Minggu, 13 September 2009

Jendela

Jendela

Damar menatap jendela rumahnya dalam-dalam. Bulan depan adalah kelulusan sekolahnya. Dari jendela rumahnya itu terlihat bukit-bukit kapur dengan warna merona becampur tanah. Kadang kala angin menghembus semak liar yang membelit kapur itu. Jika anginnya cukup keras bertiup, terkadang beberapa pasir sempalan kapur rapuh dan terbang ke bawah. Menaburi atap rumah-rumah yang ada di bawahnya.

Bukit kapur adalah pemandangan yang mungkin akan Damar rindukan. Bulan depan pula Damar akan hijrah ke Kota Jogja dari desa tercintanya, Rongkop Gunung Kidul. Damar sebenarnya masih ingin melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMU, tapi beberapa bulan lalu Bapak sakit. Bapak tidak bisa bekerja sebagai kondektur bus lagi.

Seorang teman Bapak telah datang ke rumah sebulan lalu. Teman Bapak membawakan buah-buahan yang sangat jarang Damar lihat di kampung. Teman Bapak yang baik itu menawarkan Damar bekerja di rumah sakit. Damar adalah anak tertua, sehingga layak jika Ibu memanggil Damar untuk dapat memenuhi panggilan kerja itu.

“Damar wis gedhe. Pinter bocahe, neng kelas rangking siji. Awake yo rosa, dadi iso kuwi Kang, nek dikon kerjo neng rumah sakit,”[1] ujar Ibu kepada Pak Walidi, teman Bapak yang menawarkan pekerjaan itu.

Dadi ngene lho, Yu. Anik kuwi rak wis meh lahiran, bojone yo ngongkon leren. Daripada Anik nggolek wong liya, mending lak yo tak kongkon anakmu wae to yo. Jenenge kok yo apik men..Damar,”[2] jawab Pak Walidi sambil terkekeh. Rupanya ia senang akan segera mendapatkan cucu pertamanya dari Anik, anak perempuannya.

Lha mengko sengeni opo ora? Damar kuwi sik lulusan SMP. Nek syarate lulusan SMA, yo durung. Tapi bocahe pinter lho...”[3] Ibu Damar mewanti-wanti Pak Walidi.

Tenang wae, Yu. Sing penting jujur. Anik wis ngomong karo perawate, jare ra popo. Wis pokoke tenang wae, “[4] begitu Pak Walidi menenangkan.

Dan bulan depan harapan dan doa Ibu di atas sajadah menjadi kenyataan. Manajemen Rumah Sakit memanggil Damar bersama dengan Perawat yang merekomendasikan Damar, nama yang didapatnya dari Anik, anak Pak Walidi yang menjadi petugas kebersihan sebelumnya.

Angan-angan Damar untuk kembali ke bangku sekolah pupus. Tak ada pilihan lain yang harus ditempuhnya. Semua itu sudah jalan Tuhan, begitu ia menirukan filosofi orang-orang kampungnya, terutama mengenai pulung[5].

Ia tidak ingin ibunya terlalu lama menatap jendela rumahnya dalam-dalam di malam hari. Sebab, jika ibunya melihat ada cahaya jingga yang seolah jatuh di atap rumahnya, maka ‘virus’ pulung gantung mungkin akan menyebar di keluarganya. Damar tak ingin. Tiga orang adiknya yang masih kecil membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Walau pun sekarang sekolah dijanjikan gratis oleh pemerintah, tak mungkin pula tak ada periuk nasi yang mengisi perut mereka.

Sebelum ia meninggalkan Rongkop, ia menatap lagi jendela rumahnya dalam-dalam. Berharap jendela itu bisa mengabarkan berita baik, bukan sebaliknya. Sebulan sekali ia akan bisa berjumpa kembali dengan bukit-bukit kapur ini.

