salmon has going for it is that the fish are, as Roberts says, “efficient feed converters”: salmon require only a little more than a pound of feed for every pound of weight that they gain. The trouble is that the feed in this case isn’t grain but other fish, because salmon are carnivores. Fishermen are granted large quotas to catch fish like sardines and anchovies—which are delicious and could be eaten by humans—only to have them turned into fish meal and oil. Thirty million tons, or a third of the world’s wild catch, goes into the manufacture of fish meal and oil, much of which is used to raise farmed salmon. Farming salmon, Grescoe says, is “akin to nourishing tigers and lions with beef and pork,” and then butchering them to make ground beef. The farming of herbivorous fish such as carp and tilapia, by contrast, actually increases the net amount of seafood in the world.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;The great mystery of the world’s insatiable appetite for farmed salmon is that it doesn’t taste good. Grescoe, a Canadian who was reared on “well-muscled” chinook, gives a lurid description of the farmed variety, with its “herring-bone-pattern flesh, barely held together by creamy, saliva-gooey fat.” A flabby farmed-salmon dinner—no matter how much you dress it up with teriyaki or ginger—cannot compare with the pleasures of canned sardines spread on hot buttered toast or a delicate white-pollock fillet, spritzed with lemon. Pollock is cheaper than salmon, too. Yet in the United States there is little demand for it, or, indeed, for the small, wild, affordable (and sustainable) Northern shrimp, which taste sweeter than the watery jumbo creatures that the market prefers. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Given that the current food economy is so strongly driven by appetite, it does seem odd that so much of the desire is for such squalid and unsatisfying things. If we are going to squander the world’s resources, shouldn’t it at least be for the sake of rare and splendid edibles? Yet much of what is now eaten in the West is not food so much as, in Michael Pollan’s terms, stuff that’s merely “foodish.” From the nineteen-eighties onward, many traditional foods were removed from the shelves and in their place came packages of quasi-edible substances whose selling point was nutritional properties (No cholesterol! Vitamin enriched!) rather than taste. Pollan writes:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="pullout"&gt;&lt;span class="line"&gt;There are in fact hundreds of foodish products in the supermarket that your ancestors simply wouldn’t recognize as food: breakfast cereal bars transected by bright white veins representing, but in reality having nothing to do with, milk; “protein waters” and “nondairy creamer”; cheeselike foodstuffs equally innocent of any bovine contribution; cakelike cylinders (with creamlike fillings) called Twinkies that never grow stale. &lt;span class="break"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="break three"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pollan shows that much of the apparent abundance of choice available to the affluent Western consumer is an illusion. You may spend hours in the supermarket, keenly scrutinizing the labels, but, when it comes down to it, most of what you eat is derived from the high-yield, low-maintenance crops that the food industry prefers to grow, and sells to you in myriad foodish forms. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“You may not think you eat a lot of corn and soybeans,” Pollan writes, “but you do: 75 percent of the vegetable oils in your diet come from soy (representing 20 percent of your daily calories) and more than half of the sweeteners you consume come from corn (representing around 10 percent of daily calories).” You may never consciously allow soy to pass your lips. You shun soy milk and despise tofu. Yet soy will get you in the end, whether as soy-oil mayo and soy-oil fries; ice cream and chocolate emulsified with soy; or chicken fed on soy (“soy with feathers,” as one activist described it to Patel).&lt;/p&gt;  &lt;p class="descender"&gt;Our insatiable appetites are not simply our own; they have, in no small part, been created for us. This explains, to a certain degree, how the world can be “stuffed and starved” at the same time, as Patel has it. The food economy has created a system in which some have no food options at all and some have too many options, albeit of a somewhat spurious kind. In the middle is a bottleneck—a relatively small number of wholesalers and buyers who largely determine what the starving farmers produce and what the stuffed consumers eat. In the Netherlands, Germany, France, Austria, Belgium, and the United Kingdom, there are a hundred and sixty million consumers, fed by approximately 3.2 million farmers. But the farmers and the consumers are connected to one another by a mere hundred and ten wholesale “buying desks.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;It would be futile, therefore, to look to the food system for radical change. The global manufacturers and wholesalers have an interest in continuing to manipulate our desires, feeding our illusions of choice, stoking our colossal hunger. On the other hand, if desires can be manipulated in one direction, why shouldn’t they be manipulated in another, more benign direction? Pollan offers a model of how individual consumers might adjust their appetites: “Eat food. Not too much. Mostly plants.” As a solution, this is charmingly modest, but it is unlikely to be enough to meet the urgency of the situation. How do you get the whole of America—the whole of the world—to eat more like Michael Pollan?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;The good news is that one developing country has, in the past two decades, conducted a national experiment in a more sustainable food system, proving that it is possible to feed a population less destructively. Farmers gave up synthetic fertilizers and pesticides and replaced them with old-fashioned crop rotations and mixed livestock-crop operations. Big industrial farms were split into smaller coöperatives. The bad news is that the country is Cuba, which was forced to make the switch after the fall of the Soviet Union left it without supplies of agrochemicals. Cuba’s experiment depended on its authoritarian state, which commanded the “reallocation” of labor from cities to farms. Even on Cuba’s own terms, the experiment hasn’t been perfect. On May Day, Raúl Castro announced further radical changes to the farm system in order to reduce reliance on imports. Paul Roberts notes that there is no chance that Americans and Europeans will voluntarily adopt a Cuban model of food production. (You don’t say.) He adds, however, that “the real question is no longer what a rich country would do &lt;i&gt;voluntarily&lt;/i&gt; but what it might do if its other options were worse.” &lt;span class="dingbat"&gt;♦&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="dingbat"&gt;Diunduh dari : http://www.newyorker.com/arts/critics/atlarge/2008/05/19/080519crat_atlarge_wilson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="descender"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-1459118898188641019?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/1459118898188641019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=1459118898188641019' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1459118898188641019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/1459118898188641019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/06/last-bite-is-worlds-food-system.html' title='The Last Bite : Is the world&apos;s food system collapsing?'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SEi7XSMTwXI/AAAAAAAAADU/9hkzXnPjpUg/s72-c/last+bite.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-899392306232958899</id><published>2008-06-05T21:06:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:48:09.944-08:00</updated><title type='text'>Indonesia Menekankan Perlunya Perlakuan yang Khusus dan Berbeda dalam Perundingan Perikanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SEi5HfW7NTI/AAAAAAAAADM/UNNW0ulqzzE/s1600-h/perikanan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SEi5HfW7NTI/AAAAAAAAADM/UNNW0ulqzzE/s320/perikanan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208616507381855538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebuah pertemuan informal di dalam Kelompok Negosiasi Perundingan WTO pada tanggal 13-14 Mei lalu mendiskusikan mengenai proposal bersama yang diajukan oleh India, Indonesia, dan China yang menekankan pentingnya ’perlakuan khusus yang berbeda’ untuk negara berkembang menanggapai teks yang diajukan oleh Ketua Perundingan mengenai subsidi perikanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;India, Indonesia, dan China memperkenalkan proposal bersama (TN/RL/GEN/155/Rev. 1) yang berjudul “Pentingnya Perlakuan yang Khusus dan Berbeda untuk Negara Berkembang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di dalam Teks Subsidi Perikanan”. Proposal bersama ini merupakan revisi dari proposal yang terdahulu yang dikumpulkan oleh India dan Indonesia pada pertemuan terakhir dari Kelompok Negosiasi di bulan April. China telah bergabung sebagai negara yang turut mendukung dalam pengumpulan yang telah direvisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut perwakilan perdangan India, India menekankan perhatiannya terhadap teks Ketua Perundingan, khususnya berkaitan dengan perlakuan yang khusus dan berbeda. Ini dikatakan bahwa teks alternatif yang diajukan menyediakan perlakuan yang khusus yang berbeda yang efektif dan fleksibilitas yang cukup untuk negara berkembang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;India juga menginginkan Ketua Perundingan untuk mengeluarkan teks yang direvisi sebelum ”proses horizontal” terjadi dalam negosiasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dikatakan oleh India, bahwa di samping sistem manajemen perikanan yang formal, negara berkembang dapat menggunakan metode lokal untuk mengontrol permasalahan &lt;i style=""&gt;over-fishing. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dalam proposal ini juga menekankan bahwa negara berkembang membutuhkan jarak kebijakan untuk mencapai tujuan pembangunan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; mengatakan bahwa persyaratan yang akan membantu negara berkembang untuk memberikan bantuan subsidi perikanan dalam teks ketua Perundingan juga terlalu ketat, dan banyak dari nelayan yang merasa akan mustahil untuk menepatinya secara penuh dengan skema waktu ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Menurut perwakilan perdagangan &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt; mengatakan bahwa &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt; mendukung proposal ini karena &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; merasa permasalahan perlakuan khusus dan berbeda itu penting. &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt; juga menambahkan bahwa proposal tidak membawa banyak perubahan terhadap proposal asli dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, kecuali untuk fleksibilitas kebijakan untuk negara berkembang mengenai operasi kapal secara berpindah-pindah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Proposal bersama India, Indonesia, dan China mencatat bahwa teks draft yang diajukan oleh China telah dimasukkan dalam Annex VIII mengenai Subsidi Perikanan dalam &lt;i style=""&gt;Agreement on Subsidies and Countervailing Measures &lt;/i&gt;secara intensif telah didiskusikan dari Desember 2007 sampai dengan Maret 2008. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Makalah bersama juga mengatakan bahwa banyak negara berkembang telah mengetahui perhatian mereka yang kuat dalam draft teks yang secara khusus mengenai provisi yang terkait dengan bantuan untuk perlakuan yang khusus dan berbeda kepada negara berkembang dan kondisionalitas dari manajemen perikanan yang telah disetujui untuk mendapatkan perlakuan khusus dan berbeda. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Dalam makalah ini, kita membuat kasus yang kuat untuk provisi perlakuan khusus dan berbeda di dalam teks ketua perundingan,” kata &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Makalah tersebut memberikan latar belakang dari karakter perikanan laut di negara berkembang. Ini dikatakan bahwa banyak negara berkembang mempunyai kepentingan yang besar dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;populasi mereka yang bergantung dari hasil perikanan. Seringkali, periakanan adalah sarana dari mata pencaharian dari beberapa negara, dan ini berlainan dengan budaya industri ikan secara komersial di negara maju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lebih lanjut, menurut makalah itu, sektor perikanan dikarakteristikkan sebagai hasil tangkapan yang tidak dapat diprediksi dan musiman, dimana harga yang didapatkan untuk penangkapan ikan tidak stabil. Bukti-bukti nyata juga memperlihatkan bahwa komunitas perikanan laut secara umum, mempunyai level terendah dari standar pendidikan dan kondisi yang sangat buruk dalam hal perumahan sebagaimana dibandingkan dengan rata-rata nasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bukti-bukti juga memperlihatkan bahwa komunitas perikanan dihadapkan pada masalah rendahnya kualitas hidup sebagai hasil dari polusi, erosi laut, meningkatkan tekanan pada tanah pesisir, dan degradasi dari lingkungan laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ditambah lagi, menurut makalah itu, teknologi yang digunakan untuk perikanan di negara berkembang masih sangat tradisional, dan jumlah nelayan yang menggunakan perahu tak bermotor atau dengan motor yang minimal cukup besar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Di Indonesia misalnya, 85% dari kapal perikanan adalah kecil dan tradisional, beroperasi di dalam peraian Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada sekitar 9,337 kapal yang tidak bermesin dan 77,339 kapal bermotor kecil. Hampir semua kapal ini panjangnya sekitar 20 meter saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Makalah ini juga mencatat bahwa infrastruktur perikanan di banyak negara berkembang tidak berkembang dan membutuhkan banyak intervensi negara untuk membangunnya. Misalnya, India memiliki panjang garis pantai 8,118 kilometer persegi, dan Zona Ekonomi Eksklusif sebesar 2 juta kilometer persegi. Namun, hanya ada sekitar 6 pelabuhan utama dan 41 pelabuhan kecil dan juga 2,000 tempat mendarat. Hampir semua tempat mendarat adalah dasar dan dalam kebutuhan untuk memelihara dan memperbaiki. Secara jelas, ada kebutuhan untuk membangun lebih banyak pelabuhan dan tempat untuk mendarat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Oleh karena itu jelas bahwa negara berkembang membutuhkan konsentrasi pembangunan untuk melindungi perhatian hak untuk hidup dari nelayan miskin dan juga membangun infrastruktur-infrastruktur penting untuk pembangunan. Lebih lanjut, karena pembangunan infrastruktur dan penyediaan layanan publik merupakan sebuah investasi besar, maka jelas bahwa negara harus melanjutkan pembangunan ini untuk rakyatnya.