Dan akhirnya bus dari Pantai Kukup membawanya ke Terminal Prambanan hari ini. Dari Rongkop, perjalanan ke Jogjakarta ditempuh selama hampir dua jam.

“Jadi, kamu harus tahu tanggung jawabmu disini, Damar. Pagi hari dan sore hari kamu mengepel Paviliun Melati dan Paviliun Anggrek. Termasuk kamar pasien. Ingat ! Satu per satu. Kamar mandinya juga harus bersih. Siang harinya kamu membawa semua pakaian dan seprai pasien ke ruang laundry. Dari ruang laundry juga harus dibawa cucian yang sudah bersih. Jangan lupa juga menyiram taman di depan Poliklinik. Jangan sampai terlambat. Bu Naya yang akan mengawasi kalian. Kalau terlambat, ada sanksinya.” Kepala Perawat memberi instruksi pada Damar. Damar hanya manggut-manggut.

Tak ada lagi permainan mendaki bukit kapur, atau permainan kelereng. Yang Damar hadapi sekarang hanyalah sapu dan ember. Dan bau pewangi lantai rumah sakit yang khas. Lantai yang Damar injak bukan lantai sekolah yang membawa cita-citanya tinggi ke langit, tapi lantai rumah sakit yang dibasahi oleh darah dan cairan infus.

Delapan bulan berlalu. Damar mulai dapat menyesuaikan diri di Jogjakarta. Delapan kali pula ia pulang ke rumah. Ibunya mengeluhkan keringnya sumber air di Rongkop. Sumur Bribin dan Seropan yang ditemukan di kecamatan tidak bisa menopang kebutuhan air warganya. “Miline saumet-umet,”[6] kata Ibu Damar. Musim panceklik yang panjang memang sangat menyengsarakan Ibunya. Ia harus turun dan mendaki bukit untuk mendapatkan air bersih. Sedangkan, kalau untuk membeli air bersih, ia harus mengeluarkan uang seratus ribu rupiah untuk satu tangki air bersih. Pengusaha air bersih menjual air yang didapat dari Pracimantoro, Wonogiri. Uang kiriman Damar bisa-bisa habis jika Ibu terus menerus membeli air dari pengedar. Pengedar yang bersenang-senang di atas kekeringan. Bisnis besar, kata mereka.

Pundak Ibu Damar sekarang lebih perkasa dari pundak seorang pelajar remaja putra di kota-kota. Pundaknya sudah terampil untuk mengambil air yang didapat dari sumber air berjarak 15 kilometer dari rumahnya. Ibu dibantu Nur, anak keduanya yang hanya selisih satu tahun dari Damar, mengangkut air. Bapak masih terbaring sakit di rumah. Biaya pengobatan setahun lalu masih terasa cukup besar, sehingga Ibu memutuskan memulangkan Bapak.

Empat bulan kemudian, Damar sudah malas pulang. Wesel di Kantor Pos membuatnya lebih nyaman untuk mengantarkan uang ke kampung halamannya. Jogja lebih menarik buatnya sekarang. Kafe, mall, dan pertunjukan musik bertebaran di sudut kota. Kerlip cahaya lampu-lampu pertokoan, keramaian di pusat kota, serta dispenser air yang dirasanya sangat praktis telah membuatnya malas pulang ke Rongkop.

**

Jendela rumah Damar membawa kabar tidak baik hari ini. Bapak terbatuk-batuk, kadang mengeluarkan darah. Digerogoti TBC dan kelumpuhan membuat Bapak tidak leluasa beraktivitas. Kualitas dan kuantitas air di Rongkop yang sangat buruk membuat TBC Bapak semakin parah. Dan batuknya sekarang makin menjadi.

Nur, tulung tulis surat nggo Masmu, kon ndang bali. Bapak gerahe wis nemen, iso nggak digowo neng rumah sakit nggone Masmu nyambut gawe? Nek wis, kekno Pak Sugi sing kulino bolak-balik Jogja. Nek Pak Sugi kerso, surate tulung dicaoske neng Sardjito, “[7] begitu instruksi Ibu kepada Nur dengan tergesa.