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh karena itu, menurut makalah ini, merupakan sebuah bukti bahwa teks yang diajukan Ketua Perundingan mengenai subsidi perikanan tidak hanya akan membatasi usaha negara berkembang untuk memformulasi dan mengimplementasi kebijakan publik untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan dari nelayan miskin, namun juga akan mengurangi usaha mereka untuk membangun infrastruktur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Lebih lanjut, hal ini memperlihatkan bahwa tidak adil untuk membatasi subsidi di mana negara maju secara historis telah diberikan kepada nelayannya, terutama ketika nelayan kecil untuk negara industri mereka.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Makalah ini juga mencatat bahwa banyak Negara berkembang adalah anggota Organisasi Pangan Dunia (FAO), di mana banyak yang telah mengumpulkan berbagai perjanjian seperti &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;UN Fish Stocks Agreement and the Code of Conduct for Responsible Fisheries. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mereka juga mempunyai sistem manajemen perikanan atau proses dari sistem yang berbeda dan operasional. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;“Bagaimanapun, kesepakatan FAO adalah sukarela (&lt;i style=""&gt;soft law)&lt;/i&gt;, di mana memberikan negara berkembang fleksibilitas dan kenyamanan yang diperlukan. Oleh karena itu, berkomitmen dalam sistem ini secara tidak timbal balik di WTO merupakan hal yang tidak diinginkan, namun juga harus menginterpretasi dari rejim negara berkembang untuk ditantang melalui mekanisme penyelesaian sengketa. “ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Makalah bersama oleh tiga negara tersebut menganalisis teks Ketua Perundingan dan menjelaskan mengapa negara berkembang mempunyai masalah dalam menerima provisi perlakuan khusus dan berbeda dalam form yang ada saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Makalah ini juga memberikan tujuan yang sama untuk kesulitan dalam menerima Pasal V (dalam Annex VIII yang diajukan dalam teks Ketua Perundingan mengenai Subsidi Perikanan) dalam Manajemen Perikanan, sebagaimana kerangka dari tiga Negara mengenai &lt;i style=""&gt;Notification and Surveillance requirements &lt;/i&gt;(Pasal VI) dan &lt;i style=""&gt;Transitional Provisions&lt;/i&gt; (Pasal VII).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Makalah ini juga memberikan sebuah Annex di mana amandemen terhadap teks yang diajukan oleh Ketua Perundingan dalam Subsidi Perikanan telah dianjurkan. Makalah ini juga menyebutkan bahwa negara berkembang diberikan fleksibilitas untuk mengadopsi ukuran-ukuran yang diajukan dalam hubungannya dengan manajemen perikanan (Pasal V) dan memberlakukan legislasi domestik di wilayah mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dengan menghormati provisi transisional, makalah ini menyarankan bahwa periode yang diberikan untuk konformitas Negara berkembang dinaikkan dari 4 tahun menuju ke 10 tahun. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain itu, negara berkembang juga meminta perubahan panjang kapal darti 10 meter menjadi 24 meter. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tiga negara yang menyimpulkan bahwa karena prioritas pembangunan, ketahanan pangan, dan perhatian terhadap hak atas hidup negara berkembang,” Kita percaya bahwa perlakuan khusus dan berbeda yang efektif untuk perikanan yang kecil dan tradisional di dalam disiplin baru adalah penting. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Menurut perwakilan perdagangan di perundingan, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, Filipina, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; merefleksikan bantuan untuk menguatkan proposal, di mana mereka mengatakan akan menemui perhatian dari banyak negara berkembang. Negara berkembang akan menyambut dengan gembira masalah panjang kapal dari 10 meter menjadi 24 meter, sebagaimana memanjangkan periode transisi untuk negara berkembang dari 4 tahun menjadi 10 tahun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Turki juga menyambut gembira makalah ini dan memberi dukungan. Barbados, yang mewakili negara ekonomi kecil dan rentan, menyetujui banyak poin dalam proposal ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berlainan pendapat dengan negara berkembang, Amerika Serikat mengatakan bahwa proposal tersebut akan memberikan negara berkembang sebuah instrumen yang lengkap untuk subsidi perikanan. AS juga meminta bahwa panjang kapal selebar 24 meter adalah panjang untuk kapal yang bukan tradisional, dan mengatakan bahwa memberikan subsidi bagi nelayan di negara berkembang akan membuat stok ikan di lautan lepas terancam, baik negara berkembang maupun negara maju. New Zealand mengatakan bahwa akan ada konsensus di waktu mendatang yang cukup kuat untuk subsidi perikanan. Uni Eropa mengatakan bahwa makalah ini akan membuat potongan tanpa kondisionalitas untuk semua aktivitas perikanan negara berkembang di dalam teritori perairan mereka. Hal ini direspon China bahwa China akan memberikan proposal orisinal untuk memberikan fleksibilitas untuk perikanan negara berkembang di laut lepas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Uni Eropa mengatakan bahwa EU juga mempunyai kesulitan degan teks yang diberikan Ketua perundingan, menambahkan bahwa anggota harus mengakomodasi masing-masing perhatian. Sedangkan Korea dan Taiwan mengingatkan bahwa fleksibilitas harus diberikan pada perikanan skala kecil untuk semua anggota – baik anggota negara berkembang dan negara maju. Mereka juga mengungkapkan perhatian mereka terhadap posisi mereka dalam manajemen perikanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut perwakilan perdagangan yang ada dalam perundingan, Kelompok perundingan akan melanjutkan pertemuannya pada hari Kamis di mana dapat digunakan untuk mendiskusikan Pasal IV yang terkait dengan disiplin umum. Kelompok juga berencana untuk mendiskusikan mengenai bantuan teknis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-899392306232958899?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/899392306232958899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=899392306232958899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/899392306232958899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/899392306232958899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/06/indonesia-menekankan-perlunya-perlakuan.html' title='Indonesia Menekankan Perlunya Perlakuan yang Khusus dan Berbeda dalam Perundingan Perikanan'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SEi5HfW7NTI/AAAAAAAAADM/UNNW0ulqzzE/s72-c/perikanan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-195956258987407533</id><published>2008-04-14T23:41:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:48:10.235-08:00</updated><title type='text'>Dua Makalah Sektor Jasa Diajukan Negara Berkembang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SDJ1OOXoBjI/AAAAAAAAAC8/A53QZjV5i0M/s1600-h/fair+trade.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SDJ1OOXoBjI/AAAAAAAAAC8/A53QZjV5i0M/s200/fair+trade.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202349406802150962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dua makalah dari dua kelompok negara berkembang telah  dikumpulkan dari draft teks yang akan dimasukkan dalam konsultasi dengan ketua  negosiasi jasa di WTO untuk membuat teks perundingan jasa sebagai bagian dari  negosiasi Doha secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada dua makalah yang dikeluarkan oleh negara-negara  berkembang. Satu makalah dikeluarkan oleh Argentina, Brazil, China, India,  Pakistan, dan Afrika Selatan. Makalah lain dipresentasikan oleh Chile, Hong  Kong, Peru, Singapura, dan Turki.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dua makalah ini  disirkulasikan pertama kali pada konsultasi jasa informal dalam kelompok kecil  dan mereka menginginkan untuk diformulasikan dan didiskusikan lagi pada  pertemuan informal yang terbuka mengenai jasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ketua negosiasi jasa  adalah Duta Besar Fernando de Mateo dari Meksiko.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Makalah ini  dikumpulkan mengikuti makalah bersama dari 8 negara maju (AS, Komunitas Eropa,  Jepang, Australia, Kanada, Selandia Baru, Norwegia, dan Swiss) sebagai mana  Korea dan Taiwan yang menaruh proposal dalam konsultasi kelompok kecil jasa pada  tanggal 23 Januari. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam pertemuan yang  sama, makalah lain yang diajukan oleh 18 negara ekonomi kecil.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah dari AS, EU, dan beberapa negara maju meminta  anggota WTO untuk membuat komitmen dalam sektor jasa yang (1) merefleksikan  level akses pasar dan perlakuan nasional (2) menyediakan akses pasar yang baru  dan perlakukan nasional dalam sektor-sektor di mana masih ada hambatan di  dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah AS dan Uni Eropa juga mengkomplain bahwa dalam  negosiasi bilateral dan plurilateral, hanya sedikit anggota yang telah  memperlihatkan fleksibilitas untuk menyediakan akses pasar yang efektif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah yang disajikan oleh Brazil dan yang lainnya,  secara kontras, menekankan bahwa penawaran selanjutnya harus melindungi  arsitektur GATS, merespon untuk meminta garis dan mandat (KTM Hong Kong),  memikirkan dari level pembangunan negara berkembang, menyediakan akses pasar  dalam wilayah kepentingan untuk negara berkembang, dan berpikir komitmen yang  telah dibuat oleh negara yang baru bergabung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah Brazil ini terlihat akan menyediakan perspektif  pembangunan dan teks jasa apa yang mungkin dilakukan, dengan mendeskripsikan  secara faktual apa yang menjadi mandat dan kondisi perundingan, sambil  menekankan fleksibilitas pembangunan maupun kebutuhan untuk negara maju untuk  melengkapi kebutuhan jasa dari negara berkembang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah lain yang disajikan oleh Chile dan negara lain  terlihat lebih merefleksikan kepentingan negara maju, dengan menekankan  kebutuhan untuk hasil yang substansial dalam sektor jasa sebagai bagian dari  keseimbangan secara keseluruhan dalam putaran itu, dengan menyebutkan  terdapatnya perbedaan antara permintaan dan indikasi bahwa anggota telah membuat  dalam perundingan bilateral dan plurilateral.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara  khusus, dalam makalah ini juga dinyatakan bahwa penawaran yang maju terhadap  usaha pengurangan atau pencegahan efek dalam perdagangan jasa dari pengukuran  sebagai saran untuk menyediakan akses pasar yang efektif. Meningkatkan level  umum dari komitmen spesifik dari dan untuk anggota untuk memasukkan lebih banyak  sektor dan komitmen yang lebih mendalam atau komitmen yang penuh dari  sektor-sektor ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah yang dibuat oleh Brazil dan negara anggota lain  adalah berada dalam bentuk kontribusi teks. Dalam bab-babnya, makalah ini  memperlihatkan bahwa negosiasi seharusnya dilakukan dalam basis dan prosedur  untuk negosiasi perdagangan jasa dan Annex C dalam KTM Hong Kong yang  menyebutkan panduan substansial untuk kesimpulan negosiasi jasa melalui tujuan  dan pendekatan yang khusus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah yang disajikan negara berkembang itu meminta  negosiasi berdasar permintaan-penawaran sebagai metode negosiasi dan mencatat  hal tersebut sebagai pelengkap negosiasi bilateral, 21 kelompok plurilateral  telah bertemu dalam sektor dan mode yang berbeda-beda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ini  kemudian yang mengingatkan bahwa permintaan berikutnya seharusnya  :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mendasarkan pada arsitektur sekarang dari GATS dan  daftar positif liberalisasi (positive list).  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Merespon permintaan bilateral dan plurilateral yang  sesuai dengan kerangka dan prosedur negosiasi perdagangan untuk jasa dan dengan  Annex C dari Deklarasi Menteri Hong Kong dengan pencapaian liberalisasi yang  progresif, sebagaimana dimandatkan dalam Artikel XIX:1 dari perjanjian GATS.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melihat level pembangunan dari negara berkembang yang  menjadi anggota, khususnya derajat pembangunan regulasi jasa, di mana  liberalisasi harus menghormati fleksibilitas yang disediakan kepada anggota  negara berkembang untuk membuka lebih sedikit sektor jasa, meliberalisasi lebih  sedikit tipe transaksi, memperluas akses pasar yang sejalan dengan situasi  pembangunan dan membuat akses untuk pasar mereka untuk penyedia jasa asing, dan  ketika sukses dalam memperluas pasar mereka tersedia untuk penyedia jasa asing,  menambahkan beberapa kondisi akses yang bertujuan untuk mencapai tujuan yang  dirujuk dalam Pasal IV.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menyediakan akses pasar kepada sektor-sektor dan tipe  kepentingan pemberian ekspor kepada negara berkembang, seperiTipe 1 dan 4,  sebagaimana diindikasikan dalam permintaan bilateral dan plurilateral, sejalan  dengan Artikel IV GATS.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mempertimbangkan komitmen yang ekstensif yang telah  dibuat oleh negara anggota baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah tersebut juga membuat poin-poin sebagai  berikut&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menyetujui untuk mengadakan evaluasi, sebelum  lengkapnya negosiasi dan hasil yang didapat dalam kerangka tujuan Artikel  IV.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengingatkan kembali komitmen mereka untuk memberikan  pertimbangan untuk proposal yang terkait dengan perdagangan yang memperhatikan  isu-isu ekonomi negara kecil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengingatkan kembali komitmen mereka untuk menaruh  mekanisme untuk implementasi yang penuh dan efektif dari modalitas LDCs sebelum  formulasi penawawan kedua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengetahui bahwa waktu yang efketif diperlukan untuk  mencapai kesimpulan yang sukses dalam negosiasi dan oleh karena itu negosiasi  seharusnya bertahan pada tanggal-tanggal sebagai berikut  :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Putaran kedua dari penawaran yang telah direvisi  seharusnya dikumpulkan 90 hari setelah modalitas Pertanian dan  NAMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadwal  draft final dari komitmen seharusnya dikumpulkan oleh kelompok negosiasi  horizontal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melengkapi pertimbangan proposal untuk implementasi  perlakuan berbeda dan spesial, termasuk mencari implementasi yang efektif dari  proposal-proposal tersebut melalui rekomendasi yang jelas untuk keputusan oleh  mereka oleh Dewan Umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Provisi untuk regulasi domestik dan peraturan GATS akan  ditambahkan berikutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makalah yang disajikan oleh Chile dan negara lainnya  mengakui bahwa hasil substansial di bidang jasa yang membentuk bagian dari  keseimbangan secara keseluruhan. Hal ini dicatat bahwa ada 21 permintaan  plurilateral yang telah disirkulasi dan ada empat putaran negosiasi plurilateral  yang telah terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perbedaan masih terjadi di dalam beberapa sektor yang  berbeda dan juga tipe penawaran serta indikasi. Selama negosiasi, beberapa  anggota juga telah menekankan pada kesulitan yang mereka hadapi dalam beberapa  sektor dan tipe penawaran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam  perkembangannya, teks draft kemudian disetujui anggota bahwa dalam formulasi  penawaran mereka yang direvisi anggota seharusnya berusaha memastikan kualitas  yang tinggi dari penawaran dengan menghormati penawaran bilateral dan  plurilateral.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara  spesifik, penawaran seharusnya melihat hal-hal sebagai berikut  :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mencapai level liberalisasi yang lebih  tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengurangi efek yang berlebihan akibat perdagangan jasa  sebagai ukuran untuk menyediaakn akses pasar yang efektif.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mempromosikan kepentingan semua anggota dalam sebuah  basis yang saling menguntungkan dan mengamankan keseimbangan hak dan kewajiban,  dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meningkatkan level umum dari komitmen spesifik yang  diambil oleh anggota. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Estrangelo Edessa;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Draft teks  perundingan ini tentunya berlawanan dengan apa yang diperjuangkan negara-negara  berkembang dalam perundingan jasa. Masih diperlukan usaha yang lebih keras dari  negara berkembang untuk mendekonstruksi teks-teks perundingan jasa yang banyak  merugikan rakyat di negara-negara berkembang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-195956258987407533?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/195956258987407533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=195956258987407533' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/195956258987407533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/195956258987407533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/04/dua-makalah-sektor-jasa-diajukan-negara.html' title='Dua Makalah Sektor Jasa Diajukan Negara Berkembang'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SDJ1OOXoBjI/AAAAAAAAAC8/A53QZjV5i0M/s72-c/fair+trade.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-2357497230843770892</id><published>2008-04-07T03:10:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:48:10.371-08:00</updated><title type='text'>The Next Personal Research ....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SDJ3reXoBkI/AAAAAAAAADE/tx9i31uTs4c/s1600-h/fish.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SDJ3reXoBkI/AAAAAAAAADE/tx9i31uTs4c/s320/fish.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202352108336580162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada tanggapan atau komentar? Thanks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Globalisasi dan Dinamika Rejim Internasional :&lt;br /&gt;Analisis Dampak Kesepakatan Internasional (1995-2007) terhadap Sektor Perikanan di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Cambria;"&gt;Laut adalah &lt;i style=""&gt;common property &lt;/i&gt;atau sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan oleh semua umat manusia demi kesejahteraan tanpa harus mengabaikan nilai-nilai konservasi lingkungan. Di level internasional, UN Convention on the Law of Sea (UNCLOS) 1982 telah menjadi sebuah hukum internasional yang mengatur pengelolaan laut dan sumberdaya &lt;span style="color:black;"&gt;yang terkandung di dalamnya, termasuk pengelolaan laut lepas. Pengaturan ini lahir dari semangat ”New International Economic Order” yang menginginkan sistem internasional yang lebih adil antara negara maju dan negara dunia ketiga. Dalam perkembangannya, rejim pengelolaan sumberdaya kelautan di dunia mengalami dinamika atau pergerakan sehingga lahirlah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Cambria;color:black;"   lang="SV"&gt;Agreement for the implementation of the provisions of the Convention relating to the conservation and management of straddling fish stocks and highly migratory fish stocks &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Cambria;color:black;"   lang="SV"&gt;(UNIA) tahun 1995 yang memiliki perbedaan nilai dengan UNCLOS. Dalam UNIA 1995, laut lepas tidak lagi merupakan lautan yang bisa dimanfaatkan oleh semua negara, akan tetapi dimanfaatkan oleh beberapa negara anggota saja. Hal ini kemudian memicu lahirnya beberapa rejim pengelolaan kelautan di tingkat kawasan / regional yang mengeksplorasi laut lepas. Indonesia adalah negara yang tidak bergabung dalam UNIA 1995, padahal rejim-rejim pengelolaan kelautan tersebut berada di sekitar wilayah perairan Indonesia, seperti Samudera Hindia, Lautan Teduh, dan Laut Cina Selatan. Fenomena &lt;i style=""&gt;distant-water fishing nations, &lt;/i&gt;seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Cina, dan Korea, yang melakukan ekspansi kegiatan perikanan laut di Pasifik Selatan atau di Samudera Hindia membuat potensi berkurangnya sumberdaya kelautan Indonesia melalui kegiatan &lt;i style=""&gt;Illegal, Unreported, Unregulated Fishing (IUU Fishing). &lt;/i&gt;Fenomena &lt;i style=""&gt;distant-water fishing nations &lt;/i&gt;juga telah membuat stok perikanan dunia semakin berkurang dengan menguras sumberdaya perikanan di laut lepas. Dinamika rejim perdagangan juga telah bergerak dari multilateral menjadi regional atau bilateral dengan meluasnya &lt;i style=""&gt;Free Trade Agreements &lt;/i&gt;(FTAs) di seluruh dunia sebagai respon atas kebuntuan perundingan di &lt;i style=""&gt;World Trade Organization &lt;/i&gt;(WTO). Pergerakan rejim ini juga merupakan tantangan baru dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Cambria;color:black;"   lang="SV"&gt;Globalisasi, yang dicirikan dengan makin terkisisnya batas-batas antar negara dan meningkatnya pergerakan barang, jasa, atau manusia dari satu negara ke negara lainnya, menjadi satu kata kunci atau &lt;i style=""&gt;buzzword &lt;/i&gt;dalam memahami hal ini. Pergerakan nilai yang menempatkan laut dan sumberdayanya dari ”common property” menjadi ”commodity” adalah salah satu hal yang melatarbelakangi dinamika rejim perikanan internasional .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Cambria;color:black;"   lang="SV"&gt;Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tiga hal. &lt;i style=""&gt;Pertama, &lt;/i&gt;bagaimanakah pengaturan di level internasional untuk sektor perikanan kelautan. &lt;i style=""&gt;Kedua, &lt;/i&gt;bagaimanakah perubahan nilai dalam rejim internasional terkait dengan globalisasi sebagai sistem internasional pasca-Perang Dingin. &lt;i style=""&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;bagaimanakah dampak kesepakatan-kesepakatan perikanan internasional yang muncul dalam periode 1995-2007 tersebut terhadap sektor perikanan di Indonesia, khususnya bagi nelayan kecil dan subsisten. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Cambria;color:black;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-2357497230843770892?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/2357497230843770892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=2357497230843770892' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2357497230843770892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2357497230843770892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/04/next-personal-research.html' title='The Next Personal Research ....'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/SDJ3reXoBkI/AAAAAAAAADE/tx9i31uTs4c/s72-c/fish.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-4740824549173861403</id><published>2008-03-10T11:42:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:48:10.526-08:00</updated><title type='text'>Mengatasi Perubahan Iklim dengan Liberalisasi Barang dan Jasa Lingkungan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R9WDSJCTodI/AAAAAAAAACs/EpJWcbBxrvk/s1600-h/global+warming.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R9WDSJCTodI/AAAAAAAAACs/EpJWcbBxrvk/s200/global+warming.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176187694418731474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan global telah dianggap sebagai ancaman nyata bagi kehidupan manusia. Protokol Kyoto untuk perubahan iklim menunjukkan cara dengan mengikat komitmen negara-negara maju yang meratifikasi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca minimal 5 persen dalam periode 2008 – 2012. Sedangkan AS, negara yang mengeluarkan emisi 36 persen dari total emisi tahun 1990, menolak untuk meratifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, AS punya cara sendiri dalam menangani pemanasan global, misalnya dengan menawarkan liberalisasi perdagangan produk ramah lingkungan. Menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali yang dimulai 3 Desember 2007, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) meluncurkan proposal bersama, yang menyarankan perlunya liberalisasi pada barang dan jasa lingkungan yang relevan dalam upaya mengatasi perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, proposal bersama dikritik keras oleh delegasi Brazil. Roberto Azevedo, salah seorang juru runding dari Brazil mengatakan proposal tersebut ‘sederhana, bias dan proteksionis’. Dia mengatakan “ apa yang tidak mereka (AS-UE) produksi, tidak terdapat dalam daftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azevedo menjelaskan mengapa, dia berpendapat proposal tersebut sederhana, karena cakupannya yang sangat terbatas. Sambil menunjukan bahwa produk-produk organic terdapat dalam daftar yang perlu mendapat keistimewaan karena diproduksi untuk tujuan lingkungan. Selain, produk-produk yang terdapat dalam daftar usulan AS-UE juga hanya memiliki sedikit dampak positif pada lingkungan. Karena itu menimbulkan pertanyaan mengenai niat yang sesungguhnya dari pengusul berkaitan dengan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Komisi Eropa, proposal tersebut terdiri atas dua bagian. Bagian pertama merupakan usulan untuk meliberalisasikan minimal 43 barang-barang yang ramah lingkungan. Beberapa produk yang masuk antara lain, panel surya, turbin angin dan produk yang berkaitan; kompor dengan panel surya, dan produk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk-produk usulan tersebut, diambil dari daftar yang disusun berdasarkan penelitian Bank Dunia. Dalam penelitiannya mengenai perdagangan dan perubahan iklim, Bank Dunia menyebutkan bahwa dengan menghilangkan penghalang tarif dan non tarif pada barang dengan teknologi kunci, dapat menaikkan volume perdagangan 7 – 14 persen per tahun. Penelitian juga menghasilkan kesimpulan, liberalisasi dalam teknologi yang ramah lingkungan juga akan memfasilitasi lebih banyak investasi dalam teknologi tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proposal bersama itu menawarkan pendekatan dua lapis (two tiers) dalam meliberalisasi barang dan jasa lingkungan. Produk yang diliberalisasi dalam lapis pertama adalah yang menurut Bank Dunia ditulis sebagai ’memiliki kaitan langsung dalam mengatasi perubahan iklim, dan memberikan manfaat lingkungan yang jelas’. Barang-barang tersebut termasuk &lt;i&gt;solar collectors; system controllers; wind turbines parts and components, hydrogen fuel cells.