Ngko nek pareng, nyilih handphone Pak Sugi wae,”[8] ucap Nur sambil mencium tangan Ibunya. Berpamitan menuju rumah Pak Sugi di bawah bukit. Ia membawa buku sekolahnya serta sebuah pensil di tangan. Nur bergegas menuju ke rumah Pak Sugi.

**

Damar memencet dispenser warna biru. Segera air dingin menyentuh tenggorokannya. Jauh lebih segar daripada air yang dirasakannya di rumah. Badannya sangat pegal. Kemarin, banyak kotoran yang ia bersihkan di kamar mandi. Sesungguhnya ia sangat tidak menyukai pekerjaan ini. Namun, pekerjaan ini yang membuat orang tuanya bertahan di Gunung Kidul. Walaupun gaji yang ia peroleh kecil, namun pekerjaan ini memberinya banyak kesempatan.

Ia masih terbayang jendela di rumahnya yang menawarkan pemandangan perbukitan kapur. Jalur yang ia lalui untuk bersekolah. “Kapan aku bisa sekolah lagi?” ratap Damar dalam hati.

Tiba-tiba pintu pantry terbuka. Nisa, rekan kerjanya, membawa kabar bagi Damar.

“Damar, ada telepon dari adikmu.”

“Hah? Dimana?” Damar terkejut sekaligus heran.

“Di ruangan Bu Naya. Buruan diangkat. Penting banget kayaknya,” jawab Nisa.

Bergegas Damar menuju ruangan supervisornya.

“Assalamu’alaikum Nur. Ono opo?[9]

Mas, Bapak gerahe soyo ndadi. Ndang bali, Mas. Bapak iso ora digowo neng rumah sakit nggonmu?”[10]

Astaghfirullah. Lha trus sing mbayar sopo?”[11]

“Yo maturo karo Bosmu. Pokoke kuwi ngomongo karo rumah sakit , iso ora iso, ndang bali. Sik yo Mas, soale iki aku nyilih handphone Pak Sugi.[12]

Krek. Telepon ditutup.

Hati Damar tidak menentu. Ia mencari Nisa untuk memperoleh dukungan. Ia meminta Nisa menemaninya menghadap Bu Naya. Dan sekarang ia bersama Nisa telah berada di depan Ibu Naya.

Ibu Naya mengatakan ia tidak bisa memperjuangkan nasib Bapak Damar. Ia menyarankan Damar untuk segera mengurus perpanjangan Askeskin ke Puskesmas di kampungnya. Kemudian, Damar harus membawa Askeskin itu ke UGD atau Poliklinik, dan mungkin menghadap dokter Aziz, kepala UGD.

Damar mengejar bus terakhir hari ini ke Rongkop. Bus yang akan mengantarkannya ke jendela rumahnya.

Damar menjumpai ayahnya terbaring lunglai tidak berdaya di rumah. Beberapa obat-obat alternatif yang dibawakan oleh rekan sekerjanya di kampung cukup menenangkan Bapak malam itu.

Dan malam itu, Damar memasang tirai di jendela rumahnya. Tirai yang berasal dari kain seprai yang tidak terpakai di rumah sakit. Kain itu sengaja ia bawa bersama dengan beberapa barang yang tersisa di rumah sakit, seperti kaleng-kaleng biskuit yang ia temukan di kamar VIP. Orang-orang kaya itu malas membawa makanan yang dibawa tamu-tamu mereka selama di rumah sakit.

Tirai itu ia pasang agar Ibu tidak memandangi langit dari jendela rumahnya. Ia khawatir, halusinasi Ibunya akan membawa alam pikirannya pada sinar jingga yang meluncur di atas rumahnya.

“Damar nggak mau bekerja lagi di Jogja. Biar Damar yang jagain Ibu sama Bapak. Siapa yang akan mengambil air di bawah, siapa yang akan mencari kayu? “ kata Damar sambil menatap Bapaknya.