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut rilis tersebut, daftar yang dimasukkan dalam lapis pertama bukanlah daftar mati yang tidak bisa berubah. Tetapi hanya sebagai awal, daftar lain bisa ditambahkan oleh negara-negara anggota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk jasa lingkungan yang dimasukkan dalam lapis pertama, adalah jasa yang termasuk ‘memberikan kontribusi pada negara’ dalam mengatasi perubahan iklim seperti jasa pengendalian iklim dan polusi udara; jasa-jasa yang terkait dengan energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proposal menekankan pentingnya melakukan liberalisasi barang lingkungan dan jasa-jasa lingkungan secara paralel. Karena misalnya jasa merancang gedung ramah lingkungan, akan membutuhkan panel surya untuk pemanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan kedua, dari proses liberalisasi yang ditawarakan oleh proposal bersama AS – UE adalah keinginan adanya "Kesepakatan Barang dan Jasa Lingkungan atau Environmental Goods and Services Agreement." Ini akan mencakup minimal semua negara maju dan sekitar 30 an negara berkembang, untuk menerapkan formula penurunan tariff standar dalam negosiasi produk-produk industri. Tidak seperti dalam lapis pertama, negera-negara miskin dalam kelompok LDCs (least developed countries) dan negara berkembang lainnya akan dikecualikan dari menyusun komitmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakupan yang lebih luas dalam jenis barang lingkungan yang akan dicatat dalam liberalisasi di bawah usulan kesepakatan ini di dasarkan tas daftar yang disusun oleh kelompok ‘friends of the environmental group’, yang beranggotakan negara maju (lihat tulisan Perubahan Iklim dan Perundingan Perdagangan). Untuk produk-produk ini, proposal AS UE menyerukan negera-negara peserta untuk “menghilangkan tariff dan melakukan tindakan yang cukup untuk mengidentifikasi dan mengatasi hambatan non tariff ‘. Untuk lapis kedua ini, tidak disebutkan batas waktu yang spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam jasa-jasa yang disarankan dalam liberalisasi lapis kedua adalah seperangkat jasa yang berkaitan dengan lingkungan dan iklim secara luas, termasuk jasa energi; konstruksi, arsitektur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ringkasannya, proposal ini diusulkan untuk membuat perubahan substansial dan kongkrit dalam kontribusi untuk mendukung tujuan iklim nasional dan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Proposal kami didasarkan atas laporan Bank Dunia yang berjudul Perdagangan Internasional dan Perubahan Iklim: Ekonomi, Legal dan Perspektif Institusional atau International Trade and Climate Change: Economic, Legal, and Institutional Perspectives" demikian seperti dikutip dari rilis Komisi Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi negara-negara berkembang beragam. Mesir menekankan pentingnya perubahan iklim dan menyambut daftar produk dalam lapis pertama. Negara berkembang lainnya meminta klarifikasi berkaitan dengan cakupan dari barang dan jasa dalam lapis kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara berkembang memberikan tanggapan serius berkaitan dengan produk-produk yang ada dalam lapis kedua. Dikatakan bahwa daftar barang dan jasa yang disusulkan oleh kelompok ‘friends of environmental group’ merupakan produk ekspor yang menjadi kepentingan negara maju. Isu lain yang menjadi keprihatinan, adalah berkaitan dengan fungsi ganda atau ‘dual function’ yang diinginkan oleh negara-negara berkembang. Karena banyak produk yang selain memiliki fungsi lingkungan juga memiliki fungsi non lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar lainnya dari negara-negara berkembang, adalah bagaimana produk-produk tersebut dipilih. Beberapa negara lainnya mengkritisi konsep ‘one-size fits all atau satu cocok untuk semua’ dan mengatakan bahwa produk-produk tersebut lebih bertujuan untuk pembukaan akses pasar dibandingkan dengan perlindungan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik juga dari delegasi India, ketika Dutabesar Ujal Singh Bhatia menyebutkan bahwa proposal AS-UE sebagai ‘ uapaya terselubung untuk mendapatkan akses pasar dan tidak akan memenuhi mandat lingkungan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam kritiknya pada proposal AS-UE, Roberto Azevedo mengatakan proposal tersebut bias. Keprihatinan utama, karena daftar tersebut adalah daftar unilateral. Daftar tersebut menurut AS-UE meruakan hasil penelitian Bank Dunia. Tetapi menurut Brazil, Bank Dunia tidak melakukan apapun kecuali hanya menyederhanakan daftar yang telah disusun oleh para proponen liberalisasi barang dan jasa lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azevedo mengatakan bahwa proposal AS-UE juga mengabaikan barang yang tidak diproduksi di negaranya, sehingga proposal itu proteksionis. Brazil menyebut biofuel dan produk pertanian organic masih dikenakan tariff tinggi dan diterapkan penghalang non tariff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proposal tersebut, menurut Azevedo juga menafikkan subsidi dan dukungan yang diberikan oleh AS-UE pada produk lingkungan, yang tidak dimasukkan dalam daftar. Padahal, Azevedo mengatakan, subsidi akan mendistorsi perdagangan, menekan harga dan mengekspor kemiskinan ke negara berkembang. Proposal bersama tersebut juga cenderung menghalangi pengembangan teknologi ang bersih dan baru di negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya menurut azevedo, perundingan diarahkan pada apa yang telah dikenal sebagai ‘tiga keuntungan atau triple win’ yaitu hasil positif untuk perdagangan, lingkungan dan pembangunan. Namun nampaknya proposal AS-UE tersebut gagal ketiga-ketiganya. Untuk perdagangan, terbatas dan bias; untuk lingkungan, tidak ada dampak dan untuk pembangunan, bahkan tidak ada satu kata ‘pembangunan’ pun disebut. Jadi menurutnya, proposal ini bukan basis untuk perundingan produk-produk lingkungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-4740824549173861403?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/4740824549173861403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=4740824549173861403' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/4740824549173861403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/4740824549173861403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/03/mengatasi-perubahan-iklim-dengan.html' title='Mengatasi Perubahan Iklim dengan Liberalisasi Barang dan Jasa Lingkungan?'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R9WDSJCTodI/AAAAAAAAACs/EpJWcbBxrvk/s72-c/global+warming.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-8489385739108599934</id><published>2008-02-27T23:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T01:48:10.596-08:00</updated><title type='text'>Perkembangan terbaru di WTO : Manuver yang “Terpisah dan Mengatur” untuk Perundingan Doha WTO ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R8ZhJmbA1iI/AAAAAAAAACk/Svb5fJYpcs0/s1600-h/anti+wto.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R8ZhJmbA1iI/AAAAAAAAACk/Svb5fJYpcs0/s320/anti+wto.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171928039642158626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="SV" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Isu mengenai proses pengambilan keputusan di WTO kembali muncul dalam perundingan WTO ketika negara anggotaa meminta dikeluarkannnya serangkaian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;teks negosiasi yang baru untuk liberalisasi pertanian dan tarif industri di akhir bulan ini atau awal Februari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Delegasi mengkhawatirkan Direktur Jenderal Pascal Lamy mengeluarkan proses negosiasi dari tangan ketua kelompok negosiasi secara multilateral,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mengambil alih prosesnya dengan hanya melibatkan hanya sebagian kecil dari anggota negosiasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan terakhir yang terjadi di Genewa adalah bahwa Lamy dapat membawa teks baru ke dalam sebuah ruang yang tertutup atau disebut ”Green Room”. Green room merujuk pada negosiasi yang tertutup yang dilaksanakan di antara jumlah yang terbatas dari delegasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Ini akan menjadi ”proses horizontal” dari negosiasi ketika liberalisasi tarif pertanian dan industri dipertemukan bersama sehingga pertukarana dapat terjadi antara dua hal tersebut. Isu lain, terutama mengenai jasa, juga akan dibawa ke meja perundingan tertutup secara cepat – jika tidak pada waktu yang bersamaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Pertemuan makan siang secara terpisah telah dilakukan di Davos dalam Forum Ekonomi Dunia (&lt;i style=""&gt;World Economic Forum&lt;/i&gt;) pada tanggal 26 Januari 2008. Yang diundang hanyalah sebagian kecil dari menteri. Isu yang digulirkan dalam pertemuan itu adalah bagaimana memproses teks-teks yang telah direvisi tersebut hanya bagi para undangan makan siang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa rencana untuk mengadakan pertemuan &lt;i style=""&gt;mini-ministerial &lt;/i&gt;yang jaraknya tidak terlalu jauh. Ini diharapkan akan dilakukan pada bulan Februari. Tapi karena memang perundingan berjalan dengan lambat, beberapa pihak bahkan berspekulasi bahwa ini hanya akan terwujud di akhir bulan Maret. Salah satu perwakilan negara berkembang di Genewa mengatakan, “Kemajuan adalah satu hal yang harus dilakukan. Tapi kita membutuhkan beberapa perubahan pada beberapa titik (untuk menyimpulkan negosiasi), dan ini akan datang dari level politik, bukan berasal dari meja perundingan secara teknis.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mengimentari proses yang ada, delegasi negara berkembang lain mengatakan bahwa, “Lamy dan Uni Eropa, menginginkan untuk merumuskan teks yang telah direvisi dalam Green Room. Ini menjadi sangat berbahaya. Kita berpikir bahwa teks ini perlu dibawa lagi ke dalam diskusi dan jika perlu, akan ada revisi yang kedua.”  &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;”Jika kita mendengarkan suara mayoritas dalam perundingan, hal ini jelas bahwa dalam pertemuan Dewan Umum WTO di bulan Desember lalu menginginkan dalam pertemuan pertanian yang terbuka. Delegasi diminta untuk merundingkan bersama-sama teks yang direvisi dalam sebuah komite spesifik. Lamy, sebaliknya, menginginkan untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merubah proses horizontal secepatnya, “ kata Delegasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Beberapa utusan juga menambahkan, “ Lamy berpikir bahwa orang-orang teknis di Genewa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah menyelesaikan diskusinya. Dia tidak ingin lagi untuk mengadakan sesi khusus (sesi negosiasi mengenai isu-isu tertentu). Sebaliknya, kami tidal pernah berpikir bahwa diskusi telah selesai.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Delegasi yang tidak diundang ke dalam Green Room khawatir jika suara mereka dapat termajinalisasi jika negosiasi hanya dilakukan di Green Room. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seorang delegasi Afrika berkomentar bahwa, “ Ini adalah sebuah tradisi dalam WTO untuk menempatkan isu-isu krusial dalam sebuah proses yang tidak transparan dan tidak inklusif. Ini apa yang terjadi ketika mereka membuat sedikit seleksi delegasi, sekitar 30 delegasi atau lebih, untuk memutuskan isu-isu yang penting. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“Mereka terlihat ada dalam diskusi untuk meningkatkan teks tapi pada faktanya anggota yang lainnya hanya sebagai tempelan saja. Kita telah mengkomplain hal ini selama beberapa tahun mengenai kurangnya transparansi, mengenai pembiaran, mengenai pembagian dan peraturan mengenai deklarasi dari ketua (yang tidak merefleksikan secara jujur pandangan dari keanggotaan),” begitu delegasi menuturkan kepada IPS. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;”Banyak anggota yang telah memberikan suaranya. Jika kita melakukan proses yang salah ketika teks diluncurkan, maka keberlangsungan sistem perdagangan multilateral secara keseluruhan akan berbahaya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Meskipun beberapa perhatian seperti beberapa isu, tapi masih ada perbedaan yang cukup mendalam. Anggota masih jauh untuk mengkritisi AS agar bagaimana distorsi perdagangan yang dilakukan AS harus dihentikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Tidak ada perjanjian dalam “special product” di dalam perundingan pertanian untuk negara berkembang – apakah dan sejauh manakah produk-produk khusus tersebut akin dikeluarkan dalam pemotongan tariff. Pembahasan mengenai “Green Box” juga harus dituntaskan, karena jutaan dolar telah dihabiskan oleh AS dan Uni Eropa ketika kategori “Green Box” dilihat sebagai distorsi non-perdagangan dan oleh karenanya dilegalkan oleh WTO. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Dalam bulan-bulan terakhir ini tidak ada perubahan mengenai tingkat pemotongan tariff yang harus dilakukan untuk produk-produk industri. Sebagaimana dikatakan oleh delegasi bahwa, ”Kita telah benar-benar &lt;i style=""&gt;stuck &lt;/i&gt;dalam perundingan NAMA.” beberapa delegasi yang diwawancara mengatakan bahwa tidak ada perhatian untuk merubah pemotongan yang sangat dalam yang terefleksi di dalam teks negosiasi di bulan Juli 2007. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Beberapa hal kritis untuk negara berkembang, termasuk negara-negara Afrika mengatakan bahwa mereka satu sisi telah ditinggalkan. Tanda tanya terbesar untuk para negosiator adalah bagaimana Washington akan memutuskan hal ini. Sebuah informan mengatakan, ”Mereka seolah-olah tidak menekan untuk hal apapun.” Jika dalam perundingan NAMA AS dan Uni Eropa ditekan, maka demikan halnya dengan subsidi pertanian AS yang akan diperketat. Sehingga, sebenarnya, dua isu ini saling berkaitan.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seorang delegasi dari negara maju mengatakan bahwa dia tidal terlalu berharap perundingan akin membawa pada sebuah kesimpulan. ”Namun, kita masih melakukan negosiasi,” ungkapnya. ”Bahkan jika kita punya kesempatan untuk rehat sejenak (sampai pemilihan Presiden AS selesai digelar), kita tetap harus berhati-hati akan kemungkinan apa yang akan terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Jika teks yang dibuat saat ini digunakan sebagai dasar perundingan, mereka akan menjustifikasi apapun, termasuk mandat Doha. Jadi, kita melanjutkan untuk menjadi sangat berhati-hati karena kita dapat ditempatkan sebagai pihak yang kalah di masa depan,” demikian kata delegasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Delegasi Afrika menekankan perhatiannya kepada politik “inward-looking AS”, “Kebijakan mereka terlihat sangat berorientasi ke dalam, bahkan jika mereka berbicara soal negosiasi bilateral dan multilateral sekalipun. Mereka meletakkan kepentingan nasional di atas segalanya.” Mungkin tidak ada yang salah dengan hal itu, tetapi kita mempunyai komitmen untuk bertrnasformasi system perdagangan sehingga negara berkembang dapat melakukan perdagangan dan menumbuhkan industrinya secara lebih baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“Ini membutuhkan kebijakan-kebijakan yang tepat, termasuk untuk perilaku yang berbeda dan spesial. Yang terjadi di dalam WTO adalah tendensi untuk menyamaratakan kemampuan semua negara di level yang sama, seolah-olah setiap negara memiliki otot yang sama. Inilah masalah besar yang ada di WTO.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;span class="marron"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-family:Arial;"&gt;Aileen Kwa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="marrontitulobig"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-family:Arial;"&gt; , &lt;i style=""&gt;Trade:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-family:Arial;"&gt; &lt;span class="marrontitulobig"&gt;''Divide and Rule'' Manoeuvre Planned for WTO Doha Round?, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="marrontitulobig"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-family:Arial;"&gt;dipublikasikan oleh IPS. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-8489385739108599934?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/8489385739108599934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=8489385739108599934' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/8489385739108599934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/8489385739108599934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/02/perkembangan-terbaru-di-wto-manuver.html' title='Perkembangan terbaru di WTO : Manuver yang “Terpisah dan Mengatur” untuk Perundingan Doha WTO ?'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R8ZhJmbA1iI/AAAAAAAAACk/Svb5fJYpcs0/s72-c/anti+wto.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-2570228280284224853</id><published>2008-02-07T20:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T01:48:10.680-08:00</updated><title type='text'>Soeharto dan Banalitas Kejahatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6vdaZgRCFI/AAAAAAAAACQ/znT80SPsSW8/s1600-h/chain-of-violence.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6vdaZgRCFI/AAAAAAAAACQ/znT80SPsSW8/s200/chain-of-violence.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164464843302963282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pasca meninggalnya Soeharto, banyak hal yang bisa dikemukakan. Mulai dari mistisme seputar mantan orang nomor satu di Indonesia itu, protes beberapa kalangan karena tayangan televisi tentang Pak Harto yang berat sebelah, atau korupsi dan pelanggaran HAM yang terjadi semasa masa pemerintahannya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Banyak orang yang mengkritik Soeharto sebagai sosok yang bertangan dingin dalam soal penyingkiran musuh-musuh politiknya. Pasca keruntuhan Orde Lama, rezim Orde Lama ditumpas habis oleh Soeharto. Tak bersisa sedikit pun, bahkan konon Soekarno meninggal karena pengasingan dan perawatan yang tidak layak. Saya mencoba menelusuri benang yang mengkaitakan dengan alasan tindakan Soeharto dengan latar belakang kehidupannya. ”Teori” ini bukan berarti benar atau salah, tapi hanya melihat suatu keterkaitan yang mungkin bisa muncul dari pemikiran itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Soeharto adalah sosok yang tumbuh dewasa dalam suasana kemerdekaan 1945. Artinya, dia tumbuh dan mencandra realitas sosial-politik daam suasana ”perang”. Perang yang dihadapi saat itu adalah perang fisik dan teknologi juga belum secanggih sekarang. Ketika kecil pun, Soeharto sudah hidup di suasana ”perang”. Bahkan, Soeharto masuk KNIL untuk direkrut menjadi tentara. Perang kemerdekaan adalah sebuah perang konvensional yang mempunyai basis klaim atas teritorial, penduduk, dan pemerintahan atau menjadi &lt;i style=""&gt;raison d’etre, &lt;/i&gt;atau alasan berdirinya sebuah negara. Tentu perang semacam ini adalah perang yang hanya berorientasi kekuasaan (kemerdekaan) dengan cara apa pun. Menembak musuh, membom kandang lawan, dan lain-lain. Aktivitas yang semacam ini tentu hanya mengenal dua kategori ”manusia” : musuh atau lawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lain dengan latar belakang Soekarno yang besar dari institusi pendidikan. Bahkan di tahun-tahun pendirian republik ini Soekarno sudah lantang berbicara mengenai ide-ide kemanusiaan, perdamaian dunia, keadilan sosial dan cita-cita paling tinggi di republik ini : KEMERDEKAAN. Suatu hal yang cukup langka di tengah keterbatasan pendidikan saat itu dan kekacauan perang yang membuat orang tidak sempat lagi berpikir mengenai ide dan idealisme. Soekarno juga seorang ”diplomat” karena banyak bernegosiasi dengan Jepang dan Belanda dalam hal kemerdekaan Indonesia. Dalam negosiasi tentu tidak ada pembagian hitam dan putih; kawan dan lawan. Yang lawan bisa menggunakan bahasa-bahasa yang lebih terpelajar sehingga menjadi kawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;latar belakang militer 45 semacam ini, pengalaman empiris Soeharto menemukan bahwa membunuh adalah sesuatu yang sangat wajar untuk mencapai satu tujuan. Simaklah bagaimana pengalaman Soeharto memimpin Serangan Fajar di Yogyakarta. Keberhasilan tentara di Yogyakarta untuk mengenyahkan Sekutu memakan banyak korban jiwa dari pihak lawan maupun pribumi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hannah Arendt, seorang pemikir dari Jerman, pernah mengemukakan pemikiran mengenai banalitas kejahatan. Dalam buku klasiknya &lt;i style=""&gt;The Origins of Totalitarianism, &lt;/i&gt;Arendt mengatakan bahwa banalitas kejahatan adalah fenomena tindak kejahatan yang dilakukan dalam skala raksasa, yang tidak dapat ditelusuri pada kegilaan, patologi, atau keyakinan ideologi sang pelaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan demikian, banalitas kejahatan bukan suatu bentuk kejahatan yang biasa, tapi kejahatan yang dianggap biasa oleh sang pelaku yang dangkal dalam berpikir dan menilai. Kekerasan pemerintahan Jepang di Indonesia yang dialami Soeharto lewat KNIL dan PETA membuat Soeharto belajar bahwa membunuh adalah suatu hal yang biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan kekerasan ini menular. Apa yang dialami Soeharto dalam institusi militer diterapkan ketika ia berkuasa. Ribuan orang korban politik Orde Baru dienyahkan dan dipenjarakan tanpa melalui pengadilan. Tak tanggung-tanggung, Soeharto bahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyingkirkan orang kepercayaannya juga seperti LB Moerdani dan Ali Moertopo. Peristiwa Malari, Penembakan Misterius (Petrus) yang marak terjadi di tahun 1980-an juga membuat rakyat Indonesia hidup dalam suasana teror karena banyak yang ”salah tembak”, atau peristiwa Tanjung Priok, adalah beberapa kekerasan yang dilakukannya. Belum cukup, rantai kekerasan juga seperti meruak ke masyarakat. Ternyata tidak hanya militer yang mempunyai pengalaman terhadap kekerasan, tapi ternyata masyarakat sipil juga terlibat dalam kekerasan, seperti yang dipertontonkan dalam Kerusuhan Ambon, Poso, pemboman JW Marriot, Bali,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau pengrusakan massal di kampung halaman saya, Solo, ketika Orde Baru tumbang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada satu buku yang menjelaskan bahwa kekerasan itu lahir dari individu yang telah direkrut oleh ideologi. Individu yang tumbuh dan belajar dari sebuah ideologi, entah ideologi keagamaan yang ekstrim, atau ideologi negara, adalah individu yang mudah melahirkan kekerasan. Pemboman JW Marriot atau Bali menunjukkan bahwa pelaku mengalami &lt;i style=""&gt;delusion of grandeur. &lt;/i&gt;Ada sebuah cita-cita atau utopia yang ingin dilahirkan dari sebuah ideologi, namun cara-cara untuk mencapai utopia itu bertentangan dengan kemanusiaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya – dan generasi muda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saat ini- lahir dari sebuah kondisi ”damai” yang tidak lagi mengenal kekerasan fisik lewat perang revolusi. Kondisi ”perang” yang saya saksikan mungkin hanya lewat kotak televisi atau kepingan VCD atau DVD. Saya lahir setelah aktivis HAM dunia memasuki fase ketiga HAM, yakni hak untuk pembangunan. Bahkan, globalisasi sudah meruyak ke permukaan lewat kecanggihan teknologi dan ekspansi ekonomi. Nilai-nilai kemanusiaan sepertinya sudah menjadi nilai universal yang dipelajari generasi muda lewat internet, koran, atau media-media lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Namun, kata Soe Hok Gie, ”happy is the people without history”. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tanpa belajar sejarah kelamnya kekerasan Orde Baru, kita tidak pernah tahu kapan isyarat atau pertanda akan bangkitnya rantai kekerasan itu diwariskan kembali, mungkin di belahan dunia lain. Myanmar, Pakistan, atau Sudan masih menanti kedamaian. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-2570228280284224853?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/2570228280284224853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=2570228280284224853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2570228280284224853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/2570228280284224853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/02/soeharto-dan-banalitas-kejahatan.html' title='Soeharto dan Banalitas Kejahatan'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6vdaZgRCFI/AAAAAAAAACQ/znT80SPsSW8/s72-c/chain-of-violence.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-7940341378762793537</id><published>2008-02-04T21:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T01:48:10.860-08:00</updated><title type='text'>Einstein, Nietzsche, dan Waktu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6f3DJgRCCI/AAAAAAAAABo/dcfs8xADscw/s1600-h/Majestic_Lighthouse.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6f3DJgRCCI/AAAAAAAAABo/dcfs8xADscw/s200/Majestic_Lighthouse.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163367131266484258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Time is the One Essential Mystery...&lt;br /&gt;-         Jorge Luis Borges&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Borges memang tidak familiar bagi saya. Yang saya tahu, ia cuma penulis asal Argentina yang seangkatan dengan Milan Kundera, novelis kondang asal Ceko itu. Namun quote Borges di atas menginspirasikan pada beberapa hal, misalnya menyibak teori relativitas Einstein. Dalil utama Einstein mengenai relativitas waktu, bila ditelisik lebih jauh menyiratkan makna bahwa waktu itu bukan sesuatu yang linier, waktu itu siklikal atau berulang. Ini jadi mengingatkan saya pada konsep waktu a la orang India yang memang benar-benar relatif. Jam tiga sore tidak dimaknai sama bagi setiap orang. Pemaknaan yang sangat humanis? Mungkin. Logika ini mungkin sangat bertabrakan antara sains yang kaku dan pasti serta humaniora yang relatif. Namun, Einstein pun pasti tidak asal-asalan menciptakan teori tentang waktu. Sembilan puluh sembilan kali ia melakukan eksperimen sehingga menghasilkan rumus e=mc2.&lt;br /&gt;Dengan pemaknaan relativitas waktu ini, tak aneh jika pemikiran postmodern Nietzche bisa masuk ke dalamnya. Sekadar mengingatkan, ketidaklinieran waktu hampir sama dengan ketidaklinieran ilmu pengetahuan khas posmo. Ketidaklinieran waktu ini juga membuat adanya sesuatu yang dapat balik, atau reinkarnasi. Tidak ada sesuatu yang abadi, karena sesuatu itu terlahir berulang. Musik misalnya. Tak ada satu bentuk orisinalitas tertentu yang lahir dari periode ke periode. Transformasi dari classic metal, heavy metal-nya Sepultura dan Metallica, kemudian beranjak ke hip metal pada akhir 1990-an, bukan menunjukkan kalau karya-karya Korn atau Slipknot adalah karya yang benar-benar baru dan tak terbantahkan orisinalitasnya. Mengutip Indra Lesmana, musik, menurut dia hanya perpaduan antara satu nada ke nada berikutnya sehingga tidak menutup kemungkinan bakal terjadi pengulangan.&lt;br /&gt;Pemikiran tentang relativitas waktu ini mengusik saya melihat kembali hukum Newton yang diajarkan di bangku SMU dulu: tidak ada energi yang dapat diciptakan atau dimusnahkan, yang ada energi itu hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Hey, bukankah ini hampir mirip dengan pemikiran Einstein tentang relativitas? Segala sesuatu tidak lenyap, namun menghablur dalam ruang dan waktu. Wah, sebuah eternal return? Akan ada kekekalan sebagaimana hukum kekekalan energi? Ini berarti, dalam tahap yang paling ekstrim mungkin, meniscayakan adanya reinkarnasi. Yup, reinkarnasi yang berarti dapat baliknya ruh seseorang ke dunia ini. Lagi-lagi alam pikir saya begitu kecil, pertanyaan-pertanyaan tentang reinkarnasi ini mendekati batas nalar saya.&lt;br /&gt;Namun setidaknya dari hal itu, ternyata waktu tak sekadar dimaknai sebagai jam dinding merk Seiko yang berdentang di ruang tamu. Atau tak hanya diartikan sebagai pembatas antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lainnya. Waktu, dalam semangat Einstein dan Nietzche, bisa berarti banyak hal. Tidak ada justifikasi waktu dari seorang pengamat yang independen, begitu kata Einstein. Secara simpel, dalam dunia nyata, adanya waktu yang tidak bisa dipastikan ini, terlihat misalnya ketika kita hendak berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dua kondisi yang berbeda bisa membuat waktu yang ditempuh berbeda, walaupun secara matematik jarak antara dua tempat itu sama. Berjalan bersama teman dan mengobrol di jalan membuat waktu tempuh menjadi singkat. Lain halnya jika kita menempuh perjalanan itu sendirian. Beda ‘kan?&lt;br /&gt;Lantas, kearifan apa yang bisa kita ambil dari pemikiran Kang Einstein ini? Paul Tillich, seorang filsuf dan teolog, melukiskannya seperti ini: Time is our destiny. Time is our despair, and time is the mirror in which we see eternity. Jika disambungkan ke logika Nietzschenian waktu bukanlah topeng kehidupan. Waktu bukanlah simbol yang meraja di dunia simbol ini. Waktu adalah sebuah esensi. Waktu juga bukanlah jaminan absolut, ia adalah sesuatu yang relatif. Mungkin kita bisa berkaca pada waktu: sebuah keabadian yang tak terjamah.&lt;br /&gt;Francis Fukuyama bisa saja berkata, “Inilah akhir dari sejarah manusia: kemenangan demokrasi liberal dan kapitalisme”. Namun, sejatinya waktu jualah yang menjawab apakah hegemoni AS dapat terus bertahan atau justru menipis seiring dengan resistensi dari kelompok pinggiran. Kita bisa “bohong” pada orang-orang dengan menyiasati fisik yang mulai menua, namun waktu tidak berbohong untuk mengatakan berapa usia kita. Kita bisa tertawa dalam pembangunan berwajah kapitalisme, namun time will tell, kerusakan atau dampak apa yang akan ditimbulkan di kemudian hari.&lt;br /&gt;Menyaksikan waktu sebagai sebuah tujuan akhir memang sangat menarik. Kita ditempatkan seperti Nostradamus atau Jayabaya, futurolog yang bisa meramal masa depan. Yang jelas, akan banyak sekali prediksi-prediksi dari berbagai sudut pandang mengenai dunia ini. Namun, tanpa harus ikut meramal, kita sudah bisa asyik melihat tren dari waktu ke waktu yang terus menggeliat; entah itu tren pemikiran, musik, gaya hidup, yang terus dimodifikasi. Terus berputar dan ber-reinkarnasi. Sampai waktu benar-benar berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;Paul Halpern, Time Journey: A Search for Cosmic Destiny and Meaning, New York: Mc Graw Hill, 1990&lt;br /&gt;Time and Man, Oxford: Pergamon Press, 1978&lt;br /&gt;Paul Davies, About Time: Einstein Unfinished Revolution, New York: Touchstone Book, 1995&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-7940341378762793537?