“Bulan depan Nur sudah selesai SMP. Biar Nur yang menggantikan Mas Damar kerja di rumah sakit,” lanjut Nur pelan.

Ibu Damar tak kuasa menahan tangis.

Damar sekarang mengerti mengapa kehidupan yang ia lihat dari jendela rumahnya di Gunung Kidul selalu sepi, senyap, dan keras seperti batu kapur. Itulah makna kehidupan bagi Damar yang tinggal di Gunung Kidul. Sepi adalah tangis tak berkesudahan karena lingkaran kemiskinan.

Senyap adalah doa tak berujung untuk lepas dari sengsara. Dan keras karena harapan itu telah membatu.

Namun Jogjakarta tetap riuh dengan musik dan kafe.

***

HNK- Jakarta, 13 September 2009



[1] “Damar sudah besar. Anaknya pandai, di kelas rangking satu. Badannya juga kuat, jadi bisa disuruh kerja di rumah sakit.”

[2] “Jadi begini, Kak. Anik itu sudah mau melahirkan, suaminya juga menyuruhnya istirahat. Daripada Anik mencari orang lain, lebih baik meminta anakmu saja (untuk menggantikannya). Namanya bagus juga, Damar.”

[3] “Nanti dimarahi apa nggak? Damar itu lulusan SMP. Kalau syaratnya lulusan SMU, Damar belum bisa. Tapi anaknya pandai, lho.”

[4] “Sudah tenang saja, Kak. Anik sudah bilang ke perawat di rumah sakit itu. Dan kata dia tidak apa-apa. Sudah pokoknya tenang saja.”

[5] Pulung artinya wahyu. Sebagian masyarakat Gunung Kidul percaya akan sebuah wahyu gaib berbentuk bola api berkobar-kobar dan berekor. Jika bola api itu berwarna biru, maka dipercaya itu adalah pertanda baik. Jika bola api berwarna jingga, dipercaya bagi mereka yang rumahnya kejatuhan bola api jingga, maka itu adalah takdir Tuhan untuk mengakhiri hidupnya. Keyakinan semacam ini muncul di Gunung Kidul karena banyaknya fenomena gantung diri di Gunung Kidul. Data dari Kompas menyebutkan 9 dari 1000 orang di Gunung Kidul mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Angka ini cukup besar jika dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, yang terdapat 2 dari 1000 orang yang melakukan bunuh diri dengan jalan gantung diri. Buku yang ditulis Durkheim, sosiolog Prancis, yakni Suicide menyebutkan bahwa tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Jika sebagian masyarakat Gunung Kidul, menganggap bunuh diri sebagai wahyu, maka beberapa penelitian, seperti Darmaningtyas (2001) menyebutkan bahwa faktor ekonomi yang membuat mereka mengakhiri hidupnya.

[6] “Mengalir sedikit sekali.”

[7] “Nur, tolong tulis surat untuk kakakmu. Minta dia segera pulang. Bapak sakit keras. Bisa nggak Bapak dirawat di rumah sakit tempat kakakmu kerja? Tolong titipkan surat itu kepada Pak Sugi yang sering bolak-balik ke Jogja. Kalau Pak Sugi berkenan, suratnya tolong disampaikan ke RS Sardjito.”

[8] “Nanti kalau boleh, ditelepon saja meminjam handphone Pak Sugi.”

[9] “Ada apa?”

[10] “Mas, Bapak sakit keras. Lekas pulang ke rumah. Bisa tidak Bapak dirawat di tempat kerja Mas?”

[11] “Yang bayar siapa?”

[12] “Kamu bilang sama Bos kamu. Pokoknya kamu bilang ke pihak rumah sakit. Bisa atau tidak, lekas pulang ke rumah. Sudah ya Mas, soalnya saya memakai handphone Pak Sugi.”