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/7940341378762793537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=7940341378762793537' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7940341378762793537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7940341378762793537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/02/einstein-nietzsche-dan-waktu.html' title='Einstein, Nietzsche, dan Waktu'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6f3DJgRCCI/AAAAAAAAABo/dcfs8xADscw/s72-c/Majestic_Lighthouse.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-7132096632227604407</id><published>2008-02-04T00:47:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T01:48:11.022-08:00</updated><title type='text'>Sesaat Ketika Kota Telah Mati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6bR0pgRB-I/AAAAAAAAABI/a1Vy0QBKRBY/s1600-h/kota+mati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6bR0pgRB-I/AAAAAAAAABI/a1Vy0QBKRBY/s320/kota+mati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163044725251442658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesaat ketika kota telah mati. Hanya lampu jalanan yang bersinar redup menemani penjual nasi goreng di pinggir jalan. Sesekali lampu-lampu penerang toko yang dibiarkan menyala membuat warna kota menjadi beragam; merah, biru, kuning, bahkan hijau. Namun, di seberang jalan, masih kudengar sayup-sayup deru mesin pembangun gedung berputar mengaduk semen dan material lainnya. Terus mengaduk di gulita hari karena dipacu waktu yang tak telah disepakati dalam selembar kertas perjanjian; seolah tak mau berkompromi.&lt;br /&gt;Sesaat ketika kota telah mati. Tak kudengar bunyi berisik penanda kehidupan. Tak pula terdengar bunyi jangkrik seperti tertulis dalam dongeng tentang indahnya kehidupan desa. Saat itu semua hilang; berbaur dengan keremangan pikir yang liar. Mata masih belum mau terpejam; meski hati sudah telelap, terlena oleh kematian kota. Dan sesaat ketika kotaku telah mati tak lagi kucium wangi perempuan, yang kucium hanyalah wangi shampo dari ujung rambutku sendiri. Tak kulihat rangkaian kata-kata sahabatku, yang meluncur, melesat, menukik, atau kadang berhenti di tengah terpaan zaman. Tak kuendus kampusku yang selalu ramai dan membawa cerita tersendiri.&lt;br /&gt;Waktu seolah berjalan lambat di malam hari. Saat itu, waktu tak banyak berarti. Ia hanyalah sekumpulan detik, menit, dan jam, yang bercampur dengan aroma kelelahan manusia ibukota. Tak banyak yang bisa dilakukan. Oleh karenanya, itulah yang selalu dijelaskan ibu mengapa ketika kecil aku dibiasakan tidur di malam hari, dan bangun di kala subuh. Tuhan juga tak memperdengarkan seruan-Nya di malam gulita, baru esok subuhnya kudengar lagi lewat pancang pengeras suara di masjid. Malam melahirkan kesepian bagi manusia-manusia yang mencoba terbangun.&lt;br /&gt;Lalu apa yang bisa dipetik dari sebuah malam? Kesepian, ketakbergunaan, atau kesuraman? Sesaat aku mengamati alur rel kereta api yang ada di stasiun, tak jauh dari tempat tinggalku. Biasanya, di pagi, siang dan sore hari, rel ini tak pernah berhenti digilas ribuan manusia yang berkumpul dalam gerbong panas tujuan Jakarta-Bogor. Lalu di malam ini, rel itu hanya terbujur dingin, tak terjamah roda-roda kereta api. Waktu telah melingkar dalam diri manusia; mencengkeram kokoh, hingga manusia berlari seperti dikejar waktu. Tak heran jika di tiap pagi, siang, dan sore mereka berpacu mengejar kereta api. Namun, di malam hari seolah kesibukan itu lenyap.&lt;br /&gt;Waktu terus bergerak, mengikat manusia, menjadikan manusia budak waktu. Namun, ternyata di malam hari ini kutemukan kesan lain. Justru waktu di malam hari yang akan mebebaskan manusia. Malam hari membebaskan manusia dari ketakutan tidak bisa mengejar kereta untuk pergi ke kampus seperti waktu perkuliahan yang telah ditetapkan. Malam hari membebaskan manusia dari kecemasan untuk ingin segera pulang memeluk anggota keluarga. Malam hari membebaskan manusia dari kejaran deadline tugas yang menjemukan.&lt;br /&gt;           Ya, di malam hari kita bisa mengungkapkan dan berekspresi tanpa terjamah waktu. Seolah takkan berakhir.&lt;br /&gt;Sesaat ketika kota telah mati. Aku menemukan kedamaian dalam kesepian. Aku menemukan waktu-waktu yang perawan, bergerak leluasa tanpa dicampuri kegelisahan peradaban. Mungkin itu pula yang melanda orang-orang di sekelilingku yang telah terpekur dalam pelukan guling. Mereka damai setelah seharian diintervensi waktu. Sesaat ketika kota telah mati. Hawa malam kini bisa membebaskan dirinya, dari partikel-partikel pekat yang mengandung karbon. Hawa malam berhembus tenang, seperti ia menghempaskan daun-daun dengan sangat perlahan. Tak ada lagi intervensi waktu yang rumit arahan modernitas.&lt;br /&gt;           Night will set you free. Ya ‘kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;margonda, dua puluh satu april dini hari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-7132096632227604407?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/7132096632227604407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=7132096632227604407' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7132096632227604407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/7132096632227604407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/02/sesaat-ketika-kota-telah-mati.html' title='Sesaat Ketika Kota Telah Mati'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6bR0pgRB-I/AAAAAAAAABI/a1Vy0QBKRBY/s72-c/kota+mati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-5522548965421369989</id><published>2008-02-04T00:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T01:48:11.128-08:00</updated><title type='text'>Solo, Persimpangan antara Kota Tua dan Budaya Urban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6bNJZgRB9I/AAAAAAAAABA/fnnaEUPrsRQ/s1600-h/solo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6bNJZgRB9I/AAAAAAAAABA/fnnaEUPrsRQ/s320/solo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163039584175589330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke salah satu pusat kebudayaan Jawa ini dimulai dari Kampung Laweyan. Laweyan adalah kampung pengrajin batik di kota Solo. Kampung yang dahulu merupakan markas Sarekat Dagang Islam (SDI), saat ini menjadi salah satu tujuan wisata turis. Tak ada yang telalu istimewa ketika kita melintas ke dalamnya, hanya terlihat nuansa kota tua lengkap dengan rumah-rumah berarsitektur kuno. Namun coba tengoklah Ndalem Tjokrosumartan, salah satu rumah termegah di kawasan tersebut. Ndalem Tjokrosumartan merupakan cermin luhurnya kebudayaan Jawa: arsitektur keraton, halaman depan yang luas nan asri, serta &lt;em&gt;regol&lt;/em&gt; mewah yang menjadi gerbang depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Seiring waktu, wajah kota ini pun berganti seiring bertambahnya usia. Dulu, remaja Solo  gemar menyantap &lt;em&gt;jadah&lt;/em&gt; bakar dan pisang &lt;em&gt;owol&lt;/em&gt; di emperan Jalan Slamet Riyadi. Namun, belakangan jajanan kesayangan itu menghilang akibat pembangunan mal dan beberapa pertokoan di kawasan tersebut. Begitu pula dengan Jagung Bakar Kantor Pos yang menjadi tempat nongkrong anak muda kota Solo. Warung jagung manis kini telah disulap menjadi gedung perkantoran berlantai enam. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hutan mal, begitu Harian &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; menyebutnya, adalah sosok kota Solo saat ini. Setidaknya ada enam mal yang berdiri di kota yang hanya mempunyai luas sekitar sembilan puluh kilometer persegi. Goro Assalam, Megaland, Solo Grand Mall, Solo Square, Makro Tipes, dan Plaza Singosaren adalah pusat perbelanjaan yang siap menyerbu warga dengan fantasi kebudayaan urban. Jumlah itu belum ditambah dengan &lt;em&gt;supermarket&lt;/em&gt; yang tersebar di berbagai sudut kota. Oleh karenanya, tak susah untuk mencari tempat nongkrong anak muda Solo saat ini. Tinggal arahkan kendaraan Anda di salah satu mal, dan pesanlah makanan di gerai &lt;em&gt;fast food &lt;/em&gt;terkemuka. Ya, Anda pasti akan bertemu dengan gerombolan anak SMU atau mahasiswa yang menghabiskan waktu di situ. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah perjalanan penulis berikutnya ke salah salah satu sudut mal di kota Solo. Plaza Singosaren, demikian bangunan itu disebut, memang memiliki perpaduan antara unsur modern dan tradisional. Pintu utama mal tersebut berupa pendopo yang berarsitektur Jawa. Atap dan tiangnya dipenuhi dengan ukir-ukiran batik &lt;em&gt;parang&lt;/em&gt; yang terbuat dari kayu jati. Namun ketika melangkah jauh ke dalam, rasanya tak jauh berbeda dengan mal di kota-kota besar lainnya. Bahkan, sulit membedakan antara remaja kota Solo dengan Jakarta atau kota besar lainnya. Semua seragam; berpakaian dengan gaya yang mirip. Ketika Radio Prambors Solo mengadakan acara off-air di mal tersebut, pembawa acara dengan santai menggunakan kata panggil “&lt;em&gt;lo&lt;/em&gt;” dan “&lt;em&gt;gue&lt;/em&gt;” seolah sedang berada di Depok atau Jakarta saja.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perjalanan menelusuri kegetiran budaya Mataram berlanjut ke Pasar Gede. Pasar Gede adalah peninggalan Paku Buwono X yang dibangun pada tahun 1930 oleh arsitek Thomas Karsten. Bangunan ini menjadi tetenger (penanda) kota, karena letaknya di jantung kota Solo. Di depan pasar Gede, terdapat jam yang dipasang kokoh sebagai penunjuk nol kilometer kota Solo. Pasar Gede merupakan simbol multikultural kota Bengawan. Kawasan ini merupakan pecinan, atau tempat warga beretnis Cina menjajakan dagangannya. Terdiri dari dua bangunan utama, di kanan kiri bangunan tersebut terdapat sentuhan ornamen Cina. Di belakang pasar ini, terdapat kawasan Pasar Kliwon yang banyak ditempati oleh warga beretnis Arab. Bentuk fisik pasar memang tidak terlihat di daerah ini meski dinamai Pasar Kliwon. Kedua daerah ini, Pasar Gede dan Pasar Kliwon, menyangga Keraton Kasunanan Surakarta yang terletak bersebelahan dengan kedua “pasar” ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bangunan-bangunan di Pasar Kliwon dan Pasar Gede banyak yang bercorak Jawa, Eropa, Indis, Portugis, hingga Timur Tengah. Sayangnya, bangunan tua itu tidak terawat dengan baik. Pemerintah daerah lebih memilih merawat dan membangun pusat perbelanjaan yang bertebaran di kawasan itu: Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng, dan ruko-ruko kecil. Saat ini PGS menjadi tempat belanja batik terkemuka bagi pelancong. PGS sekaligus menyatukan tiga kawasan pasar, yakni Pasar Gede, Pasar Klewer, dan Pasar Kliwon. Beteng, salah satu bangunan keraton yang menjadi tempat pertahanan kerajaan, kini beralih fungsi menjadi bangunan pertokoan. Bentuk fisik benteng sudah tidak terlihat secara nyata. Hanya kalau jeli, dua pintu gerbang masuk Beteng menyisakan bukti kejayaan kerajaan di masa lampau. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perjalanan ke kota Solo dilanjutkan ke tepi Sungai Bengawan. Dalam syair lagunya, Gesang menggambarkan Bengawan Solo sebagai sungai yang berair jernih dan nyaman untuk beristirahat. Namun sekarang, air Sungai Bengawan berwarna coklat pekat. Air sering tercemar limbah perusahaan tekstil yang terletak di radius tiga kilometer dari Sungai Bengawan. Duduk di tepian Sungai Bengawan, sambil menikmati es kelapa dan semilir angin, kini tidak seasyik syair legendaris Bengawan Solo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sebelah Sungai Bengawan terdapat Taman Satwa Taru Jurug yang juga peninggalan budaya Mataram. Jurug merupakan implementasi dari konsep&lt;em&gt; kutaraja&lt;/em&gt; atau istana raja sejak awal berdirinya kota Solo pada tahun 1745. Sekarang, tak hanya satwa-satwa yang tak terawat, kebun binatang dan taman kota ini juga digerus oleh kejahatan kerah putih bernama korupsi. Sejak berhembus isu korupsi dana pemeliharaan Jurug oleh pemerintah daerah, Kebun Jurug menjadi pusat perhatian publik, baik di pusat maupun daerah. Wajah Kebun Jurug kini makin pasi, satwa-satwa yang ada di dalamnya kurus dan tidak terawat. Sistem sanitasinya pun tidak terpelihara dengan baik. Ini terlihat dari lumut mengerak yang menghiasi bibir selokan penghubung satu kandang dengan kandang lain. Sarana lain yang dibangun untuk merenovasi sisa bangunan lama juga tampak lapuk. Tempat peristirahatan raja itu, ironisnya, bukan rusak karena warga kota yang enggan mengunjunginya, tetapi karena koruptor yang mengambil uang jatah makan macan dan siamang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perjalanan terakhir kota Solo adalah makan malam di kawasan Kerten. Di daerah ini, pedagang menjual aneka penganan tradisional di malam hari. Salah satu yang menjadi kekhasan kota Solo adalah&lt;em&gt; hik&lt;/em&gt;, yang sering disebut “hidangan istimewa kampung”. Penjaja hik biasanya membawa gerobak dan menyajikan hangat-hangat beraneka jajanan pasar dan &lt;em&gt;sego kucing&lt;/em&gt;. Di depan &lt;em&gt;hik&lt;/em&gt; yang berjejer di sepanjang Jalan Moewardi, terdapat Gereja Kerten. Gereja Kerten juga menjadi salah satu peninggalan sejarah di Kota Solo. Gereja ini dahulu adalah bekas gereja Belanda yang menyatu dengan kompleks perumahan pemerintah kolonial Belanda. Kompleks perumahan ini sekarang berganti fungsi menjadi kediaman mantan presiden Soeharto, yakni Ndalem Kalitan. Ndalem Kalitan juga merupakan salah satu representasi budaya Jawa kuno yang saat ini masih terpelihara dengan baik. Gereja Kerten dan kompleks yang ada di dalamnya tampak bersatu dengan jajaran &lt;em&gt;factory outlet&lt;/em&gt; yang ada di depannya. Jika siang hari, kawasan Kerten dilewati kereta mini Solo-Wonogiri yang lagi-lagi, perlintasannya merupakan peninggalan Belanda. Karena mengikuti kontur sejarah, rel kereta api sepanjang Purwosari–Kerten–Jalan Slamet Riyadi dibiarkan terbuka tanpa dilengkapi palang pengaman. Rasanya daerah ini merupakan salah satu persimpangan antara keluhuran budaya Solo dan budaya urban yang ditandai dengan kehadiran mal dan jajaran &lt;em&gt;factory outlet.&lt;/em&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jikalau menelusuri Gereja Kerten ke arah barat di waktu malam, maka akan terlihat billboard besar yang berkelip indah di langit. &lt;em&gt;Billboard&lt;/em&gt; itu memajang kata-kata promosi: “Solo Kota Budaya”, seolah ingin mengukuhkan jati diri kota ini sebagai cagar kebudayaan nasional. Seiring dengan arus modernitas, Solo tak hanya menjadi kota budaya. Kota yang dilanda kerusuhan hebat pada Mei 1998 ini telah berkembang menjadi persimpangan antara kota tua dan budaya urban. Mungkin hal tersebut tidak saja dialami oleh kota yang berpenduduk 600 ribu jiwa ini, tetapi setali tiga uang dengan kondisi kota-kota lain di Indonesia. Budaya urban rupanya telah menjalari berbagai tempat di mana khazanah kebudayaan bangsa bermukim. Selamat datang di ranah globalisasi budaya urban!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-5522548965421369989?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/5522548965421369989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=5522548965421369989' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/5522548965421369989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/5522548965421369989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/02/solo-persimpangan-antara-kota-tua-dan.html' title='Solo, Persimpangan antara Kota Tua dan Budaya Urban'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6bNJZgRB9I/AAAAAAAAABA/fnnaEUPrsRQ/s72-c/solo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-3872485648040825874</id><published>2008-02-01T20:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T01:48:11.256-08:00</updated><title type='text'>Kedamaian Ekologis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6P-UJgRB7I/AAAAAAAAAAw/LiAGMIUbWec/s1600-h/TreeOfHeaven.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6P-UJgRB7I/AAAAAAAAAAw/LiAGMIUbWec/s200/TreeOfHeaven.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162249219998812082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal; font-family: verdana;" align="right"&gt;&lt;strong&gt;”Manusia itu egosentris; ia berpikir bahwa ”diri” adalah ”aku”, lalu membedakan dirinya dari orang lain, dan membedakan dirinya dengan orang lain, sehingga ia sengsara. Sebenarnya, manusia adalah satu dari unsur-unsur keagungan alam. ” - Zen&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Laporan &lt;em&gt;The State of World 2007&lt;/em&gt; dari &lt;em&gt;UN Environmental Programme&lt;/em&gt; (UNEP) menunjukkan angka-angka yang kurang menggembirakan. Antara 10 dan 20 persen spesies diperkirakan akan punah pada 20 atau 50 tahun. Berdasarkan kecenderungan tersebut, diperkirakan 34.000 tanaman dan 5.200 spesies hewan akan mengalami kepunahan. 60% terumbu karang dunia juga diperkirakan akan lenyap. Angka yang ”pesimistis” ini berbanding terbalik dengan angka volume perdagangan dunia yang kian meningkat. Dari laporan World Trade Organization (WTO), perdagangan meningkat dari tahun ke tahun, meskipun perundingan Putaran Doha di WTO mengalami kemacetan. Perdagangan bisa lantas ”secara alami” berpindah ke cara-cara perdagangan yang lain; dari WTO ke kesepakatan perdagangan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;bebas bilateral (BFTAs); yang memungkinkan ego manusia sebagai &lt;em&gt;homo economicus &lt;/em&gt;terwujud. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Gesekan antara perdagangan dan lingkungan hidup sudah terlihat sejak laporan &lt;em&gt;Club of Rome, &lt;/em&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Limits to Growth, &lt;/em&gt;diluncurkan pada tahun 1973. Dari konperensi satu ke konperensi berikutnya, gesekan itu makin mengemuka hingga lahirlah konsep ”sustainable development” pada Konperensi Bumi Rio pada tahun 1992. Sayangnya, konsep ini masih sangat konseptual dan kurang implementatif. Hukum-hukum lingkungan internasional yang bersifat &lt;em&gt;non-legal binding&lt;/em&gt; juga mengakibatkan kurang efektifnya rejim lingkungan internasional. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan rejim perdagangan internasional yang bersifat &lt;em&gt;legally binding&lt;/em&gt;. Namun, apa yang bisa diharapkan dari rejim perdagangan internasional ? Karakter proliferasi perdagangan (bukan pada pengaturan untuk membatasi perdagangan) membuat rejim yang mengikat ini makin efektif dalam menggerus aspek lingkungan hidup dalam perdagangan internasional. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Namun, karakter hijau dalam WTO bukan semata dilihat sebagai aturan yang bisa meminimalisir dampak negatif perdagangan. Karakter hijau di WTO, misalnya penerapan standar lingkungan (ingat kasus penyu-tuna AS-Meksiko, atau perusakan terumbu karang dalam penangkapan ikan), adalah klaim negara maju yang menghalangi ekspor dari negara berkembang (&lt;em&gt;non-tariff barier&lt;/em&gt;). Jika berbicara karakter hijau, maka seharusnya berbicara pula mengenai kekuatan pasar atau kekuatan &lt;em&gt;demand-supply &lt;/em&gt;yang datang dari negara maju dalam mengeruk lingkungan hidup. Artinya, klaim ”perusak lingkungan hidup” tidak hanya ditujukan kepada negara berkembang yang mendapatkan bahan-bahan ekstraktif dengan metode yang merusak lingkungan, namun juga permintaan dari negara lain untuk industrialisasi atau konsumsi di negara pengimpor tersebut, atau kehadiran perusahaan multinasional yang memperkenalkan metode yang merusak itu. Contoh yang paling nyata adalah deforestasi hutan Amazon di Brazil yang salah satunya disebabkan oleh industri sapi di Brazil, namun juga terkait dengan permintaan daging sapi di Amerika Serikat. Hingga akhirnya, dapat dilihat bahwa sebenarnya permasalahan lingkungan hidup tidak dilihat secara &lt;em&gt;an sich &lt;/em&gt;perusakan lingkungan di suatu wilayah, namun juga turut dipengaruhi oleh karakter kompleksitas globalisasi.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Satu variabel penting yang juga membuat globalisasi makin kompleks adalah makin langkanya dan makin terbatasnya sumberdaya alam.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Michael T. Klare dalam buku &lt;em&gt;Resources War &lt;/em&gt;menyebutkan bahwa semakin langkanya sumberdaya membuat konflik antarnegara dipicu oleh perebutan sumberdaya alam. Oleh karena itu, dalam upaya mempertahankan sumberdaya yang terbatas itu perlu dilakukan upaya kerjasama mengelola sumberdaya tak terbaharukan. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Perdamaian Dunia melalui Gerakan Lingkungan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Ahli hubungan internasional (Lihat misalnya Joseph S. Nye,Jr, Morgenthau, Starr&amp;amp;Russet,Viotti&amp;amp;Kauppi) menggariskan bawa karakter hubungan antar bangsa adalah ”anarki” atau tidak terdapatnya satu kekuasaan sentral yang dapat mengatur antar satu negara dengan negara lainnya, sehingga dengan adanya kekuasaan sentral tersebut negara-negara di dunia harus memberikan sedikit kedaulatannya kepada institusi / kekuasaan tersebut. Kalangan konstruktivis mendebatnya dengan menyatakan bahwa anarki adalah sebuah konstruksi yang dibuat oleh negara / dunia internasional sebagaimana dinyatakan Alexander Wendt dalam ”Anarchy is What States Make of It” (&lt;em&gt;International Organization, &lt;/em&gt;1992). Jika melihat pola pandang Wendt ini sebenarnya mencerminkan optimisme bahwa keadaan anarki itu bisa diatasi, misalnya dengan membentuk institusi yang efektif. Pada tahap lanjutan, berbeda dengan kalangan liberalis Wilsonian yang juga melihat perlunya kerjasama internasional dalam hubungan internasional, kaum konstruktivis melihat perlunya pergeseran tata ”nilai” dan ”persepsi” negara (dan pembuat kebijakan di negara tersebut) misalnya dalam hal &lt;em&gt;insecurity. &lt;/em&gt;Pandangan pembuat kebijakan yang masih sama mengenai ketidakamanan, sekuritisasi, &lt;em&gt;xenophobia&lt;/em&gt; tertentu, anti-&lt;em&gt;Jewish&lt;/em&gt;, dan lain-lain, membuat kerjasama internasional itu tidak akan efektif. Persepsi dan nilai ketidakamanan (termasuk di dalamnya kepentingan nasional) yang konvensional membuat karakter anarki terus bercokol, dan oleh karena persepsi ketidakamanan tersebut akan terus membuat hubungan internasional berkarakter &lt;em&gt;security-complex. &lt;/em&gt;Oleh karena itu, inilah kritik yang diberikan oleh pendekatan konstruktivis terhadap kaum liberal Wilsonian.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Pandangan berbeda datang dari pandangan strukturalis yang lebih melihat karakter konflik antara &lt;em&gt;core &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;periphery &lt;/em&gt;dalam hubungan internasonal. Akan tetapi pendekatan itu untuk sementara dikesampingkan terlebih dahulu (namun tidak berarti ditinggalkan), karena tujuan dari tulisan ini adalah mengarah ke : bagaimana dapat mencapai perdamaian dunia dengan daya dukung bumi yang makin menurun dan sumberdaya yang makin terbatas ?&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Tulisan ini mengakui adanya konflik atau tekanan antar negara dalam&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;memanfaatkan sumberdaya, namun yang akan dicari jalan keluarnya adalah bagaimana semua elemen manusia di bumi dapat hidup berdampingan tanpa harus terlibat konflik perebutan sumberdaya. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;&lt;em&gt;How to mitigate the anarchy ? &lt;/em&gt;adalah pertanyaan yang paling relevan dalam menjembatani dua pandangan yang berbeda mengenai konsep ”anarki” yang telah terberi (&lt;em&gt;taken for granted&lt;/em&gt;), dan konsep ”anarki” sebagai konstruksi sosial. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Saya menawarkan konsep ”kedamaian ekologis” yang banyak dipengaruhi oleh tulisan mengenai &lt;em&gt;ecologism, &lt;/em&gt;misal dari Andre Dobson. Konsep ”kedamaian ekologis” tentu berbeda dengan konsep yang telah dibawa Vandana Shiva mengenai ”ecological justice”, yang lebih menekankan pada ekologi sebagai tujuan (&lt;em&gt;ends&lt;/em&gt;) dan kondisi akhir yang akan dituju. Kedamaian ekologis lebih melihat ekologi sebagai sarana &lt;em&gt;(means&lt;/em&gt;) dengan prinsip utilitas tertentu untuk mencapai tujuan yang lebih besar yakni perdamaian. Perdamaian dapat dilihat sebagai perdamaian umat manusia dan upaya penjagaan ekologi sebagai salah satu cara untuk mempertahankan perdamaian umat manusia itu sendiri. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Tentunya untuk menjelaskan mengapa manusia perlu menjaga bumi memerlukan penjelaskan berbasis ekologisme tersendiri. Yang ingin saya jelaskan disini adalah bagaimana merubah pola pikir atau tata nilai masyarakat dunia dan pengambil keputusan di setiap negara mengenai ekologi. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Ekologi harus ditempatkan sebagai prioritas dalam hubungan antar negara dan menjadi cara pandang kehidupan sehari-hari (&lt;em&gt;way of life&lt;/em&gt;) yang didorong dari aktivitas di lingkup terkecil, misalnya individu, rumah tanggaa, atau masyarakat sipil. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Masyarakat sipil harus mendorong masyarakat melakukan kegiatan yang &lt;em&gt;pro-ecology, &lt;/em&gt;yang pasti secara otomatis juga &lt;em&gt;pro-poor &lt;/em&gt;karena perimbangan konsumsi dan penggunaan sumberdaya secara berkeadilan dan berkelanjutan, di samping secara ontologis ekologisme mensyaratkan kesetaraan dalam interaksi sosial (diilhami dari interaksi alam). Pembuat keputusan tidak dapat diharapkan mengubah pola pikirnya secara cepat, oleh karena itu gerakan masyarakat sipil di seluruh dunia haruslah semakin kompak untuk mendesakkan urgensi isu-isu lingkungan hidup. Pandangan Gramsci mengenai ”intellectual organic” adalah satu hal mendasar yang perlu diperhatikan dalam penyebaran ”ide” mengenai ekologisme ini.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;Satu hal terakhir, kedamaian ekologi bukanlah sebuah pandangan internasionalis, namun lebih merefleksikan pandangan humanis. Hasil akhir yang diharapkan bukan integrasi antar negara, atau organisasi tingkat negara. Namun, hasil akhir yang diharapkan adalah berkurangnya konflik atau imperialisme gaya baru akibat perebutan sumberdaya. Dengan berkurangnya karakter kompetisi dalam penggunaan sumberdaya ini diharapkan perdamaian lebih mudah terwujud dan kedamaian ekologi juga makin mudah terimplementasi. Secara praktis, diperlukan &lt;em&gt;multi-track diplomacy, &lt;/em&gt;terutama dari kalangan masyarakat, untuk mewujudkan gerakan humanis antara semua penghuni bumi untuk mempengaruhi kebijakan di tingkat internasional yang seharusnya makin ramah terhadap bumi. Dan ini, tentunya, memerlukan proses yang tidak singkat. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt;&lt;em&gt;Change the norms first, then change the institution or policy-related things. &lt;/em&gt;(*)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-3872485648040825874?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/3872485648040825874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=3872485648040825874' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/3872485648040825874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/3872485648040825874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/02/kedamaian-ekologis.html' title='Kedamaian Ekologis'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6P-UJgRB7I/AAAAAAAAAAw/LiAGMIUbWec/s72-c/TreeOfHeaven.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3972808694798397119.post-965548607471626175</id><published>2008-02-01T20:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T01:48:11.373-08:00</updated><title type='text'>Dari WTO ke Kesepakatan Perdagangan Bebas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6Pw5ZgRB3I/AAAAAAAAAAM/AKZ8YARDPac/s1600-h/unfair+trade.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6Pw5ZgRB3I/AAAAAAAAAAM/AKZ8YARDPac/s320/unfair+trade.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162234466786150258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="entry"&gt;          &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p align="justify"&gt;Perundingan di &lt;em&gt;World Trade Organization &lt;/em&gt;(WTO) mengalami kebuntuan. Kemacetan terjadi karena tidak ada kesepakatan yang bisa menjembatani antara negara berkembang dan negara maju dalam Pertemuan Negara G4 di Postdam, Jerman, minggu lalu. Begitulah berita yang menjadi &lt;em&gt;headline &lt;/em&gt;Harian Kompas, 23 Juni 2007. Jika mencermati lebih dalam berita tersebut, maka sebenarnya perundingan WTO sudah mulai mengalami kebuntuan atau &lt;em&gt;deadlock &lt;/em&gt;sejak pertemuan negara anggota G6 23 Juli 2006 lalu. Proses kebuntuan perundingan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi berlangsung secara perlahan, yang sudah dapat dirasakan ketika Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO di Cancun, Meksiko, tahun 2003. Lambannya jalan perundingan di WTO perlahan telah menggusur eksistensi rejim perdagangan di tingkat multilateral, yakni WTO, ke rejim perdagangan di tingkat bilateral atau antarregional.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Refleksi Kegagalan Perundingan WTO&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kegagalan perundingan negara G4 – yang beranggotakan Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), India, dan Brazil- merefleksikan beberapa hal. &lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;kegagalan tersebut merupakan kulminasi dari tawar-menawar antarnegara. Negara maju mendesak negara berkembang untuk menurunkan tarif bagi &lt;em&gt;non-agricultural market acsess &lt;/em&gt;(NAMA) atau akses pasar untuk produk non-pertanian (industri). Sedang negara berkembang meminta negara maju untuk mencabut subsidi pertanian yang memang merupakan “masalah klasik” dalam perdagangan internasional. Pada kenyataannya, negara berkembang diminta melakukan liberalisasi lebih banyak daripada negara maju. Misalnya, dalam formula Swiss (metode yang digunakan untuk menentukan besarnya pemotongan tarif), negara berkembang diminta memotong lebih besar, yakni sebesar 15%. Sementara negara maju hanya akan mengurangi tarif industrinya sebesar 10%. Ditambah lagi, dalam sektor pertanian, besarnya subsidi pertanian negara maju – terutama AS dan UE- adalah salah satu hal bukti bahwa perdagangan internasional tidak berjalan dengan adil. Lewat &lt;em&gt;Farm Security and Rural Development Act &lt;/em&gt;atau lebih dikenal dengan Farm Bill, AS melakukan proteksi pertanian – baik melalui subsidi ekspor dan subdisi domestik – sebesar 180 miliar dollar AS dari tahun 2002 sampai 2007 (Kinasih, 2006). Mengutip pernyataan yang dilontarkan Menteri Perdagangan Marie Pangestu dalam harian ini, “Kegagalan itu terjadi karena negara berkembang menilai tak ada tawaran baru dari negara maju,” maka besarnya nilai subsidi AS tersebut dapat menjelaskan hal tersebut. Pada tahun 2007 ini, ketika tuntutan kepada AS untuk mengurangi subsidinya, negara anggota WTO lain menilai potongan subsidi senilai 7,6 miliar dollar AS per tahun tersebut masih belum signifikan. (Puzin, 2007). Sedang AS bersikukuh tidak akan mengurangi subsidinya sebelum negara berkembang menurunkan tarif industrinya. Tarik-menarik yang tak kunjung usai ini membuat perundingan makin tidak berujung.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;kegagalan perundingan di WTO tersebut merupakan cerminan dari praktik perdagangan internasional yang tidak adil. Tindakan India dan Brazil meninggalkan ruang sidang memperlihatkan betapa “lelahnya” negara berkembang terus menghadapi permintaan negara maju. Sementara itu, seperti telah disebutkan di atas, negara maju saja enggan mencabut subsidi pertaniannya. Dalam level permainan yang tidak sama, akan sulit bagi negara berkembang untuk berkompetisi dengan negara maju dalam perdagangan produk pertanian jika subsidi masih diselipkan di dalam produk-produk pertanian negara maju. Padahal, sektor pertanian adalah &lt;em&gt;backbone &lt;/em&gt;atau tulang punggung bagi rakyat di negara berkembang, yang signifikan tidak hanya karena masalah perdagangan, namun juga karena faktor non-perdagangan terutama berhubungan dengan ketahanan pangan nasional, pembangunan pedesaan, kelestarian lingkungan, dan nafkah bagi jutaan petani miskin di negara berkembang.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Praktik perdagangan yang tidak adil ini direspon Indonesia dengan proposal &lt;em&gt;Special Product &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Special Safeguard Mechanism &lt;/em&gt;(SP-SSM) bersama-sama dengan kelompok negara berkembang G33 (Indonesia adalah pemimpin kelompok negara G33), yang pada intinya hendak melindungi komoditas sensitif pertanian, yang seharusnya dikeluarkan dari agenda liberalisasi pertanian. Akan tetapi, Direktur Jenderal WTO, Pascal Lamy, menolak proposal ini. Di tahun ini, dua kali Lamy bertandang ke Indonesia untuk melobi Indonesia dan negara berkembang, namun perundingan minggu lalu di Postdam makin menunjukkan betapa “lelahnya” negara berkembang atas praktik perdagangan yang tidak adil ini.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ketiga, &lt;/em&gt;macetnya perundingan WTO ini melahirkan satu tren baru dalam perdagangan internasional, yakni perjanjian kesepakatan perdagangan bebas (&lt;em&gt;free trade agreements &lt;/em&gt;- FTAs) yang makin mengemuka di antara negara-negara dunia. Para ahli perdagangan internasional mengindentifikasi hal ini dengan melihat maraknya perjanjian ekonomi bilateral ataupun regional. Dent (2006) menyebutkan di kawasan Asia-Pasifik, sekurangnya ada 67 kesepakatan perdagangan bebas yang sudah dan akan ditandatangani di tahun 2005. Kemunculan fenomena ini disebabkan terutama oleh macetnya perundingan di WTO sehingga negara tidak bisa mengambil manfaat perdagangan dari perundingan tersebut. Ketika rejim perdagangan di tingkat multilateral macet, negara –negara di dunia beramai-ramai mengalihkan strategi perdagangannya di tingkat bilateral atau regional.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Munculnya Kesepakatan Perdagangan Bebas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Munculnya kesepakatan perdagangan bebas atau FTAs ini sebenarnya memutar logika dasar perdagangan internasional. Melalui rejim multilateral, perdagangan internasional bersifat &lt;em&gt;non-discriminatory, &lt;/em&gt;artinya setiap negara mendapatkan perlakuan yang sama ketika berdagang dengan negara lain. Sedang, kebalikannya, rejim perdagangan bebas bilateral menghendaki adanya sifat &lt;em&gt;preferential &lt;/em&gt;bagi beberapa negara yang menjadi mitra perdagangan khususnya. Artinya, tidak setiap negara memiliki akses yang sama terhadap perdagangan di suatu negara. Logika yang semacam ini kemudian membuat negara berlomba melakukan FTAs karena ketakutan negara tidak mendapatkan akses pasar ke negara mitra dagangnya ketika mitra dagang tersebut melakukan FTAs dengan negara lain. Ketakutan itu meluas, dan akhirnya terjadi semacam silang singkarut dalam struktur perdagangan internasional, karena setiap negara tidak mau kalah bersaing dalam memperebutkan akses pasar ke negara lain. Bhagwati (2004) dan Dent (2006) menyebut hal ini dengan fenomena &lt;em&gt;spaghetty bowl &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;spaghetty&lt;/em&gt; yang saling menjulur tidak beraturan dan tumpang tindih dalam sebuah mangkuk yang diumpamakan sebagai dunia.Dalam posisi bilateral, negosiasi menjadi lebih fleksibel karena mempertimbangkan aspek-aspek yang ada di kedua negara. Menurut Khor (2005) karena fleksibilitas tersebut, biasanya FTAs mempunyai cakupan yang lebih luas daripada perdagangan bebas. Dalam kesepakatan bilateral dengan AS, misalnya, setiap negara didorong untuk melakukan liberalisasi investasi dengan membentuk &lt;em&gt;bilateral investment treaty &lt;/em&gt;(BIT). Karena cakupan yang lebih luas tersebut, banyak pengamat perdagangan internasional menyebut FTAs sebagai &lt;em&gt;WTO-plus. &lt;/em&gt;Artinya, tidak sekadar cakupan liberalisasi yang lebih luas, namun juga tingkat liberalisasi yang dilakukan terhadap suatu sektor juga makin tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sebenarnya, dalam WTO yang telah disepakati secara multilateral untuk diliberalisasi adalah sektor pertanian dan industri, serta penegakan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) terkait Perdagangan. Beberapa kesepakatan lain seperti sektor jasa atau investasi belum dapat disepakati, atau hanya disepakati secara plurilateral (beberapa negara saja) seperti belanja pemerintah (&lt;em&gt;government procurement&lt;/em&gt;). Namun, dalam FTAs, justru investasi yang menjadi “buldoser” atau “prasyarat awal” dilakukannya FTAs.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Selain itu, dalam FTAs tingkat liberalisasi juga semakin tinggi, misalnya, dalam HaKI terkait perdagangan. Dalam kesepakatan WTO, paten obat-obatan esensial bagi negara berkembang tidak harus dibayar, melainkan dapat menggunakan mekanisme lisensi wajib atau impor paralel. Secara sederhana, kedua mekanisme itu memungkinkan memperoleh obat-obatan bagi penyakit yang urgen, seperti HIV/AIDS, dengan lebih murah, atau dapat dikembangkan sendiri oleh industri farmasi nasional. Akan tetapi, dalam FTAs, hal tersebut tidak akan terjadi, karena negara maju memberikan standar yang lebih tinggi, seperti pembatasan impor paralel, paten atas zat hayati, atau perpanjangan masa paten (Barizah, dalam Chandra, 2007).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dengan adanya rejim perdagangan bilateral dan antarkawasan yang berkarakter WTO-plus ini, maka terlihat bahwa proses liberalisasi perdagangan kini makin berjalan cepat. Proses perundingannya pun lebih cepat dibandingkan dengan proses sebuah negara masuk ke dalam WTO. Artinya, dalam hal merubah kebijakan nasional, FTAs ini dapat menjadi cepat dan efektif dibandingkan cara-cara perundingan multilateral yang banyak terdapat konflik kepentingan antarnegara; bukan saja antara negara maju dan negara berkembang, namun juga antara sesama negara maju atau sesama negara berkembang.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Indonesia sendiri, dalam kerangka FTAs, telah menyepakati ASEAN-China FTA, dan yang sedang dalam negosiasi adalah Indonesia-Jepang &lt;em&gt;Economic Partnership Agreement &lt;/em&gt;(EPA), India-ASEAN FTA, dan dalam tahap pra-negosiasi adalah ASEAN-UE FTA dan Indonesia-AS FTA. Maksud dari pra-negosiasi adalah kedua negara atau kawasan sedang menjajaki ke arah FTAs, baik dalam mempersiapkan modalitas kerjasama atau melakukan prasyarat pembentukan FTAs.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;WTO, Kesepakatan Perdagangan Bebas, dan Keadilan Perdagangan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemenangan Partai Demokrat pada Pemilu Kongres AS tahun ini membawa implikasi bagi berlangsungnya Putaran Doha – putaran perundingan WTO saat ini. Berkuasanya Partai Demokrat di parlemen akan mengganti kebijakan administrasi otoritas perdagangan (&lt;em&gt;fast track&lt;/em&gt;) AS awal bulan Juli ini. Sejauh ini Partai Demokrat menekankan pada standar lingkungan hidup dan buruh yang akan berpengaruh terhadap kebijakan perdagangannya. Oleh karena itu, apakah Kongres akan memperpanjang &lt;em&gt;fast track &lt;/em&gt;akan menjadi pertanyaan penting bagi keberlangsungan Putaran Doha. Jika AS bersedia menggeser posisinya dan memberikan tawaran baru yang cukup meyakinkan negara berkembang, maka mungkin akan lain ceritanya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Namun, beralihnya pertarungan perdagangan internasional ke tingkat bilateral dan regional juga tidak ditanggapi secara optimis oleh beberapa kalangan. Karakter &lt;em&gt;WTO-plus&lt;/em&gt; malah akan menyudutkan negara berkembang yang memang mempunyai level perekonomian di bawah mitra dagangnya. Cerita mengenai bergabungnya Meksiko ke dalam &lt;em&gt;North American Free Trade Agreement &lt;/em&gt;(NAFTA) tahun 1992 dapat menjadi contoh bagaimana interaksi yang asimetris atau tidak setara antara negara berkembang dan negara maju menjadi semakin asimetris ketika Meksiko bergabung dalam NAFTA. Pada tahun 1998, dilaporkan Meksiko mengalami defisit perdagangan dan produk pertanian unggulannya tidak mendapat akses pasar yang besar ke AS (Scott, 1998). Bahkan, studi yang dilakukan Bank Dunia menyatakan bahwa sepuluh tahun setelah bergabungnya Meksiko di NAFTA, Meksiko mendapat hasil yang mengecewakan. Tidak hanya Meksiko, setahun setelah Australia melakukan FTA dengan AS di tahun 2005, dilaporkan mengalami defisit perdagangan (Chandra dan Kinasih, dalam Chandra, 2007).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ketika tren perdagangan internasional beralih, masalah substansial dalam perdagangan internasional masih belum teratasi juga, yakni mewujudkan perdagangan yang adil. Grieco (1995) mengatakan bahwa selalu ada tantangan dalam kerjasama atau organisasi internasional yaitu karakter anarki dari masing-masing negara. Anarki berarti tidak ada pengaturan tunggal yang bisa mengatur perilaku semua negara. Oleh karena watak anarki inilah, kata “keadilan” menjadi sesuatu hal yang sulit dicapai dalam tatanan internasional. Setiap negara berusaha memaksimalkan kepentingannya, dan ini mengantarkan pada upaya pencapaian kekekalan hegemonik negara. Dengan keadaan seperti ini, posisi negara berkembang akan semakin terpojok dan &lt;em&gt;fair trade &lt;/em&gt;hanya akan menjadi slogan serta gerakan utopia semata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebuntuan Putaran Doha di Postdam ini, pada akhirnya, dapat menjadi momen yang tepat bagi negara berkembang untuk meneriakkan perdagangan yang adil antar negara dan memperhatikan agenda pembangunan negara berkembang, karena Putaran Doha sendiri mengusung semangat &lt;em&gt;Doha Development Agenda, &lt;/em&gt;bukan &lt;em&gt;hegemonic agenda. &lt;/em&gt;(*)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;                &lt;/div&gt;               &lt;p&gt;Categories:&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3972808694798397119-965548607471626175?l=junosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junosreflection.blogspot.com/feeds/965548607471626175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3972808694798397119&amp;postID=965548607471626175' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/965548607471626175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3972808694798397119/posts/default/965548607471626175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junosreflection.blogspot.com/2008/02/dari-wto-ke-kesepakatan-perdagangan.html' title='Dari WTO ke Kesepakatan Perdagangan Bebas'/><author><name>juno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400666935580384589</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-atStHTm1ARo/TV1knzOQpMI/AAAAAAAAAMY/LaBfuMwzDaQ/s220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LJGjoWkLT0Q/R6Pw5ZgRB3I/AAAAAAAAAAM/AKZ8YARDPac/s72-c/unfair+trade.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
